DermayuMagz.com – Panggung mode untuk anak-anak dan remaja sering kali dipandang sebagai sekadar replika mini dari industri mode dewasa. Namun, GUMAR Kreatif hadir untuk mengubah pandangan tersebut dengan menggelar International Junior Fashion Runway (IJFR) 2026.
Acara ini bukan sekadar ajang pamer busana, melainkan sebuah platform untuk membentuk karakter dan mentalitas para talenta muda. IJFR bertujuan mempersiapkan mereka agar siap menghadapi persaingan di pasar internasional sejak usia dini.
GUMAR Kreatif resmi menggebrak industri mode anak dengan debut perdana International Junior Fashion Runway (IJFR) pada Sabtu, 16 Mei 2026. Acara ini dilangsungkan di Surabaya.
Mengusung tema besar “Evolution”, IJFR memamerkan transformasi tren busana lintas era. Berbagai kiblat mode dunia disajikan melalui karya 10 desainer terpilih yang berpartisipasi.
Direktur International Junior Fashion Runway, Dimas Wijayanto, menjelaskan bahwa membawa anak-anak ke panggung megah membutuhkan pendekatan yang lebih humanis. Menurutnya, tantangan terbesar dalam menyelenggarakan panggung mode anak bukanlah pada kerumitan busana.
Melainkan, tantangan utamanya terletak pada manajemen emosi para talenta belia yang masih sangat muda. “Tantangan tersendiri bagi kami, panggung ini penuh effort,” ujar Dimas Jay.
Ia menambahkan bahwa menjaga semangat anak-anak adalah kunci utama. Hal ini karena usia mereka yang masih sangat belia. “Kunci utamanya adalah bagaimana kita benar-benar harus memberikan rasa kenyamanan ekstra supaya mood anak-anak ini tetap terjaga selama acara,” jelasnya.
Baca juga: Lansia Meninggal di Kebun Kopi Kalibaru Banyuwangi
Panggung IJFR perdana ini dirancang dengan konsep yang cukup kontras. Mulai dari segmen busana aktif (activewear) dengan tema berlari, hingga konsep pakaian visual yang lebih eksperimental.
Keberagaman konsep ini sengaja dihadirkan untuk mencerminkan kiblat mode dari berbagai negara. Hal ini sejalan dengan visi ekspansi pasar yang dibidik oleh para penyelenggara.
GUMAR Kreatif, yang sebelumnya lebih banyak bergerak di ranah festival musik, konser, hingga kontes kecantikan seperti Miss Grand Jawa Timur, kini mencoba merombak total kemasan fashion show anak tradisional. Tujuannya adalah agar ajang ini dapat naik kelas ke level internasional.
Langkah ini diperkuat dengan menyiarkan seluruh rangkaian acara secara live streaming. Tujuannya adalah untuk menjangkau atensi pengamat mode di seluruh Indonesia, bahkan dunia.
Lebih dari sekadar menampilkan pakaian yang estetis, Dimas Jay menegaskan bahwa esensi utama dari IJFR adalah investasi jangka panjang. Investasi ini berfokus pada pembentukan karakter anak sejak dini.
Panggung runway diposisikan sebagai ruang inkubasi mental. Tujuannya adalah untuk membangun ketahanan psikologis anak-anak saat berhadapan dengan publik.
“Lewat gelaran fashion show ini, fokus kami yang pertama adalah melatih rasa percaya diri mereka sejak kecil,” pungkasnya.
Ia melanjutkan, “Kedua, bagaimana cara anak-anak ini bisa menyalurkan energi dan semangat besarnya secara positif saat berdiri di atas panggung dan berhadapan langsung di depan publik.”
Kehadiran perdana IJFR pada pertengahan Mei 2026 ini sekaligus menjadi salah satu pilar krusial. Pihak penyelenggara ingin memperkaya ekosistem Surabaya Sport Fashion Festival (SSFF) 2026.
Kolaborasi ini menjadi strategis karena konsep gaya hidup aktif (activewear) yang digaungkan oleh SSFF membutuhkan regenerasi talenta baru sejak usia dini. IJFR hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Melalui integrasi dengan SSFF 2026, IJFR tidak sekadar menggelar peragaan busana anak yang terisolasi. Acara ini meleburkannya ke dalam perayaan gaya hidup urban yang dinamis.
Keterlibatan model-model cilik binaan Dimas Jay ini sekaligus membuktikan kepada publik. Terbukti bahwa panggung olahraga dan kreativitas lokal Surabaya memiliki ruang inklusif yang luas.
Ruang inklusif ini mencakup berbagai tingkatan, mulai dari talenta junior hingga perancang busana profesional. IJFR membuka pintu bagi semua elemen industri kreatif.






