DermayuMagz.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dijadwalkan akan meluncurkan penggunaan biodiesel B50 secara serentak pada 1 Juli 2026. Langkah ini merupakan bagian integral dari strategi nasional untuk meningkatkan ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak jenis solar.
Biodiesel B50 sendiri adalah campuran bahan bakar yang terdiri dari 50 persen solar, baik dari fosil maupun nabati, dan 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang umumnya diolah dari minyak sawit. Kebijakan ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pemilik kendaraan diesel, terutama bagi mereka yang menggunakan mobil-mobil lawas.
Pertanyaan krusial yang muncul adalah, apakah mobil diesel generasi lama akan aman menggunakan bahan bakar dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi ini?
Menjawab kekhawatiran tersebut, Yannes Martinus Pasaribu, seorang pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), memberikan pandangannya. Menurut Yannes, secara fundamental, kendaraan diesel yang saat ini beredar di pasaran memiliki kapabilitas untuk menggunakan B50.
Namun, ia menekankan bahwa ada beberapa komponen spesifik pada mobil diesel lawas yang memerlukan perhatian ekstra. Perbedaan karakteristik antara solar konvensional dan biodiesel B50 menjadi faktor penentu.
“Secara teknis, kendaraan diesel lama dengan sistem injeksi mekanis memerlukan perhatian khusus,” ujar Yannes seperti dikutip dari Antara pada Selasa, 30 Juni 2026.
Yannes mengidentifikasi bahwa komponen seperti selang karet, seal, dan gasket pada mesin diesel lama berpotensi mengalami penurunan kualitas atau degradasi yang lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh sifat pelarut (solvent) yang dimiliki oleh B50, yang cenderung lebih kuat dibandingkan solar biasa.
Oleh karena itu, sangat disarankan bagi pemilik kendaraan diesel lawas untuk berkonsultasi dengan bengkel resmi. Mereka perlu memastikan bahwa komponen-komponen tersebut telah disesuaikan atau diganti sesuai dengan rekomendasi pabrikan untuk menghadapi penggunaan B50.
Lebih lanjut, Yannes juga menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur dan edukasi dalam implementasi B50. Ia berpendapat bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kualitas bahan bakar yang didistribusikan, tetapi juga pada pemahaman pengguna kendaraan.
Edukasi yang memadai kepada konsumen dan mekanik bengkel menjadi kunci agar manfaat optimal dari penggunaan biodiesel dapat dirasakan tanpa menimbulkan masalah operasional pada kendaraan.
Salah satu karakteristik penting dari biodiesel yang perlu dipahami adalah sifat higroskopisnya, yaitu kemampuannya untuk menyerap kelembapan atau air dari lingkungan sekitarnya. Sifat ini dapat memengaruhi kualitas bahan bakar jika tidak ditangani dengan baik.
Oleh karena itu, pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memiliki peran krusial. Mereka perlu memastikan bahwa tangki penyimpanan bahan bakar selalu dalam kondisi kering dan terlindungi dari kelembapan berlebih. Tujuannya adalah menjaga kualitas B50 tetap prima hingga sampai ke tangan konsumen.
Pentingnya Sosialisasi B50 kepada Konsumen dan Mekanik Bengkel
Selain aspek teknis dan infrastruktur, sosialisasi yang efektif kepada konsumen dan para mekanik bengkel juga menjadi prioritas. Pemahaman mendalam mengenai cara perawatan mesin yang tepat harus digalakkan sejak dini.
Salah satu rekomendasi perawatan yang penting adalah mempercepat interval penggantian filter solar, terutama bagi kendaraan diesel yang sudah berumur. Hal ini bertujuan untuk mencegah penumpukan endapan atau kontaminan yang dapat mengganggu kinerja mesin.
Yannes menilai bahwa edukasi merupakan elemen vital dalam masa transisi menuju penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi. Dengan pemahaman yang baik mengenai karakteristik bahan bakar baru, para pengguna kendaraan dapat lebih proaktif dalam mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan perawatan kendaraan mereka.
Mengenai manfaat nyata yang akan dirasakan oleh masyarakat, Yannes menjelaskan bahwa dampaknya akan bervariasi antara mobil diesel modern dan mobil diesel lawas. Bagi armada niaga dan logistik yang banyak menggunakan kendaraan diesel lama, penerapan B50 berpotensi besar dalam menjaga stabilitas pasokan bahan bakar di dalam negeri.
Ketersediaan pasokan bahan bakar yang lebih terjamin secara langsung berkontribusi pada pengendalian biaya operasional bagi para pelaku usaha. Hal ini tentu saja akan berdampak positif pada efisiensi perputaran bisnis mereka.
“B50 menjamin stabilitas pasokan bahan bakar di pasaran sehingga biaya operasional logistik tetap ekonomis dan perputaran bisnis terjaga, asalkan pengguna lebih disiplin melakukan perawatan seperti mengganti filter solar,” tegas Yannes.
Dengan demikian, transisi ke biodiesel B50 bukan hanya sekadar perubahan formulasi bahan bakar, melainkan sebuah ekosistem yang memerlukan kesiapan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, produsen, distributor, hingga pengguna akhir kendaraan diesel.






