DermayuMagz.com – Penggemar film laga Tanah Air tentu masih teringat jelas duel epik antara Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam film “The Raid”. Kini, kedua bintang laga tersebut kembali dipertemukan dalam sebuah proyek film internasional berjudul “The Furious”. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 17 Juni 2026.
Menjelang penayangannya, Joe Taslim dan Yayan Ruhian hadir menyapa awak media dalam sesi konferensi pers yang diadakan di Epicentrum XXI pada Jumat (5/6/2026). Joe Taslim mengungkapkan antusiasmenya, “Pokoknya dunia action ini tidak pernah berhenti berusaha untuk melihat saya dan Kang Yayan gebuk-gebukan.”
Ia menambahkan bahwa ini adalah kali ketiga mereka beradu akting dalam sebuah film. “Ini sudah yang ketiga kali, ya. Di The Raid 16 tahun yang lalu, Hit & Run delapan tahun yang lalu. Wow, tiap delapan tahun kita saling bunuh-bunuhan ya,” ujar Joe Taslim sembari tertawa bersama Yayan Ruhian.
Namun, ada perbedaan signifikan dalam keterlibatan mereka di “The Furious”. Kali ini, mereka tidak tampil dalam film produksi Indonesia, melainkan sebuah sinema laga Hong Kong berbahasa Inggris yang diproduksi oleh Edko Films dan Lionsgate Films.
“Ini untuk yang rindu match Jaka versus Mad Dog,” kata Joe Taslim, merujuk pada peran ikonik mereka di film “The Raid”.
Keraguan Yayan Ruhian
Sementara itu, Yayan Ruhian mengaku sangat menantikan kesempatan untuk kembali beradu akting dengan Joe Taslim. Meskipun demikian, ia mengakui sempat memiliki keraguan sebelum menerima proyek ini.
“Begitu saatnya tiba, ada satu keraguan, masih bisa enggak berhadapan dengan seorang Jaka. Ototnya masih kuat, sementara saya kan…,” ucap Yayan Ruhian, yang langsung disela oleh Joe Taslim dengan kalimat menenangkan, “Masih kuat kok.”
“Alhamdulillah… Paling tidak masih bisa, masih bisa ngimbangin,” timpal Yayan Ruhian dengan raut wajah bahagia.
Sinopsis The Furious
Film “The Furious” mengisahkan tentang seorang pria bisu yang berprofesi sebagai tukang reparasi, diperankan oleh Xie Miao. Ia sangat mendalami seni kung fu dan menekankan pentingnya mempelajari bela diri ini kepada putri tunggalnya, Rainy (Yang Enyou). Rainy, yang awalnya kurang antusias, hanya ingin selalu bersama ayahnya setelah ibunya meninggal dunia.
Melalui bahasa isyarat, sang ayah berpesan, “Kamu harus belajar kung fu. Karena ayah tak selalu ada di sisimu untuk melindungimu.”
Perkataan sang ayah terbukti benar. Rainy diculik oleh sindikat perdagangan anak. Sang ayah yang bisu berjuang mati-matian untuk menyelamatkan putrinya. Dalam pencariannya, ia bertemu dengan Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang sedang mencari istrinya. Istrinya, yang juga seorang jurnalis investigatif, menghilang setelah menyelidiki kasus penculikan anak yang diduga terkait dengan perdagangan manusia.
Akankah ayah dan Navin berhasil menemukan orang yang mereka cintai?
Skor 100 Persen di Rotten Tomatoes
“The Furious” disutradarai oleh Kenji Tanigaki, seorang sineas yang dikenal melalui karya-karyanya seperti “Legend of Seven Monks” dan “Enter the Fat Dragon”. Ia juga turut berperan sebagai koreografer laga dalam seri film “Rurouni Kenshin”.
