Hanung Bramantyo Tak Ingin Dipanggil Haji Karena Merasa Belum Layak

showbiz4 Dilihat

DermayuMagz.com – Sineas ternama Hanung Bramantyo mengungkapkan alasan di balik penolakannya untuk dipanggil dengan sebutan “Haji”. Meskipun telah menunaikan ibadah haji tiga tahun lalu bersama sang istri, Zaskia Adya Mecca, Hanung menegaskan bahwa ia tidak pernah menggunakan gelar tersebut dalam percakapan sehari-hari.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Senin, 25 Mei 2026, Hanung Bramantyo membagikan potret dirinya bersama Zaskia Adya Mecca di dekat Ka’bah. Dalam keterangan foto tersebut, ayah dari enam anak ini merinci tiga alasan utama mengapa ia enggan dipanggil haji.

Alasan pertama yang diungkapkan Hanung berkaitan dengan sejarah gelar haji itu sendiri. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya, gelar tersebut bukanlah sebuah bentuk kehormatan, melainkan strategi yang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Tujuannya adalah untuk membatasi pergerakan umat Islam. Dengan adanya gelar tersebut, diharapkan umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji tidak lagi melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Belanda.

“Alih-alih mengharap gelar haji, saya lebih suka merenungi makna ibadah haji itu sendiri,” tulis Hanung dalam unggahannya.

Lebih lanjut, Hanung Bramantyo menekankan bahwa ibadah haji merupakan sebuah perjalanan spiritual yang bersifat personal. Perjalanan ini bertujuan untuk melakukan introspeksi diri, mempertanyakan jati diri, dan memahami tujuan penciptaan manusia di muka bumi. Ia kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 30 yang berbicara tentang penciptaan khalifah di bumi.

Ayat tersebut berbunyi, “Ingatlah saat Tuhanmu berkata ke seluruh malaikat: Aku hendak menjadikan khalifah di Bumi. Lalu malaikat menjawab: Apakah Engkau hendak menciptakan makhluk yang akan merusak dan menumpahkan darah, sementara kami bertasbih memuji dan menyucikan nama-Mu? Allah kemudian berkata: Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, wahai para Malaikatku.”

Hanung Bramantyo mengartikan konsep “khalifah” sebagai pembawa amanat suci dari Tuhan. Tugas seorang khalifah adalah mewujudkan keadilan dan kemakmuran di bumi. Namun, ia menyayangkan kenyataan bahwa manusia seringkali justru merusak alam ciptaan Tuhan.

Fenomena perang dan pertumpahan darah yang masih terus terjadi hingga kini menjadi refleksi bagi Hanung. Ia secara jujur mengakui bahwa dirinya belum sepenuhnya mampu menjalankan amanat sebagai khalifah. “Sejujurnya, saya masih jauh dari harapan Tuhan buat manjadi khalifah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia merasa kurang pantas untuk dipanggil haji. Baginya, gelar tersebut belum mencerminkan pencapaian spiritual yang sesungguhnya. Hanung Bramantyo lebih memilih untuk fokus pada perenungan makna haji dan tanggung jawabnya sebagai manusia.

Alasan ketiga, yang juga mendasari penolakannya untuk dipanggil haji, adalah kesadaran akan tanggung jawab yang diemban. Hanung merasa masih sering melakukan ketidakadilan, bahkan terhadap dirinya sendiri. Hal ini membuatnya merasa “gimana gitu” ketika dipanggil haji, karena ia merasa masih sangat jauh dari kesempurnaan yang diharapkan oleh Tuhan.

Hanung Bramantyo juga menyampaikan harapan agar para sahabatnya yang telah menyandang gelar haji dapat benar-benar menjadi khalifah yang menjalankan amanat Tuhan dalam menjaga bumi. Ia mengingatkan bahwa kelak, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas segala perbuatannya.

Menjelang Hari Raya Idul Adha yang diprediksi jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, Hanung Bramantyo turut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Islam. Ia berharap agar Tuhan mengampuni segala dosa dan menerima ibadah yang telah dilaksanakan.

“Selamat menjalankan ibadah haji, para sahabat semua. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua. Amin,” tutup Hanung Bramantyo dalam unggahannya.

Sementara itu, di berita lain, aktris dan YouTuber Ria Ricis merayakan Idul Adha di Masjid Nurul Huda, Kebagusan, Jakarta Selatan, pada hari yang sama. Kehadirannya di lokasi penyembelihan hewan kurban menarik perhatian banyak warga.

Ria Ricis datang untuk menyaksikan secara langsung proses penyembelihan sapi kurbannya. Ia tampak mengenakan kerudung berwarna merah marun dan disambut hangat oleh masyarakat yang hadir. Meskipun dikerumuni warga, Ria Ricis tetap menunjukkan sikap yang ramah.

Saat proses penyembelihan sapi jumbo miliknya dimulai, Ria Ricis tak kuasa menahan tangis. Ia terlihat tegar sambil menggendong putrinya, Moana. Momen ini menjadi kesempatan baginya untuk mengajarkan makna Idul Adha kepada sang anak, yaitu semangat ikhlas berkorban.

Ria Ricis memilih untuk tetap berada di lokasi dan menyaksikan seluruh proses pemotongan hewan kurbannya hingga selesai, meskipun cuaca cukup terik. Sebelum pisau menyentuh hewan kurbannya, ia terlihat memanjatkan doa dengan raut wajah yang penuh kesedihan, di tengah keramaian warga yang memanggil namanya.

Baca juga : Istri Bawakan Tempe Goreng dan Cerita untuk Gus Yaqut di Rutan

Kehadiran Ria Ricis di Masjid Nurul Huda menciptakan suasana yang meriah dan antusias di antara masyarakat, terutama ibu-ibu dan anak-anak yang ingin berinteraksi dengan idolanya.