BerasKita Premium Efektif Jaga Ketersediaan Pangan

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Kebijakan Perum Bulog untuk memproduksi BerasKita Premium dinilai sebagai langkah strategis yang tepat dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional. Langkah ini dianggap mampu menjawab tantangan dinamika pasar beras yang semakin kompleks dan beragamnya selera konsumen.

Pengamat pangan, Khudori, menyoroti bahwa strategi operasi pasar yang selama ini hanya mengandalkan beras medium tidak lagi memadai. Perubahan pola konsumsi masyarakat yang didorong oleh urbanisasi, peningkatan pendapatan, serta maraknya ritel modern telah menciptakan permintaan yang lebih luas terhadap berbagai jenis beras berkualitas.

Ia menjelaskan bahwa pasar beras saat ini tidak lagi monoton. Konsumen kini memiliki banyak pilihan, mulai dari beras medium, premium, hingga varian khusus seperti beras merah, hitam, organik, dan fortifikasi. Preferensi ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti rasa, tekstur, bentuk fisik bulir beras, hingga citra merek.

Khudori mengacu pada sebuah studi yang dilakukan oleh Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) pada tahun 2016. Studi tersebut mengindikasikan bahwa konsumen dengan tingkat pendapatan lebih tinggi cenderung memilih beras berdasarkan kriteria seperti warna putih, tekstur pulen, bentuk bulir yang utuh, dan merek yang terpercaya. Kelompok ini juga lebih sering berbelanja di minimarket atau supermarket dengan preferensi kemasan yang lebih kecil, seperti ukuran 5 kilogram.

Sebaliknya, konsumen dengan pendapatan lebih rendah lebih sensitif terhadap harga. Mereka juga cenderung lebih mudah beralih ke merek lain apabila terjadi lonjakan harga. Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa strategi stabilisasi harga harus mampu menjangkau berbagai segmen pasar.

Permintaan Beras Premium Meningkat Pesat

Tren peningkatan permintaan beras premium diperkirakan mencapai angka 11% setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan bahwa beras premium mulai menguasai pangsa pasar yang signifikan, diperkirakan mencapai sekitar 38% dari total pasar. Di sisi lain, permintaan beras medium justru diprediksi mengalami penurunan, meskipun masih mendominasi pasar dengan sekitar 60%.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Perum Bulog. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang selama ini didominasi oleh beras medium menjadi kurang relevan untuk merespons kebutuhan pasar premium. Akibatnya, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang bertujuan menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga beras menjadi kurang efektif dalam menjangkau segmen pasar yang lebih luas.

Khudori menegaskan, mustahil bagi operasi pasar yang hanya menyediakan satu jenis beras untuk dapat mengendalikan harga di seluruh segmen pasar yang ada. Keterbatasan jenis beras dalam CBP menjadi salah satu faktor utama mengapa intervensi pemerintah dirasa kurang optimal.

Selain isu jenis beras, efektivitas operasi pasar juga terhambat oleh beberapa faktor lain. Di antaranya adalah volume penyaluran yang masih terbatas, adanya pembatasan jumlah pembelian oleh konsumen, serta isu kualitas beras yang disalurkan melalui program SPHP.

Solusi BerasKita Premium untuk Stabilisasi Harga

Menjawab tantangan tersebut, Perum Bulog mengusulkan program BerasKita Premium. Usulan ini diajukan dengan harapan dapat meniru kesuksesan beras program SPHP dalam menstabilkan harga beras medium.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, secara langsung mengusulkan program ini kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Tujuannya jelas, yaitu untuk meredam kenaikan harga beras premium yang tengah menjadi perhatian publik.

Rizal menjelaskan bahwa program BerasKita Premium akan difokuskan untuk menstabilkan harga beras premium di pasaran. Hal ini penting mengingat beras premium memiliki segmen pasar yang berbeda dan membutuhkan intervensi yang spesifik.

“Kami hanya mengusulkan untuk membuat BerasKita Premium. Jadi, saat beras premium lagi agak naik, supaya menstabilisasi beras premium, BerasKita Premium harus ada,” ungkap Rizal dalam sebuah kesempatan.

Kepastian pelaksanaan program ini masih menunggu persetujuan dari Menteri Koordinator Bidang Pangan. Rizal optimistis bahwa program ini akan memberikan dampak positif serupa dengan beras SPHP yang telah berhasil menjaga stabilitas harga beras medium.

Harga yang Ditetapkan

Program BerasKita Premium rencananya akan dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan, yaitu sebesar Rp 14.900 per kilogram. Angka ini berbeda dengan harga beras SPHP yang saat ini dijual seharga Rp 12.500 per kilogram, yang memang difokuskan untuk stabilisasi harga beras medium.

“Tadi saya memberikan saran di rapat agar dibuatkan program BerasKita Premium, seperti beras SPHP. SPHP yang sekarang kan beras medium tuh,” papar Rizal.

Rizal menambahkan bahwa usulan ini masih dalam tahap pengajuan dan belum mendapatkan persetujuan final. Namun, ia berharap agar program ini dapat segera disetujui dan diimplementasikan. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat kembali tenang dengan ketersediaan beras berkualitas dengan harga yang stabil.

“Ini saya baru mengajukan saran, belum di-approve. Harapannya bisa di-approve sehingga bisa menstabilkan harga-harga semua. As soon as possible (bisa terlaksana), biar masyarakat tenang,” pungkasnya.