Irpom Berdampak Nyata: Ketua KTNA & Gapoktan Bantah Potongan Dana

Indramayu3 Dilihat

DermayuMagz.com – Di tengah ancaman kekeringan yang menjadi tantangan klasik bagi sektor pertanian di Kabupaten Indramayu, bantuan Irigasi Perpompaan (Irpom) muncul sebagai solusi vital yang membawa angin segar bagi para petani. Keberadaan program ini tidak hanya sekadar bantuan teknis, namun telah menjelma menjadi penopang utama keberlangsungan produksi pangan di wilayah yang seringkali berhadapan dengan krisis air.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutrisno, beserta jajaran pengurus Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di berbagai daerah, secara tegas membantah adanya isu mengenai pemotongan dana bantuan Irpom. Pernyataan ini dilontarkan untuk mengklarifikasi informasi yang beredar dan memastikan transparansi serta akuntabilitas program yang sangat krusial bagi kesejahteraan petani.

Sutrisno menekankan bahwa bantuan Irpom yang disalurkan kepada kelompok tani di Indramayu telah memberikan dampak yang sangat nyata dan positif. Menurutnya, sistem perpompaan ini mampu menyediakan pasokan air yang stabil, terutama pada musim kemarau, yang sebelumnya menjadi kendala terbesar dalam upaya peningkatan hasil panen. Air yang mengalir lancar melalui Irpom memungkinkan petani untuk terus menggarap lahan mereka tanpa terhalang oleh ketersediaan air.

Lebih lanjut, Sutrisno menjelaskan bahwa program Irpom ini merupakan inisiatif penting yang didukung oleh pemerintah daerah maupun pusat. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dan memitigasi dampak negatif dari perubahan iklim, khususnya kekeringan yang semakin terasa intensitasnya di berbagai sentra pertanian. Dengan adanya Irpom, Indramayu, yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional, dapat mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitasnya.

Pernyataan senada juga datang dari para ketua Gapoktan yang menjadi garda terdepan dalam penerimaan dan penyaluran bantuan Irpom. Mereka mengakui bahwa bantuan ini telah memberikan perubahan signifikan dalam pola tanam dan frekuensi panen. Sebelum adanya Irpom, banyak petani terpaksa mengurangi intensitas tanam atau bahkan menghentikan aktivitas pertanian mereka saat musim kering tiba. Kini, dengan adanya sumber air yang terjamin, siklus produksi dapat berjalan lebih optimal.

Para ketua Gapoktan juga menyoroti bahwa bantuan Irpom tidak hanya berupa unit pompa air semata, namun seringkali disertai dengan pendampingan teknis dan pemeliharaan. Hal ini memastikan bahwa peralatan tersebut dapat berfungsi secara maksimal dan berkelanjutan. Mereka merasa terbantu dengan adanya dukungan ini, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada kegiatan budidaya tanpa khawatir akan masalah teknis atau ketersediaan air.

Mengenai isu pemotongan dana, Sutrisno menegaskan bahwa seluruh bantuan yang disalurkan melalui jalur resmi telah melalui prosedur yang jelas dan transparan. Ia mengimbau agar masyarakat, khususnya para petani, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Jika ada keraguan atau pertanyaan terkait penyaluran bantuan, petani diminta untuk langsung berkomunikasi dengan pengurus KTNA, Gapoktan, atau instansi terkait seperti Dinas Pertanian.

“Kami pastikan bahwa bantuan Irpom ini disalurkan sesuai dengan peruntukannya. Tidak ada pemotongan dana sedikit pun. Justru, kami berupaya agar bantuan ini dapat menjangkau seluruh petani yang membutuhkan dan memberikan manfaat yang maksimal,” ujar Sutrisno dengan tegas.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program Irpom ini juga tidak lepas dari peran serta aktif para petani dalam mengelola dan merawat fasilitas yang diberikan. Gotong royong dan rasa memiliki terhadap aset kelompok tani menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan program ini.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu menunjukkan bahwa program Irpom telah berhasil menjangkau ratusan hektar lahan pertanian di berbagai kecamatan. Keberhasilan ini berkontribusi besar terhadap pencapaian target produksi padi dan komoditas pertanian lainnya di Indramayu, yang pada akhirnya berdampak pada ketahanan pangan daerah dan nasional.

Lebih jauh, Sutrisno berharap agar program Irpom ini dapat terus berlanjut dan bahkan diperluas jangkauannya. Ia juga mengusulkan agar ada program pendampingan yang lebih intensif terkait optimalisasi penggunaan air dan teknik irigasi yang efisien, sehingga para petani dapat memanfaatkan bantuan ini secara lebih strategis dalam menghadapi tantangan pertanian di masa depan.

Ketua Gapoktan dari Kecamatan Losari, misalnya, mengungkapkan bahwa Irpom telah menjadi “urat nadi” pertanian di wilayahnya. “Dulu, kalau musim kemarau, sawah kami kering kerontang. Sekarang, dengan pompa ini, kami bisa tanam kapan saja. Hasil panen kami meningkat drastis, ekonomi petani pun ikut terangkat,” tuturnya penuh syukur.

Pernyataan serupa datang dari perwakilan Gapoktan di Kecamatan Patrol. Mereka mengakui bahwa sebelum ada Irpom, petani seringkali harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyewa pompa air pribadi atau bahkan membeli air. “Bantuan ini sangat meringankan beban kami. Kami tidak perlu lagi pusing mencari sumber air. Irpom telah menjadi solusi paling efektif,” jelasnya.

Dengan adanya klarifikasi tegas dari para tokoh pertanian di Indramayu, diharapkan isu miring mengenai pemotongan dana bantuan Irpom dapat segera teratasi. Fokus kini adalah bagaimana memaksimalkan manfaat dari program ini dan terus berinovasi dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian, demi kesejahteraan para petani dan ketahanan pangan Indonesia.