Resapan Air Dialihfungsikan, Dedi Mulyadi: Jakarta Banjir Akibat Tata Ruang Diubah

Berita3 Dilihat

DermayuMagz.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti bahwa kerusakan tata ruang di wilayah Bogor menjadi penyebab utama banjir dan longsor yang tidak hanya melanda daerah tersebut, tetapi juga merembet hingga ke Jakarta.

Menurut Dedi, alih fungsi lahan secara besar-besaran di kawasan resapan air dan perbukitan merupakan biang keladi meningkatnya frekuensi bencana alam di Bogor dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut.

“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” ujar Dedi pada Rabu, 6 Mei 2026.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa lahan hijau, yang seharusnya berfungsi vital sebagai daerah resapan air dan penahan tanah, kini banyak yang beralih fungsi. Kawasan permukiman menjadi salah satu bentuk alih fungsi yang paling banyak terjadi.

Perubahan tata ruang ini, menurut Dedi, telah berlangsung dalam skala yang sangat luas sejak diberlakukannya kebijakan tata ruang sebelumnya. Dampaknya pun terasa signifikan.

“Dampaknya, kata dia, tidak hanya dirasakan di Bogor, tetapi merambat ke wilayah lain di hilir. Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” tegasnya.

Dedi secara spesifik menyoroti area Sukamakmur yang mengalami perubahan drastis. Banyak perbukitan di wilayah tersebut kini telah berubah menjadi kawasan perumahan. Hal ini secara otomatis meningkatkan risiko terjadinya bencana longsor dan meluapnya aliran sungai.

Akibatnya, luapan air dari Bogor ini kemudian berdampak langsung ke daerah-daerah di bawahnya, termasuk Jakarta. Kondisi ini mengancam keselamatan warga dan menimbulkan kerugian.

Sebagai respons terhadap situasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah gencar melakukan upaya pemulihan. Fokus utamanya adalah mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor agar keseimbangan lingkungan dapat kembali pulih seperti sedia kala.

“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu,” kata Dedi.

Ia menekankan bahwa pemulihan tata ruang ini merupakan langkah krusial. Tujuannya adalah untuk melindungi kawasan aglomerasi yang lebih luas, termasuk Jakarta, dari ancaman banjir yang berulang kali terjadi.

Oleh karena itu, Dedi mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menghentikan praktik eksploitasi ruang. Eksploitasi yang dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan harus segera diakhiri.

Baca juga: Empat Film Pendek Indonesia di Cannes 2026

“Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya,” pungkasnya.