Kisah Pembunuhan Berantai Hwaseong yang Diadaptasi Drakor

Hiburan2 Dilihat

DermayuMagz.com – Drama Korea berjudul Scarecrow kini tengah menjadi sorotan publik karena berhasil meraih rating tinggi setiap pekannya.

Popularitas drakor ini semakin meroket karena ceritanya diangkat dari kisah nyata kasus pembunuhan berantai yang menggemparkan Korea Selatan.

Kasus pembunuhan berantai Hwaseong sendiri merupakan salah satu catatan kriminal paling tragis dalam sejarah kepolisian Korea Selatan.

Tragedi ini bahkan telah beberapa kali diadaptasi menjadi film dan drama, termasuk serial terbaru Scarecrow.

Meskipun berlatar cerita yang sama, Scarecrow menawarkan perspektif penceritaan yang unik dan berbeda dari adaptasi sebelumnya.

Drama yang terdiri dari 12 episode ini awalnya mengajak penonton untuk ikut menebak identitas pelaku pembunuhan.

Namun, kejutan datang di pertengahan cerita, tepatnya pada episode ketujuh, ketika pelaku akhirnya diungkap.

Perubahan alur ini ternyata memiliki tujuan. Sutradara dan penulis naskah ingin lebih fokus menggali berbagai kejahatan yang telah dilakukan oleh pelaku.

Penonton diajak untuk melihat kasus ini dari sudut pandang pelaku utama.

Berikut adalah rangkuman kisah nyata di balik pembunuhan berantai Hwaseong, sebuah tragedi yang pernah mengguncang wilayah selatan Seoul dan seluruh Korea.

Kasus ini berawal pada tahun 1986 dan baru sepenuhnya terungkap pada tahun 2006.

Pelakunya adalah Lee Chun Jae, seorang pria yang berprofesi sebagai pekerja biasa dan dikenal sebagai pribadi yang pendiam di lingkungan sekitarnya.

Kejahatannya dimulai pada Februari 1986 dengan aksi pemerkosaan terhadap perempuan yang berjalan sendirian di malam hari.

Total ada tujuh aksi pemerkosaan yang dilakukannya pada tahun 1986.

Kejahatannya kemudian berlanjut ke aksi kedelapan di tahun yang sama, di mana ia juga melakukan pembunuhan.

Pembunuhan dilakukan dengan menggunakan benda yang melekat pada korban, seperti stoking atau celana dalam, yang dililitkan ke leher.

Sejak aksi kedelapan itulah, Lee Chun Jae mulai ketagihan melakukan aksi pemerkosaan sekaligus pembunuhan.

Rangkaian kejahatan ini terus berlanjut hingga tahun 1994.

Tentu saja, kepolisian tidak tinggal diam dalam upaya mengungkap pelaku.

Kasus ini menimbulkan keresahan di kalangan warga, bahkan banyak yang terpaksa meninggalkan desa mereka demi keamanan.

Polisi sempat beberapa kali melakukan kesalahan penangkapan, yang justru membuat kejahatan Lee Chun Jae terus berlanjut.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah penangkapan Yoon, seorang pria yang kemudian ditahan lebih dari 20 tahun karena dituduh sebagai pelaku, padahal ia tidak bersalah.

Kesulitan polisi dalam menangkap pelaku disebabkan oleh beberapa faktor.

Selain pelaku yang pandai menyamar sebagai orang baik dan pendiam, teknologi pada era 1980-an juga masih sangat minim.

Baca juga: Hari Jadi ke-733 Surabaya Dirayakan dengan Meriah: Diskon Belanja Hingga 70% dan Penguatan Pariwisata Medis

Belum ada kamera CCTV, dan teknologi tes DNA serta sidik jari untuk identifikasi pelaku belum secanggih sekarang.

Satu-satunya bukti medis yang bisa diandalkan saat itu hanyalah golongan darah.

Lee Chun Jae akhirnya tertangkap pada tahun 1994 setelah melakukan pembunuhan terhadap saudara iparnya.

Tim forensik berhasil menemukan DNA dari bercak darah di mesin cuci.

Pada masa itu, teknologi medis untuk identifikasi DNA sudah mulai berkembang.

Penangkapan Lee Chun Jae saat itu hanya terkait kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap adik iparnya.

Polisi belum menyadari bahwa ia adalah pelaku utama di balik teror pembunuhan berantai Hwaseong.

Akibat kejahatan tersebut, ia dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun.

Selama menjalani masa hukuman, Chun Jae berhasil memanipulasi psikologisnya.

Ia menunjukkan diri sebagai narapidana teladan dan seolah-olah telah sepenuhnya bertaubat.

Perkembangan teknologi medis terus berlanjut, dan pada tahun 2019, teknologi DNA terbaru berhasil mengungkap jejak biologis pada pakaian korban dalam kasus pemerkosaan kelima, ketujuh, dan kesembilan.

Hasil tes DNA tersebut mengarah pada satu nama: Lee Chun Jae.

Meskipun secara hukum kasus ini sudah melewati batas waktu penuntutan (kadaluarsa), kepolisian memutuskan untuk kembali melakukan investigasi demi memberikan keadilan bagi keluarga korban.

Investigasi tersebut membuahkan hasil: seluruh teror pembunuhan berantai di Hwaseong ternyata dilakukan oleh satu orang, yaitu Lee Chun Jae, pria pendiam yang selama ini tidak dicurigai.

Lee Chun Jae akhirnya mengakui seluruh perbuatannya, yang didorong oleh alasan yang sangat mengganggu.

Ia mengaku tertarik pada tangan seorang profiler.

Kepada polisi, Lee mengakui telah melakukan 10 pembunuhan di Hwaseong, serta empat kasus pembunuhan lainnya, termasuk terhadap seorang anak perempuan berusia delapan tahun.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya telah memperkosa sembilan perempuan lainnya.

Saat ini, Lee Chun Jae sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap saudara iparnya pada tahun 1994.

Ia tidak dapat dituntut atas kejahatan-kejahatan lainnya karena undang-undang pembatasan kasus telah berakhir.