Bahlil Akan Tingkatkan Produksi Batu Bara Seiring Kenaikan Harga

Bisnis2 Dilihat

DermayuMagz.com – Pemerintah Indonesia berencana untuk melonggarkan kuota produksi batu bara. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kenaikan harga komoditas tersebut di pasar global.

Kenaikan harga batu bara dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa relaksasi kuota produksi akan dilakukan secara terukur.

Kebijakan ini disesuaikan dengan perkembangan harga batu bara di pasar internasional. Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan meningkatkan produksi jika harga batu bara sedang bagus.

“Kami akan melakukan relaksasi yang terukur. Artinya, kalau harga (batu bara) bagus, kami akan meningkatkan produksi,” ujar Bahlil dalam sebuah konferensi pers di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Senin, 8 Juni 2026.

Menurutnya, penyesuaian produksi dengan kondisi pasar ini merupakan langkah strategis. Ketika harga batu bara mengalami kenaikan, pemerintah menilai bahwa produksi juga perlu ditingkatkan. Tujuannya agar manfaat ekonomi dari kenaikan harga tersebut dapat dirasakan secara lebih luas.

Bahlil menambahkan bahwa kenaikan harga batu bara menjadi sebuah peluang. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha maupun negara untuk meningkatkan pendapatan negara. Oleh karena itu, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga batu bara secara cermat.

Pemantauan ini penting sebelum menentukan besaran tambahan produksi yang akan diizinkan. “Harga bagus, produksi kita juga harus banyak. Supaya pengusahanya untung, negara untung, rakyatnya juga bisa mendapat dampak positif,” jelas Bahlil.

Rencana relaksasi produksi ini muncul setelah Harga Batu Bara Acuan (HBA) menunjukkan tren kenaikan. Kementerian ESDM menetapkan HBA untuk periode pertama Juni 2026 sebesar US$ 121,83 per ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan HBA pada periode kedua Mei 2026 yang tercatat US$ 116,32 per ton.

Meskipun demikian, Bahlil menyatakan bahwa pemerintah belum menentukan secara spesifik besaran tambahan kuota produksi yang akan diberikan kepada perusahaan tambang batu bara. “Nanti kami lihat perkembangannya,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan target produksi batu bara nasional untuk tahun 2026. Target tersebut dipatok sekitar 600 juta ton. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi produksi pada tahun 2025 yang mencapai sekitar 790 juta ton.

Pemangkasan target produksi ini dilakukan karena pemerintah mengamati adanya ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan batu bara di pasar internasional sepanjang tahun 2025. Kondisi tersebut sempat memberikan tekanan pada harga batu bara, menurunkannya ke level yang relatif rendah.

Lonjakan harga batu bara dalam beberapa bulan terakhir tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pada pertengahan tahun 2025, harga batu bara sempat mengalami penurunan hingga mencapai US$ 97,65 per ton.

Namun, situasi berubah secara signifikan setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini menyebabkan gangguan pada rantai pasok energi dunia. Akibatnya, distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) terganggu.

Hal ini mendorong peningkatan permintaan terhadap sumber energi alternatif, termasuk batu bara. Kondisi tersebut menyebabkan harga batu bara melonjak drastis. Dalam waktu sekitar satu pekan pada awal Maret 2026, harga batu bara naik dari kisaran di bawah US$ 120 per ton menjadi di atas US$ 130 per ton.

Pemerintah menilai bahwa perkembangan ini perlu direspons dengan cepat. Tujuannya adalah agar Indonesia dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas global. Namun, hal ini tetap harus dilakukan tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Oleh karena itu, kebijakan relaksasi produksi akan diterapkan dengan hati-hati. Pertimbangan meliputi kondisi pasar, kebutuhan energi dalam negeri, serta kepentingan jangka panjang sektor pertambangan nasional. Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara peluang ekonomi dengan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab.