Tugas Terberat Acha Septriasa Sebagai Istri dan Ibu Usai Syuting Film

showbiz6 Dilihat

DermayuMagz.com – Aktris Acha Septriasa membagikan pandangannya mengenai peran perempuan dalam kehidupan, terutama sebagai istri dan ibu, yang ternyata memiliki tugas terberat.

Pengalaman Acha dalam memerankan karakter Amina, seorang istri dan ibu yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam film terbarunya, “Suamiku Lukaku”, memberinya banyak pelajaran berharga.

Ia menyadari bahwa tuntutan terhadap perempuan, baik sebagai istri maupun ibu, tidak pernah mudah. Ditambah lagi, ekspektasi sosial yang kerap membebani kaum hawa.

Acha Septriasa menyoroti bagaimana perempuan sering kali dipandang sebagai sosok multifungsi, namun sayangnya, mereka juga rentan menjadi korban stigma sosial.

Bahkan, ketika seorang perempuan menjadi korban KDRT, ia masih sering diminta untuk menutupi aib rumah tangga. Padahal, KDRT merupakan tindak pidana yang serius.

“Stigma sosial. Perspektif dari luar, dianggapnya dalam masyarakat bahwa perempuan yang baik harus terlihat anggun, proper, dan baik-baik saja. Mungkin, ini warisan era kolonialisme, di mana perempuan harus menahan aib rumah tangga. Harus jadi pion terdepan citra sebuah keluarga. Peran yang berhubungan dengan kestabilan keluarga. Wajah stabilitas,” ujar Acha.

Ia menambahkan bahwa perempuan seolah dikondisikan untuk selalu kuat dan seringkali tidak memiliki banyak pilihan.

Acha membandingkan peran perempuan dalam keluarga seperti negara, di mana suami adalah presiden. Sementara sang istri dianggap sebagai wakil presiden yang merangkap berbagai menteri strategis.

Semua peran tersebut harus dijalankan dengan baik, namun perempuan tetap rentan disalahkan apabila ada masalah. Contohnya, jika keuangan keluarga bermasalah, sang istri yang akan dituding boros.

“Misalnya nanti dalam keluarga, keuangannya bocor, pasti dibilang istrinya boros. Enggak bisa mengatur keuangan,” tuturnya.

Menurut Acha, tugas terberat seorang istri sejatinya adalah kesabaran. Hal ini ia anggap sebagai aspek yang paling sulit.

Perempuan dan Kesabaran

Perempuan dituntut untuk menjadi pasangan yang sepadan. Ketika menjadi seorang ibu, tugasnya bertambah lagi, yaitu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.

Oleh karena itu, kaum hawa harus mampu beradaptasi dalam berbagai “jabatan” dan situasi yang dihadapi. Kesabaran menjadi kunci utama dalam menjalani semua itu.

“Ketika perempuan bisa sabar, sebenarnya dia sudah menyelesaikan 50 persen dari (masalah) pernikahannya. Kalau laki-laki itu secara finansial cukup, ia sudah menyelesaikan 50 persen urusan keluarga,” Acha berbagi pandangannya.

Tambah Enggak Karuan

Saat memerankan Amina, yang merupakan korban KDRT dan kekerasan seksual, hati Acha Septriasa bergejolak. Ia mengaku merasa lelah secara emosional saat menjalani syuting.

Kondisi ini terjadi di saat Acha sedang berdamai dengan dirinya sendiri pasca-perceraian.

“Pada saat syuting, aku merasa kayak desperate, capai sekali emosinya, tambah enggak karuan ha ha ha. Tapi, ternyata aku baru sadar, ketika pulang ke rumah, ke Australia dan menjadi Acha, itu ada satu kekuatan yang aku dapat dari Amina,” urainya.

Jadi Ada Kekuatan

Acha Septriasa merasa bahwa karakter Amina memberinya kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan hidup.

“Jadi ada kekuatan (dari Amina) bahwa, kamu harus bangkit. Mungkin kamu bisa salah memilih dalam hidup, dan itu wajar pasti pernah salah. Tapi, harus bisa bangkit lagi (dari keterpurukan),” ungkap Acha.

