DermayuMagz.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengimbau masyarakat untuk secara aktif menjaga dan meningkatkan kebersihan lingkungan. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan dini terhadap potensi penularan Hantavirus di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Karawang, Yayuk Sri Rahayu, menekankan pentingnya kewaspadaan, meskipun hingga saat ini belum ada kasus Hantavirus yang terdeteksi di Karawang.
Ia menyatakan bahwa kewaspadaan terhadap penularan Hantavirus dari tikus ke manusia perlu ditingkatkan. Hal ini merupakan bagian dari langkah antisipasi atas informasi mengenai terdeteksinya kasus virus ini di Indonesia.
Yayuk mengimbau warga Karawang untuk tidak panik, namun tetap meningkatkan kesadaran akan kebersihan lingkungan mereka. Hantavirus diketahui sebagai penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh tikus melalui cairan tubuh seperti urin, feses, dan air liur.
Penularan virus ini tidak hanya melalui kontak langsung, tetapi juga dapat terjadi melalui debu di area yang terkontaminasi oleh kotoran tikus. Oleh karena itu, menjaga kebersihan menjadi kunci utama.
Lebih lanjut, Yayuk menjelaskan bahwa Dinkes Karawang telah menindaklanjuti Surat Edaran dari Kementerian Kesehatan. Fokus pemantauan diarahkan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang berobat ke puskesmas maupun rumah sakit.
Baca juga : Cara Membuat Polybag dari Daun Pisang, Hemat dan Ramah Lingkungan
Seluruh tenaga kesehatan di Karawang juga telah diinstruksikan untuk lebih jeli dalam menelusuri riwayat lingkungan pasien yang menunjukkan gejala flu berat. Tujuannya adalah untuk mendeteksi potensi penularan Hantavirus sejak dini.
“Kami memantau terus kasus ISPA atau SARI. Harapannya bukan Hanta, tapi tetap harus diperiksa lanjut lewat laboratorium untuk memastikan,” ujar Yayuk.
Hantavirus, atau virus hanta, adalah sekelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, khususnya tikus. Virus ini berpotensi menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan ginjal manusia.
Perhatian publik terhadap Hantavirus kembali meningkat menyusul adanya laporan kasus pada penumpang kapal pesiar MV Hondius yang berlayar ke Tenerife, Spanyol. Kejadian tersebut dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta juga melaporkan penemuan tiga kasus positif Hantavirus di ibu kota. Selain itu, enam kasus suspek lainnya masih dalam tahap pemantauan intensif oleh pihak berwenang.
Ani, seorang perwakilan dari Dinkes DKI, mengonfirmasi bahwa masih ada tiga kasus positif Hantavirus yang telah teridentifikasi. Sementara itu, enam kasus suspek masih terus dipantau secara ketat.
Menindaklanjuti arahan dari Kementerian Kesehatan, Dinkes DKI telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan Hantavirus. Surat edaran ini ditujukan kepada seluruh fasilitas kesehatan yang beroperasi di wilayah Jakarta.
Beberapa rumah sakit umum daerah (RSUD) di Jakarta juga telah ditetapkan sebagai rumah sakit sentinel. Penunjukan ini bertujuan untuk memperketat pemantauan dan deteksi dini kasus Hantavirus di kalangan masyarakat.
“Kami sudah menempatkan beberapa RSUD sebagai rumah sakit sentinel untuk memberikan monitoring yang lebih ketat untuk menangkap adanya suspek kasus hanta virus yang ada di masyarakat,” jelas Ani.
Selain itu, Dinkes DKI juga mengerahkan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini. Langkah ini penting jika terjadi peningkatan kasus Hantavirus yang signifikan.
Ani kembali menekankan pentingnya masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai upaya pencegahan utama. Penularan Hantavirus, menurutnya, terjadi melalui tikus, baik melalui kotoran, air liur, urine, maupun gigitan hewan tersebut.
“Kepada masyarakat pada dasarnya yang pertama adalah tetap melakukan protokol pola hidup bersih, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir karena itu adalah kunci untuk mencegah masuknya virus ke tubuh kita,” tegas Ani.






