Peluang Ekonomi dari Pengendalian Malaria, UMKM Berperan

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Pengendalian malaria kini tidak lagi hanya dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat semata. Lebih dari itu, upaya pemberantasan penyakit ini memiliki potensi besar untuk menciptakan peluang ekonomi, mendorong investasi, serta meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran negara, terutama di wilayah yang masih terdampak malaria.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Industri Pest Management Indonesia (APJIPMI), Boyke Arie Pahlevi. Menurutnya, penanganan malaria memerlukan sebuah paradigma baru yang lebih komprehensif. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga mencakup modifikasi lingkungan, surveilans terhadap vektor penyakit, serta kolaborasi yang kuat antar berbagai sektor.

Boyke menambahkan bahwa pendekatan yang holistik ini dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Dengan melibatkan berbagai pihak, tercipta ruang bagi pelaku usaha lokal, industri kreatif, hingga sektor teknologi untuk berkontribusi dalam upaya pengendalian malaria.

“Terdapat urgensi untuk melibatkan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Ekonomi Kreatif (Ekraf), serta inovasi Digital sebagai ujung tombak eksekusi pengendalian vektor di lapangan, termasuk di area endemik tinggi seperti Papua,” ungkap Boyke pada Selasa, 9 Juni 2026.

Pelibatan UMKM dan ekonomi kreatif dinilai mampu menciptakan berbagai aktivitas ekonomi baru di daerah-daerah yang rentan terhadap malaria. Boyke memberikan contoh konkret, bahwa UMKM dapat berperan aktif melalui budidaya tanaman yang memiliki kandungan pestisida alami.

Selain itu, UMKM juga dapat berkontribusi dalam pengembangan ikan kepala timah yang dikenal efektif sebagai pengendali alami larva nyamuk. Sementara itu, sektor ekonomi kreatif memiliki potensi untuk mengembangkan produk-produk inovatif yang tidak hanya memiliki nilai komersial, tetapi juga mendukung program kesehatan masyarakat.

Contoh produk tersebut adalah aromaterapi yang berfungsi sebagai pengusir nyamuk. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu dalam penyediaan data yang akurat secara *real-time*. Hal ini akan mempercepat proses pengambilan keputusan dalam penanganan malaria, sehingga menjadi lebih efektif dan efisien.

Urgensi untuk memperkuat pengendalian malaria semakin terasa mengingat adanya peningkatan kasus penyakit ini di Indonesia. Data dari APJIPMI menunjukkan bahwa pada tahun terakhir, kasus malaria nasional tercatat mencapai 706.297 kasus. Angka ini sangat signifikan, dengan lebih dari 90 persen kasus berasal dari Provinsi Papua, yang menjadikannya sebagai episentrum penanganan malaria di Indonesia.

Peningkatan kasus malaria tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi besar mengganggu produktivitas tenaga kerja dan aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah yang terdampak. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk penanganan malaria.

Pada tahun 2025, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp530 miliar untuk penanganan malaria. Anggaran ini mencakup berbagai upaya, termasuk pengadaan kelambu sebagai salah satu alat pencegahan.

Meskipun anggaran yang dialokasikan cukup besar, APJIPMI menekankan pentingnya strategi yang lebih tepat sasaran agar anggaran tersebut dapat memberikan dampak yang maksimal. Organisasi ini juga mengusulkan agar kegiatan pengendalian vektor malaria dilakukan dengan lebih efektif melalui mekanisme *outsourcing* pengendalian vektor.

Dengan mekanisme ini, penanganan malaria diharapkan dapat dilakukan secara lebih profesional dan berkelanjutan. Boyke menjelaskan bahwa paradigma baru dalam pengendalian vektor malaria harus mengedepankan pendekatan *Larva Source Management*. Pendekatan ini memiliki komponen utama yang berfokus pada surveilans vektor penyakit dan modifikasi lingkungan yang dilakukan secara terus-menerus.

Tujuannya adalah untuk memetakan daerah-daerah yang rentan terhadap penularan malaria, memahami dinamika penularan penyakit, serta merancang tindakan pengendalian yang paling tepat, efektif, dan efisien. Hal ini krusial untuk mencegah terjadinya wabah dan mencapai target eliminasi malaria.