Dalam film “Suamiku Lukaku” yang diproduksi Sinemart Pictures, Acha Septriasa beradu akting dengan Baim Wong, Raline Shah, Ayu Azhari, Gusty Pratama, dan Azkya Mahira. Film ini telah tayang di bioskop sejak 27 Mei 2026.

DermayuMagz.com – A-List Entertainment, sebuah perusahaan entertainment generasi baru, bersiap meramaikan industri musik Indonesia dengan memperkenalkan grup girl group terbarunya, MARBLES.

MARBLES hadir dengan konsep yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, digambarkan sebagai “Your daily dopamine reminder, celebrating every small win positively”.

Meskipun detail mengenai jumlah anggota dan nama mereka belum diungkapkan secara spesifik, A-List Entertainment menjanjikan setiap anggota MARBLES memiliki karakter yang unik dan dinamis saat bersatu.

Grup ini akan menyajikan karya melalui musik, visual, serta konten digital yang menghadirkan emosi yang terasa universal bagi pendengarnya.

Dengan nuansa yang hangat, ceria, dan jujur, MARBLES tidak hanya sekadar grup musik. Mereka ingin menjadi ruang bagi ekspresi perasaan-perasaan kecil yang sering dialami namun jarang diutarakan.

MARBLES hadir sebagai afirmasi di tengah kesibukan dan kebisingan aktivitas sehari-hari, mengingatkan bahwa setiap pencapaian, sekecil apapun, patut disyukuri sebagai sebuah kebaikan.

Hasil Scouting dari Kota Besar di Indonesia

Pembentukan MARBLES merupakan hasil dari program inkubasi yang dikerjasamakan dengan Trinity Entertainment Network. Proses pencarian bakat ini dilakukan melalui scouting di berbagai kota besar di Indonesia.

Trinity Entertainment Network menerapkan pendekatan open-ended dalam proses scouting, yang berarti pencarian talenta dilakukan secara berkelanjutan tanpa batas waktu yang ketat.

Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menghasilkan artis yang tidak hanya relevan di masa kini, tetapi juga membangun mereka sebagai brand yang memiliki makna dan daya tahan jangka panjang.

Masa Persiapan yang Tak Main-Main

A-List Entertainment memberikan perhatian serius dalam proses debut MARBLES. Perusahaan ini mengadopsi sistem pengembangan artis yang terstruktur, meniru metodologi industri K-Pop.

Pendekatan ini tidak hanya diterapkan pada tahap audisi, tetapi juga berlanjut pada pelatihan intensif hingga para artis siap untuk debut di industri musik.

Di bawah arahan pelatih berpengalaman, Kim Hyung-Kyu, setiap talenta dibentuk secara komprehensif untuk memastikan kesiapan mereka dalam tampil dan berkembang.

Para anggota MARBLES menjalani pelatihan selama kurang lebih tiga tahun. Pelatihan ini mencakup vokal, tarian, dan pengembangan performa secara menyeluruh.

Selain kemampuan teknis, para anggota juga mendapatkan pelatihan dalam hal komunikasi publik.

Mereka juga dilibatkan dalam pengembangan materi lagu dan penentuan arah musikal, yang menjadi fondasi penting dalam membangun identitas grup yang kuat dan relevan di masa mendatang.

IP yang Terus Berkembang

A-List Entertainment memandang artis sebagai Intellectual Property (IP) yang hidup dan terus berkembang.

“Mereka tidak hanya hadir di musik, tetapi juga di panggung live, konten digital, hingga kolaborasi dengan brand. Pendekatan ini membuka ruang bagi artis untuk tidak hanya dikenal, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat dengan audiensnya,” ujar perwakilan A-List Entertainment.

Baca juga : Fashion Show TK Aisyiyah Haurgeulis: Gemes, Percaya Diri, Orang Tua Terpukau

Perjalanan A-List Entertainment di industri hiburan, serta perkembangan MARBLES, dapat diikuti melalui akun media sosial resmi mereka, yaitu @a.listent dan @marbles.sphere.