DermayuMagz.com – Harga minyak mentah Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan, menembus angka di bawah USD 90 per barel. Penurunan ini terjadi setelah munculnya laporan mengenai draf kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kabar tersebut mengindikasikan bahwa Iran bersedia untuk memulihkan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz. Hal ini memberikan secercah harapan untuk stabilitas pasokan energi global yang sempat terganggu oleh ketegangan geopolitik.
Menurut laporan dari CNBC pada Rabu, 27 Mei 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat anjlok sekitar 4,6%. Angka ini membuatnya diperdagangkan pada level USD 89,55 per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, juga mengalami koreksi. Minyak Brent turun 3,73% dan diperdagangkan di kisaran USD 95,87 per barel.
Penurunan harga minyak ini dipicu oleh laporan televisi pemerintah Iran yang mengklaim telah memperoleh salinan rancangan kerangka nota kesepahaman dengan Amerika Serikat. Laporan tersebut merinci komitmen Iran untuk memulihkan arus perdagangan komersial melalui Selat Hormuz.
Iran disebut siap mengembalikan lalu lintas perdagangan di jalur penting tersebut ke tingkat sebelum konflik. Pemulihan ini diharapkan dapat terlaksana dalam kurun waktu satu bulan setelah kesepakatan dengan Washington tercapai.
Lebih lanjut, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Iran akan berkolaborasi dengan Oman dalam mengelola lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Selain itu, terdapat indikasi bahwa pasukan militer Amerika Serikat akan ditarik dari wilayah sekitar Iran.
Pencabutan blokade laut juga menjadi salah satu poin yang disebutkan dalam laporan tersebut. Keseluruhan poin ini jika terealisasi akan memberikan dampak besar pada dinamika pasar energi global.
Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat sendiri belakangan ini berada dalam fase yang penuh ketidakpastian. Terdapat peluang untuk tercapainya kesepakatan, namun di sisi lain potensi memanasnya konflik militer juga tetap ada.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat diketahui melancarkan serangan di wilayah selatan Iran. Pentagon menyatakan tindakan tersebut sebagai upaya pertahanan diri. Namun, Iran telah mengindikasikan akan melakukan aksi balasan atas serangan tersebut.
Meskipun muncul optimisme terkait pemulihan pasokan energi, beberapa pelaku industri minyak memberikan pandangan yang lebih hati-hati. Mereka menilai bahwa normalisasi arus minyak tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
Sultan Ahmed al-Jaber, kepala Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), pada pekan sebelumnya berpendapat bahwa pemulihan aliran minyak memerlukan waktu yang cukup panjang. Hal ini berlaku bahkan jika konflik dapat dihentikan segera.
Menurut perkiraannya, dibutuhkan setidaknya empat bulan agar arus minyak dapat kembali mencapai sekitar 80% dari tingkat normal. Sementara itu, pemulihan penuh diperkirakan baru akan tercapai pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027.
Baca juga : Harga Minyak Mentah Anjlok Lebih dari 5 Persen
Kondisi ini menunjukkan kompleksitas dalam pemulihan pasar energi, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik dan logistik.






