**Pilihan 1:** Kinerja Solid Artha Primanusa Raih EBITDA Rp 145 Miliar di Tengah Ketidakpastian Global **Pilihan 2:** Meski Dunia Bergejolak, Artha Primanusa Catat EBITDA Rp 145 Miliar **Pilihan 3:** Artha Primanusa Tetap Kuat, EBITDA Capai Rp 145 Miliar di Tengah Krisis Global

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Di tengah gejolak global yang mempengaruhi sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba) nasional, PT Andalan Artha Primanusa berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang kuat. Perusahaan ini berhasil membukukan EBITDA sebesar Rp 145,4 miliar berkat penerapan strategi efisiensi biaya yang ketat dan selektivitas dalam memilih kontrak.

Kondisi pasar global yang tidak pasti akibat dinamika geopolitik, serta kenaikan biaya operasional, menjadi tantangan signifikan bagi industri minerba. Hal ini mendorong perusahaan untuk lebih adaptif, menjaga keseimbangan antara transisi bisnis dan operasional, serta memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral global.

Dalam menghadapi situasi ini, PT Andalan Artha Primanusa menunjukkan ketahanan finansialnya. Dengan mengedepankan efisiensi biaya dan selektivitas kontrak, perusahaan berhasil mengamankan margin EBITDA sebesar 39% pada tahun fiskal 2025. Keberhasilan ini menjadi bukti kemampuan perusahaan dalam beradaptasi dengan kondisi pasar yang menantang.

Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, menjelaskan bahwa disiplin finansial dan keunggulan operasional menjadi kunci utama perusahaan. Strategi ini membantu perusahaan mengatasi tantangan force majeure dan cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang tahun lalu.

Baca juga : Putri KW Gantikan Gregoria di Pelatnas PBSI

Gahari menambahkan bahwa fokus utama perusahaan ke depan adalah menjaga komitmen terhadap pertumbuhan yang solid dan terukur. Hal ini bertujuan untuk memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan perusahaan.

Pada tahun 2025, Andalan Artha Primanusa mencatatkan nilai EBITDA sebesar Rp 145,4 miliar. Margin EBITDA yang mencapai 39% merupakan hasil dari investasi strategis perusahaan dalam pembaruan armada. Armada baru ini terbukti mampu secara signifikan mengurangi konsumsi bahan bakar, yang merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar dalam bisnis jasa pertambangan.

Selain itu, manajemen perusahaan juga menerapkan pendekatan yang selektif dalam memilih kontrak baru. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan profitabilitas yang sehat secara berkelanjutan.

Proyeksi Pertumbuhan Jangka Panjang

Dengan adanya kepastian volume dari sejumlah kontrak jangka panjang yang sedang berjalan, Andalan Artha Primanusa telah menetapkan target Pertumbuhan Tahunan Majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR) hingga tahun 2028.

Pendapatan perusahaan diproyeksikan akan meningkat dengan CAGR sebesar 28%. Target pendapatan pada tahun 2026 adalah Rp949,6 miliar, yang diharapkan meningkat menjadi Rp1,41 triliun pada tahun 2027. Untuk tahun 2028, perusahaan menargetkan pendapatan sebesar Rp1,55 triliun.

Untuk mencapai target finansial tersebut, Andalan Artha Primanusa melakukan diversifikasi aliran pendapatan. Langkah ini diambil agar perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu jenis komoditas saja. Ekspansi ke industri nikel menjadi salah satu realisasi strategis ini, setelah perusahaan meraih Letter of Award (LoA) dari PT Position (Grup Harum Energy) untuk proyek multi-site di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Gahari menekankan bahwa di tengah standar efisiensi global yang semakin ketat, akuntabilitas finansial dan keandalan sistem menjadi nilai jual utama Andalan. Hal ini penting dalam memenangkan kontrak-kontrak bernilai tinggi di masa depan.

Perusahaan berkomitmen penuh untuk terus berada di garis depan sebagai mitra strategis. Melalui pilar operational excellence yang kuat, investasi armada yang tepat, serta kedisiplinan dalam pemilihan kontrak, Andalan Artha Primanusa berupaya mengawal stabilitas operasional dan mendukung keberlanjutan rantai pasok industri pertambangan di Indonesia.