Helikopter Listrik Tak Hanya untuk Perkotaan, Bisa Dimanfaatkan di Area Tambang

Bisnis7 Dilihat

DermayuMagz.com – Inovasi moda transportasi masa depan, yakni helikopter listrik atau yang dikenal dengan istilah Electric Vertical Take-off and Landing (eVTOL), kini mulai diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi solusi kemacetan di area perkotaan. Teknologi ini digadang-gadang memiliki potensi besar untuk mengubah wajah logistik dan mobilitas di wilayah-wilayah terpencil di Indonesia.

Sebagai informasi, eVTOL merupakan helikopter canggih yang mengandalkan daya baterai listrik sebagai sumber energi utama. Umumnya, armada ini dirancang untuk menampung hingga dua penumpang, atau tiga orang jika menyertakan pilot sebagai pengemudi.

Peran Strategis di Kawasan Industri dan Pertambangan

Head of Infrastructure Apindo sekaligus Founder dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, menekankan bahwa penggunaan eVTOL di Indonesia sebaiknya tidak hanya dibatasi pada mobilitas antar-gedung pencakar langit. Menurutnya, dampak positif yang lebih signifikan akan terasa jika teknologi ini diimplementasikan untuk menghubungkan kawasan-kawasan yang selama ini sulit dijangkau oleh transportasi darat konvensional.

“Indonesia tidak membutuhkan eVTOL hanya untuk memindahkan penumpang dari satu gedung ke gedung lainnya. Potensi terbesarnya berada pada kemampuan menghubungkan kawasan produksi, industri, pariwisata, dan wilayah yang belum terlayani secara optimal,” ujar Denon Prawiraatmadja di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (23/7/2026).

Dalam forum internasional Advanced Air Mobility di Shanghai, China, Denon memaparkan bahwa banyak pusat sumber daya alam dan kawasan ekonomi di Indonesia yang letaknya cukup jauh dari pusat kota maupun jaringan transportasi utama. Selama ini, perjalanan menuju lokasi-lokasi tersebut sering kali menyita waktu hingga berjam-jam.

Meningkatkan Produktivitas dan Efisiensi

Dengan hadirnya layanan mobilitas udara vertikal yang terintegrasi, tantangan geografis tersebut dapat dipangkas secara drastis. Layanan ini nantinya diharapkan mampu melayani berbagai kebutuhan krusial, seperti:

  • Mobilisasi tenaga ahli dan pekerja ke lokasi proyek.
  • Distribusi cepat layanan kesehatan (medevac).
  • Pengiriman barang bernilai tinggi yang memerlukan kecepatan waktu.
  • Dukungan operasional untuk industri hilirisasi dan pertambangan.

“Mobilitas adalah bagian dari produktivitas. Ketika waktu perjalanan dapat dipersingkat, perusahaan bisa bergerak lebih cepat, kawasan ekonomi menjadi lebih terhubung, dan investasi dapat tumbuh lebih efisien,” tambah Denon.

Pentingnya Ekosistem Antarmoda

Denon menegaskan bahwa keberhasilan implementasi eVTOL di Indonesia sangat bergantung pada integrasi sistem. Teknologi ini tidak boleh beroperasi secara mandiri atau terisolasi. Harus ada ekosistem yang menghubungkan layanan udara dengan transportasi darat, akses bandara, kawasan bisnis, serta platform mobilitas digital untuk memastikan perjalanan yang mulus dari titik awal hingga tujuan akhir.

Dukungan Regulasi dari Pemerintah

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan sikap terbuka terhadap kehadiran teknologi ini. Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah merumuskan regulasi teknis agar armada nirawak seperti eVTOL dapat beroperasi dengan aman di ruang udara Indonesia.

“Pada prinsipnya Kementerian Perhubungan tidak anti-teknologi. Makanya, regulasi yang terkait dengan aturan teknis sudah kita siapkan,” ujar Sokhib.

Pemerintah saat ini tengah memetakan aturan keselamatan yang disesuaikan dengan bobot dan fungsi armada. Rencananya, sertifikasi akan merujuk pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS):

Untuk drone atau armada dengan bobot di bawah 25 kg, akan diatur melalui PKPS Bagian 107. Sementara untuk armada dengan bobot di atas 25 kg, seperti SkyDrive, akan mengacu pada PKPS Bagian 22.

Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan ekosistem transportasi udara yang modern, aman, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi percepatan ekonomi nasional, terutama di sektor-sektor yang menjadi tulang punggung pembangunan Indonesia.