DermayuMagz.com – Jefan Nathanio, yang sebelumnya dikenal melalui sinetron remaja Asmara Gen Z, kini siap memukau penonton dengan peran barunya sebagai mahasiswa yang tersesat dalam misteri desa dalam film horor komedi bertajuk Dukun Magang.
Dalam film ini, Jefan memerankan karakter Raka, seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Beban tugas akhir ini membuatnya stres berat karena ide dan judul yang diajukan selalu ditolak oleh dosen pembimbingnya.
Situasi Raka semakin rumit ketika salah satu temannya, Sekar, yang diperankan oleh Hana Saraswati, memberikan ide untuk melakukan penelitian di Desa Kalimati. Desa ini terkenal memiliki banyak dukun, sebuah konsep yang sebenarnya membuat Raka, yang cenderung skeptis terhadap hal-hal mistis, merasa enggan.
Namun, karena desakan waktu dan minimnya pilihan, Raka akhirnya memutuskan untuk pergi ke Desa Kalimati. Ia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh Sekar dan Boiman, yang diperankan oleh Fajar Nugra. Awalnya, tujuan mereka hanya untuk mengumpulkan data skripsi semata.
Perjalanan mereka di Desa Kalimati tak berjalan mulus. Raka dan teman-temannya mulai menemukan berbagai keanehan yang tak terduga. Mereka menyaksikan ritual yang mengerikan, menemukan rumah-rumah tua yang menyimpan banyak cerita, dan berinteraksi dengan warga desa yang tampaknya menyembunyikan rahasia kelam.
Dalam perjalanannya, mereka juga bertemu dengan sosok Mbah Djambrong, yang diperankan oleh Adi Sudirja, seorang tokoh kunci yang mungkin menyimpan jawaban atas misteri desa tersebut.
Di luar layar lebar, Jefan Nathanio juga tengah disibukkan dengan jadwal syuting sinetron Asmara Gen Z yang tayang di SCTV. Ia menjalani peran tersebut bersama Arya Mohan, Harry Vaughan, dan rekan-rekan lainnya.
Menyeimbangkan karier akting yang sedang menanjak dengan pendidikan tinggi bukanlah hal yang mudah bagi Jefan. Ia merupakan mahasiswa S-1 di University of Jakarta International (Uniji).
“Masih, betul di Asmara Gen Z. Lumayan luar biasa, karena aku sambil kuliah juga ambil S-1 di Uniji,” ujar Jefan Nathanio.
Ia menjelaskan bagaimana ia mengatur jadwal kuliahnya yang padat, dimulai dari kelas pagi hingga siang hari, yang biasanya berlangsung hingga pukul empat sore.
“Di kampus, ada kelas pagi sama siang. Biasanya dari jam 8 sampai 16. Karena ada syuting, aku ikut kelas pagi baru berangkat syuting sampai malam,” jelas Jefan.
Ketika ada jadwal syuting tambahan di malam hari, Jefan harus pandai-pandai mengatur energinya agar tetap bisa menjalankan kedua aktivitasnya.
“Atau misal malam ada pekerjaan apalagi. Khusus untuk promosi film ini, yang sebentar lagi tayang, aku izin dulu untuk beberapa hari, mempromosikan film ini pagi ke siang, habis itu lanjut syuting,” tambahnya.
Jefan Nathanio, yang juga pernah membintangi film Tampan Tailor, mengungkapkan bahwa ia harus mengambil cuti beberapa hari khusus untuk mempromosikan film Dukun Magang, sebelum kembali melanjutkan rutinitas syuting.
Antara Karier dan Pendidikan
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Showbiz Liputan6.com di Gedung KLY Jakarta Pusat, Jefan Nathanio mengakui bahwa jadwal antara karier dan pendidikan saat ini memang sangat padat.
“Waktunya lumayan padat, itulah yang harus saya usahakan, harus bisa berdampingan antara karier dan pendidikan,” ujar Jefan Nathanio.
Ia kemudian mengenang kembali saat pertama kali ditawari peran Raka dalam film Dukun Magang.
Genre Komedi Horor
Jefan Nathanio melihat potensi besar dalam genre horor komedi yang diusung oleh film Dukun Magang.
“Manajerku mengirim sinopsis, ini salah satu yang aku suka karena kita bisa lihat di industri, memang secara pasar orang lagi suka banget genre horor dan komedi,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa kombinasi kedua genre tersebut seringkali menarik perhatian penonton di pasar film saat ini.
Jefan memiliki pengalaman sebelumnya dalam genre horor, namun ia mengakui bahwa salah satu film horor yang pernah dibintanginya kurang mendapat respons positif dari penonton.
“Jefan Nathanio pernah main film horor. Hasilnya agak mengecewakan karena penonton kurang suka. Mungkin karena sudah terlalu banyak yang seperti itu di pasar, jadi publik bosan,” ungkapnya.
Pasti Beda
Jefan Nathanio optimis bahwa film Dukun Magang akan memiliki daya tarik tersendiri dan berpeluang besar untuk memenangkan hati banyak penonton.
Ia juga menyoroti perbedaan signifikan dalam proses produksi antara syuting film dan sinetron.
“Pasti beda. Secara treatment saja ada proses reading, lebih detail dan dalam. Lebih fokus juga (dalam menyelami karakter Raka yang dipercayakan kepada saya),” Jefan Nathanio mengakhiri.
Ia merasa bahwa proyek film memberikan ruang lebih untuk eksplorasi karakter dan pendalaman cerita yang berbeda dibandingkan dengan ritme produksi sinetron yang lebih cepat.






