Film Sayap Garuda: Ajakan Lawan Perundungan yang Menuai Apresiasi

Hiburan7 Dilihat

DermayuMagz.com – Film “Sayap Garuda”, sebuah karya sinematik yang digarap oleh talenta lokal Malang, telah sukses menggelar pemutaran perdananya pada Sabtu, 17 Januari 2026, di Mopic Cinemas Malang. Acara gala premiere ini disambut meriah oleh antusiasme masyarakat Kota Malang yang memadati bioskop.

Kehadiran sejumlah tokoh penting turut memeriahkan acara, termasuk Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan moral yang kuat.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memberikan apresiasi tinggi terhadap film “Sayap Garuda”. Beliau menekankan bahwa film produksi Trazz Picture ini sarat akan makna moral dan pembelajaran yang sangat relevan untuk diperhatikan oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Wahyu Hidayat juga memuji keterlibatan generasi muda Malang sebagai pemeran utama dalam film ini. Kolaborasi dengan teman-teman penyandang disabilitas dalam proyek ini menjadi sorotan positif yang menunjukkan inklusivitas.

Beliau berharap, film “Sayap Garuda” dapat menjadi pendorong bagi kemajuan industri perfilman di Kota Malang. “Saya mewakili warga Malang sangat mengapresiasi film Sayap Garuda ini,” ujar Wahyu Hidayat dalam sambutannya.

Film yang disutradarai oleh Tarmizi Abka ini secara tegas mengusung tema “Anti Bullying”. Pesan yang disampaikan sangat mendalam, menyoroti praktik perundungan yang masih sering terjadi di Indonesia.

Salah satu elemen unik dari film ini adalah perpaduan antara budaya Indonesia, khususnya pencak silat, dengan narasi anti-bullying. Seni bela diri tradisional ini ditampilkan sebagai alat untuk memerangi fenomena perundungan di lingkungan sekolah.

Baca juga di sini: Horor Fantasi 'Sleep No More' Segera Tayang di Bioskop Indonesia

Selain fokus pada isu perundungan, “Sayap Garuda” juga menyentuh berbagai aspek kehidupan seperti pentingnya keluarga, kekuatan persahabatan, pergulatan batin, serta perjuangan meraih cita-cita.

Kualitas akting film ini semakin diperkuat dengan kehadiran dua aktor senior ternama, August Melasz dan Yama Carlos. Kehadiran mereka memberikan bobot dan kedalaman pada penampilan para pemeran muda Malang.

Para aktor senior ini tidak hanya menambah kualitas akting, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para seniman muda yang terlibat dalam produksi film ini.

Keindahan Kota Malang turut menjadi latar visual dalam film ini. Beberapa lokasi ikonik seperti Kampung Warna Warni Jodipan, Pantai Batu Bengkung, dan Kayutangan Heritage dipilih sebagai lokasi syuting.

Penggunaan lokasi-lokasi syuting yang menarik ini diharapkan dapat turut berkontribusi dalam mempromosikan pariwisata di Kota Malang.

Zahwa Malabar, salah satu pemeran utama yang memerankan karakter Alana, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama proses syuting adalah menguasai dan menghayati peran melalui latihan pencak silat.

Sutradara Tarmizi Abka memiliki harapan besar agar film “Sayap Garuda” dapat berfungsi sebagai alat kampanye sosial yang efektif. Tujuannya adalah untuk menghentikan perilaku bullying di kalangan pelajar di seluruh Indonesia.

Beliau juga mendorong agar Malang dapat semakin dikenal sebagai kota yang kreatif dalam bidang perfilman, serta mendukung ekosistem film yang hidup di sana.

Rencana penayangan film ini tidak hanya terbatas di Malang, tetapi juga akan berlanjut ke Jakarta. Jika memungkinkan, film ini juga diharapkan dapat menjangkau penonton di Malaysia.

Andrea dan Dinda, yang berperan sebagai pemeran pendukung, mengungkapkan rasa senang dan haru atas sambutan positif yang diterima film perdana mereka dari masyarakat.

Menindaklanjuti apresiasi dari Wali Kota, terdapat imbauan agar film “Sayap Garuda” dapat ditonton oleh seluruh sekolah di Kota Malang. Hal ini dilakukan agar pesan moral yang terkandung dalam film dapat tersampaikan secara langsung kepada para siswa.

Seluruh pemain dan jajaran sutradara yang hadir dalam konferensi pers menyatakan harapan bersama agar fenomena bullying dapat diberantas hingga ke akar-akarnya di seluruh penjuru Indonesia.

Yama Carlos, salah satu pemeran utama, menutup pernyataannya dengan tegas, “Jangan ada lagi tindakan perundungan atau bullying, terutama di sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak.”