Regina Diya Azzahra Dorong Pemberdayaan Agroaksi Sustainergy

Gaya Hidup10 Dilihat

DermayuMagz.com – Regina Diya Azzahra, seorang mahasiswi berusia 19 tahun dari Universitas Padjadjaran (Unpad) dan juga seorang aktivis dari Save the Children, telah meraih pencapaian luar biasa sebagai Runner Up 2 Putri Padjadjaran 2025.

Mahasiswi jurusan Teknologi Industri Pertanian ini tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga menunjukkan dedikasinya yang tinggi dalam menyuarakan isu-isu lingkungan dan hak anak.

Perjalanannya menuju gelar Runner Up 2 Putri Padjadjaran 2025, di mana ia mewakili Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, bukan sekadar sebuah kompetisi kecantikan biasa.

Regina mengungkapkan bahwa motivasinya tidak berasal dari keinginan untuk tampil di panggung, melainkan dari keyakinan mendalam bahwa suara anak muda, khususnya perempuan, memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan yang signifikan.

Ia telah lama aktif sebagai relawan di Save the Children Indonesia dan UNICEF Indonesia, memberikan kontribusi nyata dalam isu-isu keberlanjutan dan pemenuhan hak anak.

Pengalaman bertahun-tahun dalam bidang ini membuatnya melihat platform seperti ajang Putri Padjadjaran sebagai sebuah kesempatan emas untuk mengintegrasikan pengetahuan akademisnya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ia junjung tinggi.

Sustainergy AgroAction: Menginspirasi Agroindustri yang Peduli Iklim

Lebih jauh lagi, Regina membawa sebuah gagasan advokasi inovatif yang ia namakan “Sustainergy AgroAction”.

Gerakan ini bertujuan untuk memadukan konsep energi berkelanjutan dengan tindakan nyata dalam sektor agroindustri.

Baca juga di sini: Prabowo: Dari Panggung Hiburan ke Komitmen Nyata untuk Buruh

Fokus utama dari “Sustainergy AgroAction” adalah mendorong upaya pengurangan pemborosan pangan (food waste), memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mempromosikan praktik-praktik pertanian yang lebih ramah terhadap lingkungan dan iklim.

Prestasi Regina tidak berhenti pada pencapaiannya sebagai Runner Up 2 Putri Padjadjaran 2025.

Ia juga aktif sebagai aktivis dan anggota Child Campaigner Jawa Barat yang berada di bawah naungan Save the Children.

Pengalaman berharga lainnya termasuk perannya sebagai narasumber global dalam konferensi internasional “Ending Violence Against Children” (EVAC).

Regina juga pernah menjadi Delegasi Indonesia dalam Konferensi Anak Indonesia pada tahun 2022, menunjukkan kapasitasnya dalam mewakili suara generasi muda di tingkat internasional.

Di lingkungan akademisnya, Regina juga memegang peran penting.

Ia menjabat sebagai Project Officer di FTIP Leader Class 2025 dan Sekretaris I di Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (HIMATEIN).

Selain itu, ia juga dipercaya sebagai GenPeace Ambassador pada tahun 2024, yang melibatkan kolaborasi dalam Pagelaran Anak Panca Sora.

Menghadapi Tantangan dan Harapan untuk Generasi Pembawa Perubahan

Menurut pandangan Regina, tantangan terbesar yang dihadapi oleh generasi muda saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan tingkat literasi yang masih belum merata di kalangan masyarakat.

Selain itu, tantangan lainnya adalah mengatasi kecenderungan komitmen yang seringkali hanya berhenti pada tataran wacana tanpa diiringi dengan aksi nyata yang berkelanjutan.

“Bagi saya, tantangan terbesarnya tentu adalah menjaga keseimbangan antara kegiatan studi, keterlibatan dalam organisasi, dan upaya advokasi yang sedang saya jalankan,” ungkap Regina dengan senyuman.

Namun, ia meyakini bahwa proses menjaga keseimbangan inilah yang justru mengajarkannya tentang ketahanan diri dan konsistensi dalam bertindak.

Regina sangat percaya bahwa perubahan besar dalam masyarakat lahir dari akumulasi langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh generasi muda untuk tidak ragu untuk memulai tindakan.

Pesan kuat yang disampaikannya adalah untuk memulai perubahan dari lingkungan terdekat, seperti mengurangi pemborosan makanan di rumah, memberikan dukungan kepada produk-produk lokal, menjaga kelestarian bumi, serta menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Lebih penting lagi, ia mendorong generasi muda untuk berani menyuarakan kebenaran dan melawan ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka.

Regina menegaskan bahwa generasi muda memiliki potensi terbesar untuk mengubah arah sejarah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa kesempurnaan bukanlah syarat utama; yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan keteguhan untuk terus bertahan dalam setiap perjuangan.