Perbedaan Keamanan Galon Guna Ulang Meski Harga Sama, Sorotan KKI

News8 Dilihat

DermayuMagz.com – Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyoroti adanya dua jenis galon guna ulang yang beredar di pasaran dengan standar keamanan yang berbeda, namun dijual dengan harga yang sama.

Hal ini menimbulkan keresahan di kalangan konsumen yang merasa berhak mendapatkan produk dengan kualitas dan keamanan yang setara, terlepas dari perbedaan material kemasan.

Ketua KKI, David Tobing, menyatakan bahwa praktik ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai transparansi dan kesetaraan dalam perdagangan, yang merupakan prinsip penting dalam perlindungan konsumen.

Konsumen Pertanyakan Perbedaan Standar Keamanan

Hasil survei KKI yang melibatkan 250 konsumen dari tujuh kota besar pada Maret hingga April 2026 menunjukkan bahwa mayoritas responden, sekitar 62 persen, telah menyadari adanya perbedaan jenis galon yang beredar.

Banyak konsumen yang merasa bingung dan mempertanyakan alasan di balik perbedaan standar keamanan produk yang dijual dengan harga yang sama. Mereka berpendapat bahwa harga yang sama seharusnya menjamin kualitas dan keamanan yang setara.

Baca juga : Jualan Rumahan Paling Laris di Grup Facebook Desa, Cocok untuk Tambah Penghasilan

“Ada satu prinsip di dalam perdagangan, kalau harganya sama maka kualitas juga sama,” tegas David Tobing.

Kesadaran konsumen mengenai jenis plastik yang digunakan dalam kemasan air minum semakin meningkat. Hal ini membuat isu transparansi dan kesetaraan antara harga dan kualitas menjadi semakin krusial.

Keluhan Galon Tua hingga Risiko BPA

Selain perbedaan material, KKI juga menerima banyak keluhan terkait kondisi fisik galon polikarbonat yang dinilai sudah terlalu tua untuk digunakan. Sekitar 92 persen konsumen melaporkan bahwa mereka menerima galon yang diperkirakan telah digunakan lebih dari satu tahun.

Keluhan fisik yang umum disampaikan meliputi galon yang kusam, berlumut, bahkan retak. Laporan KKI mencatat bahwa 30 persen galon yang diterima konsumen dalam kondisi kusam atau berlumut, sementara 18 persen lainnya mengalami keretakan.

“Semakin tua usia galon semakin beragam jenis keluhannya. Masalah fisik, kotor, kusam, dan retak. Nah ini mendominasi laporan konsumen,” jelas David.

KKI mengingatkan bahwa penggunaan galon polikarbonat dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan risiko peluruhan Bisphenol A (BPA). Risiko ini dapat meningkat jika galon terpapar sinar matahari, dicuci dengan metode yang tidak standar, atau digunakan berulang kali dalam jangka waktu lama.

Sebelumnya, pakar polimer dari Universitas Indonesia telah merekomendasikan batas aman penggunaan galon polikarbonat maksimal satu tahun atau sekitar 40 kali pengisian ulang. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko peluruhan BPA yang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, diabetes, dan gangguan reproduksi.

“Kalau harganya sama, konsumen wajib mendapatkan yang sama keamanannya, keselamatannya, dan kenyamanannya,” ungkap David.

Menyikapi kondisi ini, KKI mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan regulasi yang lebih ketat mengenai batas masa pakai galon guna ulang. Tujuannya adalah untuk mencegah peredaran galon tua yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

“Kekosongan regulasi masa pakai untuk guna ulang adalah akar masalah yang harus ditutup. Negara perlu regulasi yang melindungi kesehatan masyarakat bukan sekedar keuntungan produsen,” tutup David.