DermayuMagz.com – Film terbaru bertajuk “Esok Tanpa Ibu” siap menyapa penikmat sinema Indonesia dengan sentuhan drama keluarga yang dibalut nuansa fiksi ilmiah.
Proyek ambisius ini merupakan hasil kolaborasi tiga negara, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia, menandai kerja sama lintas batas dalam industri perfilman.
Film ini digarap oleh BASE Entertainment dan Beacon Film, dengan pengembangan cerita yang telah dimulai sejak tahun 2020.
Fokus utama “Esok Tanpa Ibu” adalah mengangkat emosi universal yang seringkali menjadi inti dari dinamika keluarga.
Produser Shanty Harmayn menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya melibatkan rumah produksi di dalam negeri, tetapi juga menggandeng mitra dari Singapura melalui Refinery Media.
Selain itu, kursi sutradara dipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding, yang turut terlibat dalam proses pengembangan naskah hingga tahap produksi.
“Film ini sejak awal kami rancang sebagai kerja bersama. Dari pengembangan naskah sampai produksi, banyak pihak dan negara yang terlibat,” ujar Shanty dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Senin, 19 Januari 2026.
Proses pengembangan cerita “Esok Tanpa Ibu” sendiri bermula dari sebuah program bernama Wahana Kreator pada tahun 2020.
Program ini dirancang khusus untuk mendalami tema-tema kompleks yang berkaitan dengan keluarga dan teknologi, yang menjadi benang merah dalam film ini.
Kolaborasi lintas negara ini tentu menghadirkan tantangan tersendiri, salah satunya adalah perbedaan bahasa di lokasi syuting.
Namun, sutradara Ho Wi-ding justru melihat hal ini bukan sebagai hambatan utama dalam proses penyutradaraan.
Menurut Ho Wi-ding, film memiliki kekuatan pada emosi yang sifatnya universal, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada bahasa yang digunakan dalam dialog.
Ia menekankan bahwa fokus utamanya adalah pada ekspresi dan emosi yang ditampilkan oleh para aktor.
Baca juga di sini: Dian Sastro Terjatuh dari Kuda Saat Syuting "Esok Tanpa Ibu
“Bagi saya, ketika emosi itu benar, bahasa tidak lagi menjadi masalah. Film adalah medium universal,” tegas Ho Wi-ding.
Ho Wi-ding juga menyoroti betapa pentingnya proses casting yang tepat sebagai pondasi utama sebuah film.
Dengan pemilihan aktor yang sesuai, ia merasa dapat mempercayakan eksplorasi emosi kepada para pemeran, meskipun terdapat perbedaan bahasa di antara tim produksi.
“Jika Anda menemukan pemeran yang tepat, Anda tinggal mempercayai mereka. Biarkan mereka merasakan adegannya dan menjalankan dialognya sendiri,” imbuhnya.
Pendekatan ini turut dirasakan oleh aktor Ringgo Agus Rahman, yang memerankan karakter Bapak dalam film tersebut.
Ringgo mengungkapkan bahwa pendekatan sutradara membuat proses syuting terasa lebih jujur secara emosional.
Ia bercerita bahwa sutradara kerap meminta adegan diulang, meskipun dialog sudah benar, apabila emosi yang ditampilkan belum terasa pas.
“Kalau emosinya belum dapat, ya diulang,” ujar Ringgo.
Sementara itu, Dian Sastrowardoyo, yang tidak hanya berperan sebagai Laras tetapi juga menjabat sebagai produser, menjelaskan aspek teknis di balik perbedaan bahasa.
Ia memaparkan bahwa kru dan pemain menggunakan naskah dalam Bahasa Indonesia, sementara sutradara memegang versi Bahasa Inggris dari naskah tersebut.
“Terjemahannya harus benar-benar plek-ketiplek,” tegas Dian, menekankan pentingnya akurasi terjemahan untuk menjaga integritas cerita.
Film “Esok Tanpa Ibu” dijadwalkan akan mulai tayang di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia pada hari Kamis, 22 Januari 2026.






