DermayuMagz.com – Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menembus angka 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bagi industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Tekanan terhadap rupiah ini dapat memperberat beban operasional perusahaan. Akibatnya, potensi perlambatan produksi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin terbuka lebar.
Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi Indef, menjelaskan bahwa jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka waktu yang lama, perusahaan akan menghadapi risiko yang lebih besar. Terutama bagi industri yang memiliki struktur biaya impor yang tinggi.
“Jika tekanan rupiah berlangsung berkepanjangan, maka risiko perlambatan produksi, penundaan ekspansi usaha, hingga pengurangan tenaga kerja menjadi semakin terbuka, terutama bagi industri dengan struktur biaya impor yang tinggi,” ungkap Rizal.
Beberapa sektor industri yang rentan terhadap pelemahan rupiah antara lain farmasi, elektronik, otomotif, tekstil, kimia, serta industri makanan dan minuman. Sektor transportasi dan logistik juga merasakan dampak signifikan akibat kenaikan harga energi, avtur, dan suku cadang yang diimpor.
Ketergantungan pada bahan baku impor, barang modal, dan pembiayaan dalam mata uang asing membuat perusahaan di Indonesia tertekan. Hal ini secara otomatis dapat meningkatkan biaya produksi dan mempersempit margin keuntungan.
Rizal menambahkan bahwa pelaku usaha dihadapkan pada dilema. Kenaikan biaya produksi tidak dapat serta merta diteruskan kepada konsumen karena adanya risiko perlambatan permintaan domestik.
Ada Ancaman PHK
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga telah menyuarakan kekhawatiran terkait potensi pengurangan karyawan. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang dikhawatirkan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyatakan bahwa biaya operasional perusahaan semakin tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Ia juga mengkhawatirkan omzet perusahaan akan terdampak, yang berujung pada potensi PHK jika kondisi tidak membaik.
“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari,” kata Sarman.
Sarman menekankan pentingnya penguatan nilai tukar rupiah. Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi hal ini.
Pengusaha mulai merasakan kekhawatiran ketika nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 17.000 per dolar AS. Berlanjutnya pelemahan ini menjadi alarm yang lebih keras bagi dunia usaha.
Oleh karena itu, Sarman berharap pemerintah dapat bertindak cepat. Ia menekankan perlunya tindak lanjut dari Satgas Mitigasi PHK yang telah dibentuk oleh pemerintah.
Baca juga : 7 Cara Efektif Hilangkan Noda Keringat di Kerah Baju Hanya dengan Sampo
“Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk Pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” harapnya.






