Kenaikan Harga Aspal, Perbaikan Jalan di Bondowoso Terancam Berkurang

Berita4 Dilihat

DermayuMagz.com – Kenaikan harga aspal yang signifikan, mencapai hampir 40 persen, memberikan dampak langsung pada pelaksanaan proyek perbaikan infrastruktur jalan di Bondowoso. Lonjakan harga ini menyebabkan proses tender perbaikan jalan harus diperpanjang hingga tiga kali akibat minimnya partisipasi dari para penyedia jasa konstruksi.

Banyak penyedia jasa konstruksi yang akhirnya memilih untuk tidak mengajukan penawaran dalam proses tender. Salah seorang penyedia asal Bondowoso, yang meminta inisial S, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga turut mendorong kenaikan harga aspal. Hal ini membuat perhitungan biaya proyek menjadi tidak lagi realistis.

Menurutnya, dalam tahap awal lelang, banyak penyedia yang memutuskan untuk tidak melanjutkan karena harga satuan yang tercantum dalam dokumen lelang sudah tidak sesuai dengan harga pasar saat ini. Bahkan, jika dipaksakan, biaya proyek bisa membengkak hingga 105 persen dari pagu anggaran yang telah ditetapkan.

“Ngepres sekali,” ungkapnya, menggambarkan betapa ketatnya perhitungan yang harus dilakukan. Ia mengakui bahwa perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebenarnya sudah matang. Namun, kenaikan harga yang terjadi secara cepat membuat evaluasi ulang menjadi langkah yang tak terhindarkan.

Baca juga: Haru dan Tangis Warnai Keberangkatan Jamaah Haji Kloter 21, Pesan Menyentuh dari Camat Haurgeulis

Fenomena ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Bondowoso, tetapi juga meluas ke berbagai daerah lain yang mengalami dampak serupa akibat lonjakan harga BBM dan material aspal.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air, dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, Ansori, membenarkan bahwa proses tender memang telah diperpanjang sebanyak tiga kali sejak awal April. Ia menjelaskan bahwa keengganan para penyedia untuk mengikuti lelang dipicu oleh lonjakan harga aspal yang kini mencapai Rp2,4 juta per ton, naik dari sebelumnya sekitar Rp1,7 juta, atau mengalami kenaikan sekitar Rp700 ribu.

“Di saat itu, mungkin teman-teman penyedia berpikir, ‘oh iya ya, ini kok terlalu jauh’. Mereka akhirnya enggan untuk ikut,” paparnya usai menghadiri sebuah kegiatan di Pemerintah Daerah pada Selasa, 5 Mei 2026.

Untuk mengatasi kondisi ini, pihaknya telah melakukan peninjauan ulang terhadap harga satuan. Hal ini dilakukan dengan melakukan pengecekan langsung ke Asphalt Mixing Plant (AMP) di wilayah Jember dan Situbondo. Ansori berharap proses lelang segera rampung agar pekerjaan perbaikan jalan dapat segera dilaksanakan.

Tahun ini, terdapat 134 titik jalan dengan total panjang sekitar 35 kilometer yang masuk dalam daftar prioritas perbaikan dan dinilai mendesak. “Jadi, itu semua menjadi prioritas kita,” jelasnya.

Namun demikian, kenaikan harga aspal dipastikan akan berdampak pada pengurangan volume pekerjaan. Target perbaikan sepanjang 35 kilometer sebelumnya disusun berdasarkan asumsi harga normal sebelum terjadi kenaikan. Akibatnya, meskipun pagu anggaran, lokasi, dan jumlah titik perbaikan tetap sama, panjang jalan yang dapat diperbaiki berpotensi menyusut.

Saat ini, pemerintah daerah masih melakukan perhitungan ulang terkait volume pekerjaan yang dapat direalisasikan. “Itu dampak dari kenaikan harga tersebut,” terangnya.

Ansori menambahkan, seluruh anggaran perbaikan jalan tahun ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hal ini dikarenakan pada tahun 2026, Bondowoso tidak memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK). “Kita juga hati-hati dari sisi regulasi,” pungkasnya.