DermayuMagz.com – Jefan Nathanio dan Mamang Osa berbagi pandangan menarik mengenai topik horor lokal, khususnya membahas Kuntilanak Hitam yang digambarkan dalam film terbaru mereka, “Dukun Magang”. Film komedi horor ini mengeksplorasi ketakutan yang akrab dengan masyarakat Indonesia, sekaligus mencoba mendekati perspektif generasi muda.
Jefan Nathanio, yang memerankan karakter Raka dalam film “Dukun Magang”, merasa memiliki kesamaan dengan tokoh yang ia bawakan. Raka digambarkan sebagai mahasiswa yang skeptis terhadap hal-hal mistis, sebuah sikap yang dianggap Jefan sangat mencerminkan pandangan banyak anak muda Gen Z saat ini.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Jefan mengungkapkan bahwa generasi muda seringkali kurang percaya pada hal-hal gaib atau klenik. Kemiripan ini menjadi salah satu aspek yang ia bawa dalam memerankan Raka, karakter yang dituntut untuk mencari solusi skripsi di tengah situasi yang penuh dengan unsur mistis.
Bersama Mamang Osa, Jefan sepakat bahwa hantu-hantu lokal Indonesia memiliki tingkat keseraman yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk halus dari luar negeri. Mereka berpendapat bahwa penggambaran hantu-hantu khas Indonesia dalam film horor lokal seringkali lebih berhasil membangkitkan rasa takut.
Mamang Osa secara spesifik menyebut pocong sebagai salah satu hantu lokal yang paling menakutkan baginya. Ia menyadari bahwa pocong memiliki kaitan erat dengan tradisi kematian di Indonesia, namun penggambaran visualnya dalam film horor membuatnya merasa ngeri.
Ia menambahkan bahwa hantu-hantu populer di Indonesia hanya berkisar pada beberapa entitas saja, seperti pocong, kuntilanak, dan genderuwo. Menurutnya, tuyul lebih tepat dianggap sebagai alat untuk mencuri, bukan sebagai setan itu sendiri. Wewe gombel dan kuyang juga termasuk dalam daftar makhluk halus yang dikenal.
Namun, di tengah diskusi tentang hantu, Jefan Nathanio menyodorkan perspektif yang berbeda. Ia berpendapat bahwa manusia yang memiliki niat jahat dan tidak berperikemanusiaan justru lebih menakutkan daripada entitas gaib sekalipun.
Menurut Jefan, manusia dengan kelakuan buruk dapat melakukan hal-hal yang jauh lebih merusak, termasuk menyakiti dan bahkan menghilangkan nyawa sesama. Ia menekankan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh manusia bisa lebih mengerikan daripada sekadar ketakutan yang ditimbulkan oleh hantu.
Mamang Osa pun menyetujui pandangan Jefan ini. Ia bahkan melontarkan sebuah lelucon bahwa terkadang setan pun mungkin berpikir untuk meniru kejahatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya persepsi tentang ketakutan, yang tidak hanya terbatas pada ranah supranatural.
Jefan melanjutkan argumennya dengan mengatakan bahwa setan mungkin hanya bisa memberikan kejutan atau rasa takut sesaat, tetapi tidak mampu melakukan tindakan yang lebih jauh. Sebaliknya, manusia yang berhati jahat bisa saja melakukan penipuan atau tindakan merugikan lainnya terhadap orang terdekat mereka.
Pernyataan ini kemudian disambut oleh Mamang Osa dengan analogi tentang para koruptor, yang dianggapnya sebagai contoh nyata dari manusia yang berbuat jahat dan merugikan banyak orang. Ini semakin menegaskan bahwa bahaya dari kejahatan manusia bisa jauh lebih luas dampaknya.
Diskusi kemudian beralih kembali ke elemen horor dalam film. Jefan mengakui bahwa beberapa makhluk seperti leak dan genderuwo dengan mata merah memang terlihat sangat mengerikan.
Namun, pertanyaan kemudian mengarah pada sosok Kuntilanak Hitam yang menjadi salah satu elemen kunci dalam poster film “Dukun Magang”. Keberadaannya menimbulkan rasa penasaran tentang bagaimana entitas ini akan digambarkan dan peranannya dalam cerita.
Jefan Nathanio memberikan sedikit bocoran mengenai latar belakang Kuntilanak Hitam dalam film tersebut. Ia menjelaskan bahwa kemunculan entitas ini berawal dari pertemuan Raka dengan Mbah Djambrong. Mbah Djambrong digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan Desa Kalimati dari gangguan gaib.
Namun, ketegangan cerita meningkat ketika Raka secara tidak sengaja memicu kemarahan Kuntilanak Hitam. Jefan mengungkapkan bahwa Kuntilanak Hitam merupakan sebuah entitas gaib yang selama ini terkurung di Desa Kalimati, dan tindakan Raka menjadi pemicu lepasnya entitas tersebut.
Film “Dukun Magang” sendiri dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Juni 2026. Selain Jefan Nathanio dan Mamang Osa, film ini juga dibintangi oleh Hana Saraswati, Fajar Nugra, dan beberapa aktor lainnya, di bawah arahan sutradara Chiska Doppert.
Kisah Raka yang terjebak di Desa Kalimati bersama teman-temannya, Sekar dan Boiman, menjanjikan perpaduan antara komedi dan horor. Penonton akan diajak menyaksikan bagaimana karakter-karakter ini menghadapi berbagai tantangan mistis, termasuk ancaman dari Kuntilanak Hitam yang baru saja bangkit.
Film ini diharapkan dapat menghibur sekaligus memberikan sedikit pencerahan tentang bagaimana generasi muda melihat fenomena supranatural, serta menyoroti kembali kekayaan cerita rakyat horor Indonesia yang selalu memiliki tempat tersendiri di hati penonton.
Dengan perpaduan genre yang menarik dan tema yang relevan dengan penonton muda, “Dukun Magang” berpotensi menjadi salah satu film horor komedi yang patut dinantikan di layar lebar tahun ini.






