Jurus Ganesha Operation Bertahan 42 Tahun Cetak Siswa Berprestasi

Berita5 Views

DermayuMagz.com – Lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation telah membuktikan ketangguhannya dalam dunia pendidikan nonformal di Indonesia selama 42 tahun. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kemampuan mereka untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman sembari menjaga konsistensi kualitas.

Dalam dunia pendidikan yang terus dinamis, kemampuan untuk mengikuti setiap perubahan menjadi kunci utama. Ganesha Operation, yang kini telah memasuki usia lebih dari empat dekade, dinilai berhasil dalam mempertahankan kualitasnya sekaligus beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Direktur Utama Ganesha Operation, Prof Dr Ir Bob Foster, MM, menyatakan bahwa pencapaian yang diraih hingga saat ini bukanlah akhir, melainkan sebuah pijakan untuk terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas bagi dunia pendidikan.

Beliau mengungkapkan rasa gembiranya atas penghargaan yang diterima dari FPLKP, yaitu Visionary Executive Awards 2026. Penghargaan ini bukan hanya untuk dirinya secara pribadi, tetapi juga sebagai pengakuan atas kontribusi lembaga dalam meningkatkan prestasi pendidikan di masyarakat.

Menurut Bob Foster, penghargaan ini menjadi pemicu bagi Ganesha Operation untuk terus meningkatkan kualitas layanan. Ia menekankan pentingnya inovasi yang berkelanjutan agar lembaga pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Perjalanan 42 tahun Ganesha Operation dibangun atas prinsip continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan yang diterapkan secara konsisten di seluruh tingkatan organisasi. Selain itu, filosofi tegas change or die juga ditanamkan, yang berarti lembaga pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, kebutuhan siswa, dan perkembangan industri.

Bob Foster menegaskan bahwa tanpa perubahan, sebuah lembaga akan tertinggal. Oleh karena itu, Ganesha Operation selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar tetap relevan.

Menghadapi tantangan di industri pendidikan, Bob Foster juga menyoroti pentingnya membangun loyalitas tenaga pengajar. Tingginya tingkat pergantian tenaga kerja memang menjadi tantangan umum di sektor ini.

Namun, Ganesha Operation memiliki pendekatan yang berbeda dengan menjadikan pengajar sebagai bagian dari keluarga besar institusi. Bagi Ganesha Operation, pengajar bukan hanya sekadar sumber daya, melainkan bagian dari keluarga yang memiliki visi yang sama dalam membangun pendidikan.

Pendekatan ini diwujudkan melalui komunikasi yang intensif dan pembinaan berkelanjutan, sehingga para pengajar memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap lembaga. Hal ini juga berkontribusi pada pembentukan mental juara pada siswa.

Selain fokus pada pengajar, Ganesha Operation juga memberikan perhatian besar pada metode pembelajaran. Bob Foster menegaskan bahwa keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh materi pelajaran, tetapi juga oleh pembentukan mental dan motivasi.

Baca juga di sini: Pemkot Samarinda Berinovasi Pendanaan di Tengah Keterbatasan Anggaran

Ia memperkenalkan formula belajar khas Ganesha Operation: belajar, berlatih, dan bertanding. Konsep ini dirancang untuk membangun pemahaman, mengasah keterampilan, sekaligus menumbuhkan mental kompetitif siswa.

“Belajar untuk memahami konsep, berlatih untuk mengasah kemampuan, dan bertanding untuk membangun mental juara,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa mentalitas juara merupakan faktor penting dalam mendorong siswa meraih prestasi, baik di sekolah maupun dalam seleksi masuk perguruan tinggi.

Bob Foster bahkan menanamkan prinsip ‘to live is to compete‘ sebagai dorongan agar siswa siap menghadapi persaingan secara sehat. Prinsip ini menjadi landasan penting dalam proses belajar mengajar.

Di era digital saat ini, Ganesha Operation juga mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajarannya. Bob Foster menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendidikan.

“Teknologi bukan tujuan, tetapi alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” katanya. Melalui pemanfaatan sistem digital, siswa dapat mengakses materi belajar secara fleksibel, kapan saja dan di mana saja.

Selain itu, pendekatan pembelajaran menjadi lebih personal, menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Bob Foster menambahkan bahwa digitalisasi memungkinkan lembaga pendidikan menerapkan sistem pembelajaran berbasis hasil (output driven), sehingga capaian siswa dapat diukur secara lebih terarah dan terukur.

Lebih jauh, ia mendorong lembaga kursus dan pelatihan lain untuk tidak ragu bertransformasi. Menurutnya, keberanian untuk beradaptasi menjadi kunci agar lembaga pendidikan tetap dipercaya oleh masyarakat.

“Fokus utama kita adalah kebutuhan siswa. Yang kita siapkan bukan hanya pelajaran, tetapi masa depan mereka,” ungkapnya. Visi ini menjadi landasan utama dalam setiap program yang dijalankan.

Menutup pernyataannya, Bob Foster menegaskan bahwa visi besar pendidikan adalah membangun generasi unggul yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa. Ia optimis bahwa dengan komitmen dan inovasi yang berkelanjutan, lembaga pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang dan memiliki daya saing tinggi.

“Kalau kita konsisten membangun kualitas dan kepercayaan, maka lembaga pendidikan akan terus tumbuh dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)