Laba Shell Tembus Rp 195 Triliun Berkat Konflik Timur Tengah

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Gejolak geopolitik yang melanda kawasan Timur Tengah memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan pasar energi global, yang pada akhirnya membuahkan keuntungan finansial fantastis bagi raksasa migas dunia, Shell. Perusahaan energi multinasional tersebut sukses mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar US$ 10,8 miliar atau setara dengan Rp 195 triliun pada kuartal kedua tahun 2026.

Capaian impresif ini menunjukkan lonjakan tajam hingga tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana Shell hanya mencatatkan laba sebesar US$ 3,6 miliar. Kenaikan harga minyak dan gas dunia yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi katalis utama di balik moncernya kinerja keuangan perusahaan yang berbasis di Belanda tersebut.

Chief Executive Shell, Wael Sawan, mengungkapkan bahwa hasil positif ini diraih di tengah situasi pasar yang penuh tekanan dan gangguan pasokan global. “Kinerja operasional Shell memungkinkan terciptanya hasil yang sangat kuat di tengah kuartal lain yang diwarnai gangguan parah pada pasar energi global,” ujar Wael Sawan sebagaimana dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (30/7/2026).

Secara keseluruhan, pendapatan perusahaan melonjak 45 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi US$ 96,4 miliar pada kuartal kedua 2026. Data pasar menunjukkan bahwa hingga akhir Juli 2026, harga minyak mentah berjangka masih bertahan di level yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sebelum konflik pecah, yang secara langsung menguntungkan sektor perdagangan komoditas energi.

Namun, Shell mengakui bahwa keuntungan besar tersebut tidak datang tanpa tantangan operasional. Manajemen menyebutkan bahwa sebagian margin keuntungan tergerus oleh penurunan volume produksi yang disebabkan langsung oleh dampak konflik di kawasan Timur Tengah. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kerusakan signifikan pada fasilitas gas alam cair (LNG) di Ras Laffan, Qatar, yang merupakan salah satu pusat produksi LNG terbesar di dunia.

Akibat gangguan tersebut, produksi gas Shell pada periode April–Juni 2026 merosot menjadi 631.000 barel setara minyak per hari, turun drastis dari 909.000 barel per hari pada kuartal pertama. Meski demikian, analis ekuitas di Interactive Investor, Keith Bowman, mencatat bahwa performa apik di wilayah lain berhasil menambal defisit tersebut. “Rekor produksi di hulu Brasil serta tingkat pemanfaatan kilang telah membantu menutupi gangguan produksi di Timur Tengah,” jelasnya.

Menanggapi pencapaian ini, Shell juga mengumumkan rencana strategis untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) senilai US$ 3 miliar bagi para pemegang sahamnya. Langkah ini direspons positif oleh pasar, di mana harga saham Shell mengalami kenaikan sebesar 1,6 persen pada awal perdagangan di indeks London FTSE 100.

Tren lonjakan laba ini tidak hanya dialami oleh Shell. Kompetitornya, TotalEnergies, juga melaporkan kenaikan laba bersih dua kali lipat menjadi US$ 5,4 miliar pada periode yang sama. Fenomena ini memicu kritik dari berbagai organisasi internasional, termasuk Oxfam, yang menyoroti kesenjangan antara keuntungan besar perusahaan migas dengan kondisi krisis iklim global.

Oxfam mendesak pemerintah di berbagai negara untuk segera menerapkan pajak tambahan atas keuntungan korporasi bahan bakar fosil. Berdasarkan proyeksi Oxfam, kelompok perusahaan energi raksasa seperti BP, Chevron, Eni, ExxonMobil, Shell, dan TotalEnergies diperkirakan dapat meraup laba hingga US$ 147 miliar dalam satu tahun penuh. Penerapan pajak khusus ini diestimasi mampu mengumpulkan dana hingga US$ 400 miliar secara global pada tahun pertamanya untuk mendukung transisi energi yang lebih berkelanjutan.

“Keserakahan industri minyak besar tidak sejalan dengan keberlangsungan bumi yang layak huni. Kecuali pemerintah menindaknya, mereka hanya akan menjadikan target iklim internasional sebagai lelucon,” tegas Mariana Paoli, Pemimpin Kebijakan Iklim Oxfam.