DermayuMagz.com – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengantisipasi potensi kenaikan harga produk fesyen, seperti baju dan sepatu, pada Juli 2026. Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta kendala dalam proses impor.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduanjsah, menjelaskan bahwa saat ini harga barang di pusat perbelanjaan belum mengalami dampak signifikan. Hal ini dikarenakan masih tersedianya stok lama yang baru masuk setelah periode Lebaran 2026.
Beliau mengungkapkan kekhawatiran jika pelemahan rupiah terus berlanjut hingga bulan ketujuh tahun 2026, terutama saat jatuh tempo pembayaran impor. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pelaku usaha.
Potensi kenaikan harga tersebut akan sangat terasa pada produk-produk kategori fesyen. Budihardjo secara spesifik menyebutkan seperti sepatu, berbagai jenis pakaian, hingga tas.
Ia menambahkan bahwa harga barang di mal telah mengalami kenaikan sebanyak dua kali pada tahun ini. Faktor utama penyebabnya adalah kesulitan barang impor masuk ke Indonesia, yang mengakibatkan kelangkaan stok.
Oleh karena itu, Hippindo telah berkoordinasi agar para anggotanya yang memiliki toko dan merek di mal diizinkan untuk melakukan impor sendiri. Izin impor ini diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan stok dan mencegah lonjakan harga yang drastis.
Para pengusaha ritel sangat berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan dalam proses perizinan impor. Kemudahan ini penting bagi merek-merek besar yang beroperasi di pusat perbelanjaan, agar mereka dapat segera membuka toko dan mengisi kembali stok barang.
Budihardjo menekankan bahwa ketersediaan stok merupakan faktor krusial dalam menjaga stabilitas harga.
Sederet Sektor Ini Ketiban Untung dari Pelemahan Rupiah
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS tidak sepenuhnya membawa kabar buruk bagi seluruh sektor usaha. Beberapa industri, terutama yang berbasis komoditas dan pariwisata, justru berpotensi meraih keuntungan signifikan.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menganalisis bahwa pelemahan rupiah menciptakan polarisasi yang tajam di sektor riil. Sementara industri yang bergantung pada impor menghadapi lonjakan biaya produksi, sektor ekspor justru diuntungkan dari selisih kurs yang menguat.
Sektor komoditas, seperti kelapa sawit dan pertambangan, serta industri manufaktur yang berorientasi ekspor, diperkirakan akan merasakan manfaatnya. Hal ini karena struktur biaya operasional mereka mayoritas menggunakan mata uang lokal, sementara pendapatan ekspor diterima dalam bentuk dolar AS yang nilainya terus meningkat.
Perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan. Sebagian besar transaksi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dilakukan dalam denominasi dolar AS. Dengan melemahnya rupiah, setiap dolar yang dihasilkan dari ekspor akan memberikan pendapatan yang lebih besar setelah dikonversi ke rupiah.
Kondisi serupa juga dialami oleh perusahaan pertambangan yang mengekspor komoditas seperti batu bara, nikel, tembaga, dan emas. Pendapatan ekspor dalam dolar AS menjadi lebih bernilai ketika ditukar ke rupiah. Sementara itu, biaya operasional mereka yang sebagian besar masih dalam rupiah, menciptakan ruang keuntungan yang lebih besar.
Pariwisata Berpotensi Kebanjiran Wisatawan Asing
Sektor pariwisata juga diprediksi akan menjadi salah satu penerima manfaat dari pelemahan nilai tukar rupiah. Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya perjalanan wisata ke Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi turis mancanegara.
Dengan jumlah dolar yang sama, wisatawan asing dapat menggunakan lebih banyak rupiah untuk berbagai keperluan selama berlibur di Indonesia, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, hingga aktivitas wisata lainnya.
Situasi ini berpotensi meningkatkan daya tarik destinasi wisata di Indonesia dan mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing, terutama dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat terhadap rupiah.
Sutopo menambahkan bahwa sektor pariwisata berpotensi meraup keuntungan besar dari kondisi ini.