Film ini pertama kali ditayangkan di Toronto International Film Festival pada September 2025. Hingga kini, film tersebut berhasil meraih skor sempurna 100 persen dari para kritikus di situs agregator Rotten Tomatoes.
DermayuMagz.com – Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” karya Baim Wong kembali menyapa penonton melalui acara nonton bareng (nobar) yang serentak digelar di tujuh kota di Indonesia pada Minggu (7/6/2026). Acara ini diikuti oleh sekitar 1.162 peserta, termasuk penyandang disabilitas, komunitas kreatif, serta masyarakat umum. Kota-kota yang berpartisipasi dalam nobar ini adalah Jakarta, Cianjur, Padang, Pontianak, Baubau, Tanjungpinang, dan Malang.
Dalam acara yang berlangsung di Jakarta, hadir pula Raffi Ahmad. Ia turut mengapresiasi inisiatif Baim Wong yang melibatkan dua pemain dengan sindrom Down dalam film “Semua Akan Baik-Baik Saja”. Acara nobar ini bertujuan untuk menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan ruang seni, budaya, dan hiburan yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penyandang disabilitas.
Raffi Ahmad, yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, menyatakan, “Keterlibatan komunitas kreatif dan anak muda dalam kegiatan inklusif semacam ini penting untuk memperkuat budaya gotong royong juga kepedulian sosial. Ruang-ruang kreatif harus terus didorong menjadi terbuka, ramah, dan memberi kesempatan yang sama bagi semua warga untuk berpartisipasi.”
Acara nobar serentak ini diharapkan dapat menjadi momentum penting untuk mempererat jejaring komunitas di berbagai daerah. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memicu lahirnya lebih banyak inisiatif budaya yang berfokus pada aksesibilitas dan keberagaman.
Luar Biasa Menginspirasi
Raffi Ahmad memberikan apresiasi khusus kepada Baim Wong atas kesempatan yang diberikan kepada Alim dan Vanessa Calista Halim untuk tampil bersinar dalam film “Semua Akan Baik-Baik Saja”. Kedua aktor tersebut beradu akting dengan nama-nama besar seperti Christine Hakim, Reza Rahadian, dan Raihaanun.
“Terima kasih sahabat saya Baim Wong, semua pemain, dan semua kru film Semua Akan Baik-Baik Saja atas karya yang luar biasa menginspirasi,” tulis Raffi Ahmad dalam keterangan unggahan videonya yang menampilkan interaksinya dengan Alim dan Vanessa Calista.
Terima Kasih untuk Tak Pernah Menyerah
Lebih lanjut, Raffi Ahmad menyampaikan rasa terima kasihnya atas semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh para pemain dan kru. Ia berharap agar semua pihak senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan kesempatan untuk terus berkarya.
“Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan kesempatan untuk terus berkarya, menginspirasi, serta menghadirkan manfaat bagi sesama,” tambahnya.
Fiki Satari, Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), turut menekankan peran penting film sebagai medium untuk membangun empati. Ia berpendapat bahwa film dapat menjembatani berbagai kelompok masyarakat dalam sebuah ruang yang setara, menjadikan ruang budaya sebagai ruang bersama.
Pemahaman dan Solidaritas
“Ketika komunitas disabilitas dan komunitas kreatif berkumpul dalam satu pengalaman yang sama, lahir pemahaman, solidaritas, serta energi kolaborasi yang lebih kuat,” ujar Fiki Satari.
Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” dipilih karena mengangkat pesan kuat tentang harapan, ketangguhan dalam menghadapi tantangan hidup, serta pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan dan pertumbuhan individu. Nilai-nilai ini dianggap sangat relevan hingga saat ini. Baim Wong pun menyambut baik hal tersebut.
“Film adalah medium untuk menghadirkan percakapan, membangun empati, dan menghubungkan pengalaman manusia yang beragam. Saya harap pesan dalam film ini dapat diterima dan bermanfaat bagi banyak orang,” ungkap Baim Wong.






