Harga Minyak Mentah Anjlok Lebih dari 5 Persen

Bisnis8 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam lebih dari 5% pada perdagangan hari Rabu, yang jatuh pada hari Kamis waktu Indonesia. Penurunan ini terjadi setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington akan memberikan setiap peluang bagi perundingan dengan Iran untuk berhasil.

Menurut laporan CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun lebih dari 5% dan ditutup pada level USD 88,68 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, juga melemah lebih dari 5% dan berakhir di USD 94,29 per barel.

Dalam sebuah rapat kabinet di Gedung Putih, Rubio mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Iran telah menunjukkan beberapa kemajuan. Ia menekankan bahwa Presiden Donald Trump lebih memprioritaskan jalur diplomasi, meskipun pemerintah AS tetap memiliki opsi lain jika negosiasi menemui kegagalan, termasuk kemungkinan aksi militer baru.

“Pada akhirnya, kami lebih memilih jalur diplomasi melalui negosiasi dan kami akan memberikan setiap kesempatan agar proses itu berhasil,” ujar Rubio. Trump sendiri menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan menguasai Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan apa pun. Penting untuk dicatat bahwa sebelum konflik meningkat, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur strategis ini.

“Selat itu akan terbuka bagi semua pihak. Itu adalah perairan internasional dan tidak ada yang akan mengendalikannya,” tegas Trump saat pertemuan kabinet tersebut. Sebelumnya, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran berkomitmen untuk memulihkan lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang dalam kurun waktu satu bulan setelah tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Iran akan mengelola lalu lintas kapal di selat itu dengan kerja sama Oman, di tengah proses negosiasi yang masih berlangsung. Namun, Gedung Putih dengan cepat membantah laporan tersebut melalui unggahan di media sosial, menyebut kabar mengenai nota kesepahaman itu sebagai “rekayasa total.”

Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat pekan ini berada di persimpangan penting, antara tercapainya kesepakatan diplomatik atau kembali memanas ke arah eskalasi militer baru. Pasukan AS sebelumnya memang telah melancarkan serangan di wilayah selatan Iran dalam sebuah operasi yang disebut Pentagon sebagai langkah defensif.

Sebagai respons terhadap tindakan tersebut, Teheran bersumpah akan membalas serangan itu. Meskipun ada harapan terhadap solusi diplomatik, para pelaku industri energi menilai bahwa pemulihan pasokan minyak global tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Kepala Abu Dhabi National Oil Co., Sultan Ahmed al-Jaber, menyatakan pekan lalu bahwa dibutuhkan setidaknya empat bulan untuk mengembalikan aliran minyak hingga 80% dari kondisi normal.

Baca juga : 9 Pilihan Lantai Teras Awet, Tahan Cuaca, dan Terjangkau

Hal ini bahkan jika konflik AS-Iran berakhir segera. Ia memperkirakan bahwa normalisasi penuh arus minyak melalui kawasan tersebut kemungkinan baru akan tercapai pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada perkembangan positif dalam diplomasi, dampak terhadap pasar energi masih akan terasa dalam jangka waktu yang cukup panjang.