Jokowi Berbagi Cerita Masa Lalu kepada Kiai dan Santri

News3 Dilihat

DermayuMagz.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Qodiri di Lampung Tengah pada Minggu, 28 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi menegaskan bahwa dirinya tidak mengalami perubahan signifikan, bahkan ia merasa masih sama seperti dahulu, seorang “orang desa”.

Kunjungan ini disambut dengan hangat oleh pengasuh pondok pesantren, para pengurus, santri, serta masyarakat yang hadir. Presiden Jokowi mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan yang diberikan.

Dalam pidatonya, Jokowi menekankan kedekatannya dengan masyarakat, khususnya yang berasal dari Lampung. Ia menyampaikan bahwa banyak warga Lampung yang secara rutin berkunjung ke kediamannya di Sumber, Solo. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa ia merasa perlu hadir dan bertemu langsung dengan masyarakat di Lampung.

“Karena setiap minggu yang hadir ke rumah saya, di Kampung Sumber itu, yang dari Lampung itu banyak sekali. Banyak menyampaikan, ‘Pak ini yang mau ikut banyak, Pak, tapi bisnya enggak muat.’ Sehingga saya datang ke sini karena ada undangan dari beliau Pak Kyai,” ujar Jokowi, menyoroti tingginya antusiasme masyarakat Lampung untuk bertemu dengannya.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Qodiri tidak hanya untuk memenuhi undangan dari pimpinan pondok pesantren. Kunjungan ini juga merupakan bagian dari upaya untuk mempererat tali silaturahmi dengan seluruh masyarakat Lampung.

Jokowi secara spesifik menyebutkan beberapa daerah di Lampung yang ingin ia sapa, termasuk Lampung Tengah, Mesuji, Pesawaran, dan Tulang Bawang. Keterbatasan waktu memang menjadi kendala, namun ia berharap dapat bersilaturahmi dengan sebanyak mungkin warga dari berbagai kabupaten di provinsi tersebut.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini tidak lupa menyampaikan apresiasinya kepada seluruh masyarakat yang telah hadir dan menyambutnya dengan penuh sukacita. Kunjungan kali ini merupakan hari terakhir dari rangkaian kunjungannya ke Provinsi Lampung.

“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan di hati bapak ibu sekalian. Terima kasih,” tutupnya, mengakhiri sambutan dengan nada kerendahan hati.

Pernyataan Jokowi yang menekankan kesederhanaan dan kedekatannya dengan rakyat ini seringkali menjadi sorotan. Ia kerap kali mengaitkan dirinya dengan latar belakangnya sebagai orang desa, yang dinilai mampu memahami denyut nadi kehidupan masyarakat akar rumput.

Budaya silaturahmi, terutama di lingkungan pesantren, memegang peranan penting dalam tradisi keagamaan dan sosial di Indonesia. Kunjungan presiden ke pondok pesantren seperti ini bukan hanya sekadar agenda formal, melainkan juga menjadi momen untuk menyerap aspirasi dan memperkuat ikatan emosional antara pemimpin negara dengan para ulama dan santri.

Pondok Pesantren Nurul Qodiri sendiri merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran dalam pengembangan masyarakat di Lampung. Kehadiran Presiden Jokowi di sana menunjukkan pengakuan terhadap kontribusi pondok pesantren dalam membangun karakter bangsa.

Dalam konteks politik dan sosial, pernyataan “masih seperti dulu, orang desa” yang dilontarkan Jokowi dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk terus menjaga citra merakyat dan membumi di hadapan publik. Ini juga bisa menjadi strategi komunikasi politik untuk mengingatkan kembali basis pendukungnya akan asal-usul dan nilai-nilai yang ia junjung.

Kunjungan ini juga terjadi di tengah berbagai dinamika yang dihadapi bangsa, di mana kehadiran pemimpin yang dianggap dekat dengan rakyat dapat memberikan rasa aman dan optimisme. Hubungan antara pemerintah dan tokoh agama, seperti kiai dan santri, selalu menjadi elemen krusial dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan di Indonesia.

Presiden Jokowi telah dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang lugas dan dekat dengan rakyat sejak awal karirnya. Dari Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi Presiden Republik Indonesia, ia kerap kali menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi masyarakat, terutama mereka yang berada di kalangan bawah.

Pesan yang disampaikan Jokowi di hadapan para kiai dan santri ini mengandung makna simbolis yang mendalam. Ia seolah ingin menegaskan bahwa meskipun telah memegang tampuk kekuasaan tertinggi, ia tidak melupakan akarnya dan tetap memegang teguh nilai-nilai kesederhanaan yang diajarkan di lingkungan pedesaan tempatnya dibesarkan.

Kunjungan seperti ini juga seringkali dimanfaatkan untuk mendiskusikan berbagai isu penting yang berkaitan dengan keagamaan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Para kiai dan tokoh agama seringkali menjadi penyeimbang dan memberikan masukan konstruktif bagi pemerintah.

Kehadiran Presiden di tengah-tengah komunitas pesantren juga menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan sektor keagamaan dan pendidikan di Indonesia. Pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral dan sosial bagi masyarakat.

Dengan demikian, kunjungan Presiden Jokowi ke Pondok Pesantren Nurul Qodiri di Lampung tidak hanya sekadar agenda kunjungan kerja, tetapi juga merupakan bentuk penguatan hubungan antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, sekaligus menegaskan kembali identitas dan prinsip kepemimpinan yang ia bawa.