Beban Biaya Produksi Naik, Perajin Tahu Tempe Mengeluh

Bisnis2 Dilihat

DermayuMagz.com – Perajin tahu dan tempe di Indonesia tengah menghadapi tantangan berat akibat melonjaknya biaya produksi. Kondisi ini memaksa mereka untuk melakukan berbagai strategi penyesuaian, salah satunya adalah dengan mengurangi ukuran produk tahu dan tempe yang dijual kepada konsumen.

Hedy Kuswanto, Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta, mengungkapkan bahwa kenaikan beban biaya produksi ini telah sangat menekan para pengrajin. Pengurangan ukuran produk menjadi salah satu cara paling realistis yang bisa dilakukan untuk setidaknya menutupi sebagian biaya operasional yang membengkak.

Lebih lanjut, Hedy menjelaskan bahwa meskipun harga kedelai impor di tingkat perajin saat ini berada di kisaran Rp 10.800 hingga Rp 11.100 per kilogram, yang masih di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp 12.000 per kg untuk tingkat pengrajin, permasalahan biaya produksi tidak hanya berhenti pada bahan baku utama.

Ada berbagai komponen pendukung lain yang turut mengalami kenaikan signifikan. Mulai dari harga bahan bakar minyak (BBM), ongkos logistik, hingga biaya kemasan plastik. Perhitungan rata-rata menunjukkan bahwa kenaikan total beban biaya produksi mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan.

Rincian Beban Biaya Produksi yang Meningkat

Hedy Kuswanto merinci kenaikan beban biaya produksi yang terjadi antara Januari hingga Juni 2026. Kenaikan harga BBM, khususnya jenis Pertamax yang banyak digunakan, tercatat sebesar 32,58 persen. Komponen lain yang juga mengalami lonjakan adalah biaya kemasan plastik, yang meningkat hingga 57,14 persen.

Selain itu, ongkos angkutan untuk keperluan logistik juga naik sekitar 20 persen. Dengan akumulasi kenaikan dari berbagai sektor ini, Hedy memperkirakan rata-rata kenaikan total beban biaya produksi mencapai 36,24 persen.

Kenaikan beban biaya produksi yang terus menerus ini menimbulkan dampak berantai yang serius bagi kelangsungan usaha para perajin tahu dan tempe. Margin keuntungan yang semakin menipis menjadi ancaman nyata. Hal ini juga berujung pada pengurangan ukuran produk, penurunan kapasitas produksi, kesulitan dalam mendapatkan modal usaha, serta menurunnya daya saing produk mereka di pasar.

Dalam skenario terburuk, kondisi ini bahkan dapat mengancam keberlangsungan usaha para perajin, yang berisiko terpaksa menghentikan aktivitas produksi mereka.

Tuntutan Subsidi Kedelai untuk Perajin Tahu dan Tempe

Menghadapi situasi yang semakin sulit, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) kembali menyuarakan desakan kepada pemerintah agar segera merealisasikan program subsidi kedelai bagi para perajin. Tuntutan ini muncul sebagai respons terhadap lonjakan biaya produksi yang dirasakan semakin memberatkan dan mengancam keberlangsungan usaha.

Wibowo Nurcahyo, Sekretaris Jenderal Gakoptindo, menekankan bahwa kondisi saat ini sudah sangat tidak menguntungkan bagi pelaku usaha tempe dan tahu. Oleh karena itu, pihaknya secara tegas menagih komitmen pemerintah untuk menjalankan program subsidi yang sebelumnya telah dibahas dalam forum lintas kementerian.

Menurut Wibowo, pembahasan mengenai subsidi kedelai sebenarnya telah melalui berbagai tahapan, termasuk rapat koordinasi antar kementerian. Namun, hingga kini, realisasi program tersebut masih terhambat. Ia menambahkan bahwa ada pihak-pihak yang dianggap menghambat proses terealisasinya program subsidi ini.

Surat Permohonan Percepatan kepada Menko Pangan

Sebagai tindak lanjut dari desakan tersebut, Gakoptindo telah mengambil langkah konkret dengan mengirimkan surat resmi kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Surat ini bertujuan untuk meminta percepatan realisasi program subsidi kedelai sekaligus menyerahkan data para calon penerima subsidi yang telah melalui proses verifikasi.

Dalam suratnya, Gakoptindo menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan nasional serta mendukung keberlangsungan usaha mikro dan kecil, termasuk para perajin tahu dan tempe.

Organisasi ini juga menegaskan bahwa data yang diserahkan telah dihimpun secara cermat melalui jaringan koperasi primer dan pusat koperasi produsen tahu tempe yang tersebar di berbagai daerah. Data tersebut mencakup informasi penting seperti jumlah perajin, kapasitas produksi, serta total kebutuhan kedelai yang digunakan dalam proses produksi.

Gakoptindo memberikan jaminan bahwa seluruh data yang disampaikan telah disusun dengan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Mereka juga memastikan bahwa pelaksanaan program subsidi kedelai nantinya akan berada di bawah pengawasan ketat dari pemerintah dan instansi terkait, demi memastikan transparansi dan efektivitas program.