DermayuMagz.com – Tren efisiensi tenaga kerja yang dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan (AI) kini menunjukkan gejala anomali. Setelah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda berbagai sektor sepanjang tahun 2026, sejumlah perusahaan global mulai mengambil langkah retrospektif dengan memanggil kembali mantan karyawan mereka.

Data dari Outplacement Challenger, Gray & Christmas pada Mei 2026 mencatat bahwa sekitar 40% perusahaan menjadikan integrasi AI sebagai alasan utama dalam melakukan perampingan organisasi. Namun, narasi efisiensi tersebut kini berbalik, memunculkan fenomena yang disebut sebagai AI rebounding atau efek pantulan balik AI.

Riset yang dilakukan oleh perusahaan manajemen talenta SHL, bekerja sama dengan Propeller Insights, mengungkap fakta bahwa hampir satu dari lima pekerja di Amerika Serikat yang terDampak PHK akibat AI kini justru mendapatkan tawaran kembali bekerja. Survei yang melibatkan lebih dari 1.000 responden di Amerika Serikat dan Inggris ini mengindikasikan adanya koreksi strategi yang cukup signifikan di tingkat korporasi.

Lucy Beaumont, Wakil Presiden Senior Bidang Produk dan Desain Global SHL, menilai bahwa banyak perusahaan sebelumnya terlalu terburu-buru dalam melakukan PHK. Keputusan tersebut sering kali didasari oleh asumsi keliru bahwa AI dapat menggantikan peran manusia secara instan dan menyeluruh dalam operasional bisnis.

Laporan dari Orgvue pada Maret 2026 memperkuat temuan ini, dengan data yang menunjukkan bahwa 32% organisasi yang sempat melakukan pemangkasan tenaga kerja karena alasan adopsi AI, kini terpaksa melakukan rekrutmen ulang. Perusahaan skala besar seperti Ford dan Amazon menjadi beberapa contoh entitas yang melakukan penyesuaian strategi setelah sempat merampingkan struktur organisasi mereka.

Joseph Fuller, Profesor Praktik Manajemen di Harvard Business School, menjelaskan bahwa kesalahan fundamental yang dilakukan perusahaan adalah memperlakukan AI layaknya perangkat lunak konvensional. Banyak perusahaan, lanjut Fuller, memandang PHK sebagai instrumen finansial jangka pendek untuk mendanai investasi teknologi baru tanpa mempertimbangkan aspek operasional jangka panjang.

Padahal, efektivitas AI sangat bergantung pada kecerdasan kontekstual yang dimiliki manusia. Pemahaman mendalam mengenai proses bisnis, dinamika hubungan pelanggan, serta kemampuan pengambilan keputusan berbasis empati tetap menjadi keunggulan komparatif yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh algoritma.

Dinamika Hubungan Karyawan dan Perusahaan

Meski banyak perusahaan kembali membuka pintu bagi mantan karyawan, tantangan baru muncul dari sisi tenaga kerja. Berdasarkan data survei, mayoritas karyawan sebenarnya bersedia untuk kembali, namun dengan syarat yang lebih ketat.

Beaumont menekankan bahwa proses PHK telah merusak kontrak psikologis antara perusahaan dan karyawan. Kepercayaan yang hilang akibat kebijakan tersebut sulit untuk dipulihkan, yang berpotensi berdampak pada tingkat produktivitas dan keterikatan (engagement) karyawan meskipun mereka telah kembali bekerja.

Adaptasi Keterampilan di Era AI

Di sisi lain, para pekerja kini lebih proaktif dalam mengasah kompetensi agar tetap relevan di pasar kerja. Prioritas keterampilan yang dibangun meliputi penguasaan alat berbasis AI (44%), keterampilan spesifik industri yang tidak mudah digantikan (42,6%), serta pengembangan kemampuan interpersonal dan kepemimpinan (40%).

Joseph Fuller memprediksi bahwa organisasi akan menghadapi periode transisi yang cukup panjang. Ia menyarankan agar para pemimpin perusahaan mulai berfokus pada strategi mobilitas internal dan peningkatan keterampilan karyawan, alih-alih hanya mengandalkan perampingan tenaga kerja sebagai solusi atas tantangan teknologi. Adaptabilitas kini menjadi kunci utama bagi keberlangsungan perusahaan dan tenaga kerja dalam menghadapi ketidakpastian yang dipicu oleh perkembangan teknologi yang pesat.