DermayuMagz.com – Mayoritas keluarga kaya di Asia memiliki keinginan kuat untuk mewariskan aset dan kekayaan mereka kepada generasi penerus. Namun, ironisnya, masih banyak dari mereka yang belum memiliki rencana suksesi atau pewarisan yang matang.
Temuan ini diungkapkan oleh sebuah survei yang dilakukan oleh Lombard Odier, sebuah bank swasta terkemuka asal Swiss. Survei tersebut melibatkan lebih dari 390 individu dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individuals) di kawasan Asia-Pasifik, di mana seluruh responden memiliki aset investasi minimal sebesar USD 1 juta.
Hasil survei yang dirilis pada Sabtu, 30 Mei 2026, menunjukkan bahwa sebanyak 64,2 persen dari responden menyatakan bahwa pelestarian kekayaan keluarga lintas generasi merupakan prioritas utama mereka ketika berbicara mengenai transfer kekayaan.
Meskipun niat untuk menjaga kekayaan tetap ada, realitasnya menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan. Hanya sekitar 26,9 persen responden yang mengaku bahwa keluarga mereka telah memiliki rencana suksesi yang lengkap.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 39,4 persen responden menyatakan bahwa keluarga mereka sama sekali belum memiliki perencanaan suksesi.
Lombard Odier mengidentifikasi kondisi ini sebagai “kesenjangan antara niat dan pelaksanaan” (intention-implementation gap). Ini berarti, meskipun kesadaran akan pentingnya perencanaan warisan cukup tinggi, langkah-langkah konkret yang diambil masih sangat terbatas.
Isu ini menjadi semakin relevan mengingat kawasan Asia dan dunia secara keseluruhan sedang memasuki periode transfer kekayaan antar-generasi dalam skala besar. Fenomena ini terutama dipicu oleh para pengusaha generasi pertama yang kini mulai mempersiapkan penyerahan bisnis dan aset mereka kepada anak-anak mereka.
Banyak Keluarga Berisiko Kehilangan Kekayaan
John Woods, Chief Investment Officer Asia di Lombard Odier, menyoroti bahwa banyak keluarga kaya berisiko kehilangan aset yang telah mereka bangun dengan susah payah jika tata kelola dan perencanaan yang kuat tidak diterapkan.
“Perhatian terhadap kontradiksi ini cukup mengkhawatirkan bagi saya,” ujar Woods saat peluncuran laporan tersebut.
Ia menambahkan, “Jika sebagian besar klien yang kami survei belum benar-benar memikirkan perencanaan kekayaan secara serius, mereka tidak akan dapat mempertahankan kekayaannya dalam waktu lama.”
Survei tersebut juga mengungkap adanya perbedaan tingkat kesiapan suksesi di berbagai negara dan wilayah di Asia-Pasifik. Jepang, Filipina, Malaysia, dan Hong Kong disebut sebagai beberapa kawasan yang memiliki banyak keluarga kaya namun perencanaan pewarisannya masih belum jelas.
Di negara-negara tersebut, hampir separuh responden mengaku belum memiliki rencana suksesi atau bahkan belum menganggapnya sebagai hal yang relevan saat ini.
Temuan lain yang menarik adalah masih banyak anggota keluarga dari generasi senior yang belum melibatkan generasi muda dalam diskusi penting mengenai pengelolaan kekayaan keluarga maupun tata kelola keluarga secara keseluruhan.
Lebih dari seperempat responden dari generasi Baby Boomers mengaku bahwa keluarga mereka belum pernah membahas tujuan bersama yang jelas terkait pengelolaan kekayaan keluarga.
Komunikasi Jadi Tantangan Terbesar
Louisa Loo, Kepala Wealth Planning Asia di Lombard Odier, menjelaskan bahwa banyak keluarga kaya di Asia masih cenderung menunda diskusi mengenai suksesi. Hal ini dipengaruhi oleh faktor budaya dan kurangnya rasa urgensi yang dirasakan.
Menurut Loo, komunikasi merupakan salah satu hambatan terbesar dalam proses perencanaan warisan yang efektif.
Di banyak negara Asia, pembicaraan mengenai warisan, pembagian harta, dan transfer kekayaan masih dianggap sebagai topik yang sensitif, bahkan tabu, untuk dibahas secara terbuka di dalam keluarga.
Tidak mengherankan jika hampir 29 persen responden dalam survei menyebutkan kurangnya komunikasi terbuka sebagai tantangan utama yang mereka hadapi dalam tata kelola kekayaan keluarga.
Loo memberikan peringatan bahwa kondisi ini dapat menimbulkan masalah serius ketika terjadi peristiwa yang tidak terduga. Contohnya adalah meninggalnya anggota keluarga utama atau perubahan mendadak dalam kondisi bisnis.
“Ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi, yang sering kali memang terjadi, banyak keluarga akan benar-benar tidak siap menghadapinya,” tegasnya.
Baca juga : Ada Atta Halilintar Hingga Irfan Hakim, 6 Artis Ini Pose Bareng Hewan Kurban Idul Adha 202…
Survei ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa membangun aset yang besar saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan kekayaan keluarga. Tanpa adanya perencanaan suksesi yang matang, tata kelola yang baik, serta komunikasi yang terbuka antar-generasi, kekayaan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun berisiko menyusut atau bahkan hilang saat proses pergantian generasi terjadi.






