DermayuMagz.com – Lagu daerah “Ampar-Ampar Pisang” yang berasal dari Kalimantan Selatan ternyata menyimpan makna mendalam yang melampaui sekadar permainan anak-anak.
Lagu yang akrab di telinga masyarakat Indonesia ini sesungguhnya mengisahkan tentang proses pembuatan sebuah penganan tradisional yang dikenal dengan nama rimpi.
Rimpi, atau terkadang juga disebut rimpi pisang, merupakan salah satu jajanan khas yang proses pembuatannya cukup unik dan membutuhkan ketelitian.
Dalam liriknya, “Ampar-ampar pisang, pisangku belum masak,” menggambarkan kondisi pisang yang belum siap untuk diolah menjadi rimpi.
Proses ini dimulai dari memetik pisang yang masih mentah atau setengah matang, yang kemudian akan melalui serangkaian tahapan pengolahan.
Selanjutnya, lirik “Masak bigi dihurung, balimbing lada, lamun bini urang, inya mehadang” memberikan gambaran lebih lanjut mengenai proses tersebut.
“Masak bigi dihurung” merujuk pada proses memasak pisang hingga matang, di mana biji-biji pisang yang ada di dalamnya akan ikut matang.
Sementara itu, “balimbing lada” mengindikasikan penambahan bumbu atau perasa, yang dalam konteks rimpi biasanya melibatkan gula dan sedikit garam untuk menyeimbangkan rasa manisnya.
Bagian lirik “lamun bini urang, inya mehadang” seringkali diartikan secara metaforis.
Secara harfiah, ini bisa merujuk pada kondisi pisang yang harus menunggu hingga matang sempurna, sama seperti seorang wanita yang menunggu jodohnya.
Namun, penafsiran yang lebih terkait dengan pembuatan rimpi adalah bahwa pisang yang sudah diolah dan diberi bumbu harus menunggu proses selanjutnya, yaitu dibentuk dan dimasak.
Lagu ini juga sering dinyanyikan sambil melakukan gerakan tangan yang menirukan proses memarut atau mengaduk adonan.
Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa lagu ini erat kaitannya dengan aktivitas pembuatan makanan tradisional.
Tradisi pembuatan rimpi ini biasanya dilakukan secara gotong royong, terutama pada acara-acara tertentu atau ketika ada hajatan.
Baca juga di sini: Dua Terdakwa Kasus Pembunuhan Sekeluarga di Indramayu Terekam CCTV Setelah Kejadian
Prosesnya dimulai dengan mengupas pisang yang sudah dipilih, kemudian pisang tersebut akan dihaluskan.
Setelah halus, adonan pisang akan dicampur dengan gula, sedikit garam, dan terkadang tambahan lain seperti tepung beras untuk memberikan tekstur yang lebih padat.
Kemudian, adonan tersebut dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil atau pipih, tergantung selera.
Pembentukan ini seringkali dilakukan oleh para wanita, yang kemudian dinyanyikan lagu “Ampar-Ampar Pisang” untuk mengiringi pekerjaan mereka.
Setelah dibentuk, rimpi akan digoreng dalam minyak panas hingga berwarna keemasan dan matang.
Proses penggorengan ini membutuhkan kehati-hatian agar rimpi tidak gosong dan matang merata.
Ternyata, lagu “Ampar-Ampar Pisang” juga memiliki kaitan dengan permainan anak-anak.
Dalam permainan ini, anak-anak akan duduk melingkar, dan salah satu anak akan berperan sebagai “ibu” yang menjaga pisang.
Anak-anak lain akan mencoba mengambil pisang tersebut, sementara sang “ibu” berusaha mencegahnya.
Permainan ini menggunakan lagu “Ampar-Ampar Pisang” sebagai latar belakangnya, dengan gerakan tangan yang mengikuti irama lagu.
Gerakan ini bisa diartikan sebagai simulasi dari proses mengolah pisang.
Meskipun lagu ini populer sebagai lagu permainan, makna aslinya tentang proses pembuatan rimpi pisang seringkali terlupakan.
Lagu ini menjadi warisan budaya yang berharga dari Kalimantan Selatan, yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengajarkan tentang tradisi kuliner daerah.
Keberadaan lagu ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Proses pembuatan rimpi pisang sendiri merupakan sebuah seni kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Setiap keluarga mungkin memiliki sedikit variasi dalam resep atau cara pembuatannya, namun esensi dari rimpi pisang tetap sama.
Lagu “Ampar-Ampar Pisang” menjadi pengingat akan kekayaan kuliner Indonesia yang perlu terus dilestarikan.
Dalam konteks yang lebih luas, makna lagu ini juga bisa dimaknai sebagai proses kesabaran dan ketekunan.
Sama seperti pisang yang harus menunggu matang dan diolah dengan baik untuk menjadi rimpi yang lezat, demikian pula dalam kehidupan, banyak hal yang membutuhkan waktu dan proses untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Lagu ini mengajak kita untuk menghargai setiap tahapan dalam sebuah proses, baik itu dalam pembuatan makanan, pencapaian tujuan, maupun dalam menjalani kehidupan.
Kekhasan lirik dan melodi lagu “Ampar-Ampar Pisang” membuatnya mudah diingat dan dinyanyikan oleh berbagai kalangan usia.
Hal ini menjadi salah satu faktor mengapa lagu ini tetap bertahan dan dikenal hingga kini.
Melalui lagu ini, generasi muda dapat belajar tentang kearifan lokal dan tradisi nenek moyang.
Lebih dari sekadar hiburan, “Ampar-Ampar Pisang” adalah cerminan dari budaya masyarakat Kalimantan Selatan yang kaya dan penuh makna.
Lagu ini mengajarkan tentang kebersamaan dalam mengolah makanan, kesabaran dalam menunggu proses, dan kegembiraan dalam menikmati hasil karya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengenalkan dan melestarikan lagu-lagu daerah seperti “Ampar-Ampar Pisang” agar maknanya tidak hilang ditelan zaman.
Ini adalah cara kita menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.






