DermayuMagz.com – Honda tengah menghadapi situasi paling berat sepanjang sejarahnya. Pabrikan asal Jepang tersebut mencatat kerugian operasional tahunan untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham pada 1957.
Kerugian ini dipicu oleh kesalahan strategi dalam menggarap pasar kendaraan listrik. Honda diperkirakan akan membukukan kerugian operasional sekitar 400 miliar yen atau setara Rp44,8 triliun pada tahun fiskal 2025 yang berakhir pada Maret 2026.
Besarnya biaya restrukturisasi dan penurunan nilai investasi di sektor kendaraan listrik menjadi penyebab utama kerugian ini. Total beban yang流出 terkait bisnis kendaraan listrik bahkan mencapai US$9 miliar atau sekitar Rp148 triliun.
Kondisi ini memaksa Honda untuk mengubah arah bisnisnya. Perusahaan berlogo H tegak tersebut mulai mengurangi fokus di pasar mobil listrik dan kembali memprioritaskan kendaraan hybrid.
CEO Honda Toshihiro Mibe bahkan membatalkan target lama perusahaan yang ingin menjadikan mobil listrik menyumbang 20 persen dari penjualan global pada 2030.
Selain itu, Honda juga menunda proyek besar pembangunan fasilitas produksi kendaraan listrik dan baterai di Kanada bernilai US$11 miliar atau sekitar Rp181 triliun. Proyek ini sebelumnya ditargetkan menjadi salah satu pusat produksi kendaraan listrik Honda di Amerika Utara.
Melemahnya permintaan dan perubahan kebijakan insentif di Amerika Serikat menjadi alasan penundaan tersebut tanpa batas waktu.
Di tengah tekanan berat dari bisnis otomotif roda empat, bisnis sepeda motor justru menjadi penyelamat bagi Honda. Penjualan motor di pasar seperti India dan Brasil masih sangat kuat dan berhasil menopang performa perusahaan.
Honda bahkan mencatat rekor penjualan sepeda motor global hingga lebih dari 22 juta unit.
Tekanan terhadap Honda juga datang dari persaingan ketat di China. Penjualan di Negeri Tirai Bambu disebut turun drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat dominasi merek lokal, khususnya produsen kendaraan listrik.
Baca juga : Perjalanan JMC di Lampung Tak Hanya Soal Touring, Ini Buktinya
Kondisi tersebut membuat Honda semakin berhati-hati dalam mengatur strategi elektrifikasi globalnya.






