DermayuMagz.com – Di tengah keindahan kepulauan Maluku yang sering dijuluki sebagai Bumi Seribu Pulau, kehidupan sehari-hari warga sangat bergantung pada hasil laut. Ikan segar menjadi santapan utama yang mudah didapatkan, bahkan hanya dengan memancing di dekat rumah.
Namun, bagi sebagian besar warga kepulauan yang ekonominya pas-pasan, daging atau ayam bukanlah menu harian. Keduanya dianggap sebagai kemewahan yang hanya bisa dinikmati sesekali, itupun jika ada rezeki lebih untuk membelinya.
Seorang warga bernama Ibu Ani di Dusun Rohua, Desa Sepa, Maluku Tengah, mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan daging atau ayam, mereka harus pergi ke pasar dan membutuhkan biaya tambahan. Memotong ternak sendiri bukanlah pilihan yang menguntungkan bagi mereka.
Kondisi serupa juga dialami oleh warga kepulauan lain di Maluku. Hal ini menjadi perhatian banyak pihak, termasuk Dompet Dhuafa yang berupaya menghadirkan kebahagiaan Idul Adha bagi mereka.
Melalui pengumpulan dana kurban dari masyarakat, Dompet Dhuafa berhasil menyalurkan hewan kurban ke sejumlah pulau terpencil di Maluku. Total ada tujuh daerah yang menerima bantuan, terdiri dari 108 sapi dan 10 kambing.
La Januri, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Maluku, menyampaikan rasa syukurnya atas peningkatan jumlah hewan kurban dan penerima manfaat pada tahun ini.
Perjuangan Demi Menyalurkan Daging Kurban
Tim jurnalis Liputan6.com berkesempatan menyaksikan langsung perjuangan tim penyalur dalam menjangkau wilayah-wilayah terpencil di Maluku. Perjalanan ini penuh tantangan, meliputi medan darat dan laut yang berat.
Empat wilayah yang dikunjungi adalah Desa Wabloi dan Dusun Wamana Baru di Pulau Buru, Pulau Tiga, serta Desa Sepa di Kabupaten Maluku Tengah. Hewan kurban yang disalurkan mencakup lima sapi di Pulau Buru, tiga ekor di Pulau Tiga, dan tiga ekor di Desa Sepa.
Baca juga : Luis Enrique Percaya Diri PSG Mampu Pertahankan Gelar Liga Champions
Tantangan terbesar yang dihadapi tim adalah aksesibilitas. Perjalanan antar pulau memakan waktu berjam-jam. Untuk mencapai Pulau Buru, tim harus menempuh perjalanan darat selama lebih dari delapan jam, dilanjutkan dengan menyeberangi sungai menggunakan rakit. Mereka juga harus bermalam di rumah warga yang fasilitasnya masih terbatas, termasuk minimnya penerangan dan jaringan telekomunikasi.
Perjalanan menuju desa pedalaman Wabloi juga tak kalah sulit. Dari pusat kota Ambon, tim harus menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi melalui jalur menanjak dan menurun selama lebih dari dua jam.
Selanjutnya, untuk mencapai Pulau Tiga, tim harus kembali menyeberangi perairan Maluku Tengah dengan perahu motor, setelah menempuh perjalanan tiga jam dari Ambon ke Desa Ureng. Sapi kurban untuk Pulau Tiga bahkan dikirim langsung melalui jalur darat dari Ambon, kemudian diseberangkan menggunakan perahu motor.
“Ketibaan sapi-sapi itu disambut warga Pulau Tiga dengan suka cita,” ujar Januri, menggambarkan antusiasme warga.
Penyaluran ke Desa Sepa, Masohi, Maluku Tengah, juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tim harus menyeberang dari Ambon ke Desa Sepa menggunakan kapal cepat. Perjalanan dua jam tersebut diwarnai ombak yang sangat kencang, yang dapat menyebabkan rasa mual bagi yang tidak terbiasa.
Namun, segala kesulitan dan perjuangan tersebut terbayarkan ketika melihat senyum tulus dan antusiasme warga penerima hewan kurban. Bagi mereka, daging sapi merupakan hidangan yang sangat istimewa dan sulit didapatkan.
Jai, panggilan akrab La Januri, menjelaskan bahwa banyak warga tidak mampu membeli daging sapi untuk konsumsi sehari-hari karena harganya yang tidak sesuai dengan penghasilan harian mereka. Oleh karena itu, kesempatan menyantap daging sapi menjadi kebahagiaan yang sederhana namun tak ternilai bagi masyarakat kepulauan Maluku.
“Sebenarnya ini belum ideal. Banyak daerah belum terjangkau. Tapi kami berkomitmen, setiap tahun jumlah hewan kurban bertambah dan penerima manfaat lebih banyak,” tutup Januri dengan senyum penuh harapan.






