DermayuMagz.com – Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan pada awal pekan ini, Senin (8/6/2026). Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Iran melancarkan serangan rudal ke Israel.
Kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas menjadi sentimen utama yang mendorong harga komoditas energi ini. Serangan rudal Iran ke Israel merupakan peristiwa penting yang memicu kekhawatiran pasar global.
Menurut data dari CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli, yang menjadi patokan internasional, tercatat naik sebesar 2,42%. Angka ini menempatkan harga Brent pada US$ 92,73 per barel.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus juga menunjukkan tren positif. Minyak WTI menguat 2,44%, mencapai US$ 95,36 per barel.
Peristiwa ini terjadi di tengah laporan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah menerima informasi terkini mengenai situasi tersebut. Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump diberi pengarahan tentang serangan yang terjadi setelah gencatan senjata sebelumnya.
Seorang pejabat Iran mengindikasikan bahwa negosiasi kesepakatan dengan Presiden Trump mungkin tidak lagi relevan pada tahap ini. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian dalam hubungan diplomatik antar kedua negara.
Melalui platform X, Ketua Parlemen Iran, MB Ghalibaf, menyampaikan pandangannya. Ia menyatakan bahwa blokade laut yang dilakukan AS dan dugaan pelanggaran perjanjian terkait Lebanon dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Ghalibaf menambahkan bahwa pangkalan dan aset AS serta rezim di kawasan tersebut kini dapat dianggap sebagai “target yang sah”. Pernyataan ini mempertegas potensi peningkatan ketegangan militer di wilayah tersebut.
Di sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk meningkatkan target produksi mereka. Peningkatan sebesar 188.000 barel per hari direncanakan mulai berlaku pada bulan Juli.
Keputusan ini merupakan persetujuan kenaikan kuota produksi minyak keempat sejak penutupan Selat Hormuz. Kenaikan ini serupa dengan yang terjadi pada bulan Juni, namun sedikit lebih rendah dari kenaikan bulanan sebesar 206.000 barel per hari pada bulan Mei dan April.
Penyesuaian kuota produksi ini juga dipengaruhi oleh keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari organisasi tersebut pada periode sebelumnya.
Namun, pada perdagangan akhir pekan sebelumnya, harga minyak dunia justru mengalami pelemahan. Penurunan ini terjadi seiring dengan meningkatnya keyakinan pelaku pasar bahwa risiko eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai mereda.
Kontrak minyak mentah Brent pada Jumat (6/6/2026) ditutup turun US$ 1,94, atau setara 2,04 persen. Harga penutupan Brent berada di level US$ 93,09 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami koreksi. WTI merosot US$ 2,50, atau 2,69 persen, sehingga berada di angka US$ 90,54 per barel.
Menurut Phil Flynn, Analis Senior Price Futures Group, pasar mulai mencermati tanda-tanda deeskalasi. Meskipun belum ada kesepakatan damai yang tercapai antara pihak-pihak yang terlibat, sentimen pasar cenderung mengarah pada penurunan ketegangan.
“Pasar tidak melihat adanya eskalasi konflik lebih lanjut. Meski belum ada kesepakatan, pasar tampaknya menilai situasi mulai mengarah pada deeskalasi,” jelas Flynn.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh informasi dari Petroleum Development Oman. Perusahaan tersebut memastikan bahwa operasional Pelabuhan Mina al Fahal tetap berjalan normal.
Sebelumnya, sempat muncul laporan dari tiga sumber yang menyebutkan bahwa aktivitas pemuatan minyak sempat dihentikan. Penghentian tersebut terjadi setelah adanya ledakan di dekat area tambatan kapal di pelabuhan tersebut.
Terminal Mina al Fahal sendiri merupakan salah satu fasilitas ekspor minyak utama milik Oman. Fasilitas ini memiliki peran krusial dalam menyalurkan sekitar 800.000 hingga 900.000 barel minyak mentah setiap harinya ke pasar internasional.
Meskipun mengalami penurunan pada akhir pekan, harga minyak masih berpotensi mencatat kenaikan mingguan. Ini akan menjadi kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir.
Sepanjang pekan ini, harga Brent masih tercatat menguat sekitar 1 persen. Sementara itu, WTI mengalami kenaikan yang lebih signifikan, yaitu sekitar 3,1 persen.
Pada awal pekan, harga minyak sempat melonjak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran pasar saat itu dipicu oleh lambatnya perundingan perdamaian terkait konflik AS-Iran.
Selain itu, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz juga menjadi perhatian. Selat ini merupakan jalur strategis yang dilalui oleh sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan di sana dapat berdampak besar pada pasokan global.






