DermayuMagz.com – Tren investasi logam mulia di Indonesia mengalami dinamika pada kuartal III 2026. Laporan terbaru dari World Gold Council (WGC) mencatat adanya kontraksi pada permintaan emas batangan dan koin di pasar domestik, yang menunjukkan perubahan perilaku investor di tengah fluktuasi ekonomi global.

Berdasarkan data yang dirilis pada Sabtu (7/11/2026), permintaan emas batangan dan koin di Indonesia tercatat mengalami penurunan sebesar 25 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sebagai catatan, pada kuartal III tahun lalu, volume permintaan sempat menyentuh angka 17,7 ton.

Jika dibandingkan secara berurutan atau secara kuartalan, tren penurunan ini juga terlihat nyata. Pada kuartal II 2026, permintaan emas di Indonesia tercatat sebesar 14,5 ton. Dengan demikian, terdapat koreksi sekitar 8 persen pada kuartal III 2026 dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya.

Meski terjadi perlambatan pada kuartal ketiga, performa akumulatif selama sembilan bulan pertama tahun 2026 tetap menunjukkan tren positif. Secara total, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 51 ton, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 17 persen dibandingkan dengan periode sembilan bulan pertama tahun 2025.

Faktor Pendorong dan Respon Pasar

Analisis WGC menyoroti bahwa perlambatan pembelian ini terjadi di tengah tren harga emas global yang sedang dalam posisi tinggi. Merujuk pada acuan LBMA Gold Price PM, rata-rata harga emas dunia pada kuartal III 2026 mencapai US$ 4.262 per ons, yang merupakan peningkatan sebesar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan harga yang signifikan ini memicu sikap defensif di kalangan investor ritel. Banyak pelaku pasar memilih untuk menunda pembelian atau bersikap wait and see, menunggu momentum yang lebih tepat dengan arah pergerakan harga yang lebih stabil. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terlihat dalam skala global, di mana permintaan emas batangan dan koin secara internasional turun 19 persen secara tahunan menjadi 267,8 ton.

Beberapa poin utama terkait kondisi pasar emas saat ini meliputi:

“Emas secara historis tetap dipandang sebagai lindung nilai yang kuat, namun dinamika harga yang agresif sering kali memicu jeda dalam pola konsumsi ritel di pasar domestik,” demikian implikasi dari laporan tersebut.

Secara keseluruhan, pasar emas di Indonesia menunjukkan karakter yang cukup resilien. Meskipun terdapat tekanan pada volume transaksi kuartalan akibat faktor harga, minat masyarakat terhadap logam mulia sebagai bagian dari diversifikasi aset tetap terjaga dengan baik hingga penghujung kuartal III 2026.