Prancis Belajar Banyak dari Laga Ketat Melawan Paraguay di Piala Dunia

bola3 Dilihat

DermayuMagz.com – Tim Nasional Prancis berhasil mengamankan satu tempat di babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah melewati adangan Paraguay dengan skor tipis 1-0. Pertandingan yang berlangsung di Philadelphia Stadium pada Sabtu, 4 Juli 2026, waktu setempat, bukan sekadar kemenangan biasa bagi Les Bleus, melainkan sebuah pelajaran berharga mengenai adaptasi terhadap gaya permainan lawan yang cenderung keras dan penuh kontak fisik.

Sejak awal peluit dibunyikan, Prancis dihadapkan pada tembok pertahanan Paraguay yang sangat disiplin dan kokoh. Tim asuhan Gustavo Alfaro ini menerapkan strategi bertahan yang rapat, membuat Kylian Mbappé dan kawan-kawan kesulitan untuk menembus lini belakang lawan. Lebih dari itu, Paraguay tak ragu menggunakan taktik keras, termasuk tekel-tekel berbahaya dan provokasi yang ditujukan untuk memancing emosi pemain Prancis, khususnya sang bintang, Mbappé.

Situasi pertandingan semakin menarik perhatian ketika wasit Ilgiz Tantashev dari Uzbekistan tercatat tidak mengeluarkan satu pun kartu kuning untuk Paraguay, sementara Prancis harus menerima tiga kartu kuning. Perbedaan perlakuan ini memicu sorotan terhadap gaya permainan Paraguay yang dinilai berlebihan dan berpotensi membahayakan. Namun, di tengah tekanan tersebut, Prancis menunjukkan kedewasaan dan ketenangan.

Pelatih Prancis, Didier Deschamps, memuji mentalitas juang anak asuhnya. Ia mengungkapkan bahwa timnya telah dipersiapkan untuk menghadapi skenario pertandingan yang sulit. “Mereka mencoba memancing reaksi, tapi kami tetap tenang. Itu kunci kami menang,” ujar Deschamps, menekankan pentingnya kontrol emosi dalam menghadapi provokasi lawan.

Dominasi Prancis dalam penguasaan bola tidak serta-merta membuahkan gol di babak pertama. Pertahanan Paraguay yang solid berhasil meredam setiap upaya serangan Prancis. Skor kacamata bertahan hingga turun minum, menandakan betapa sulitnya Prancis untuk menciptakan peluang yang benar-benar mengancam gawang lawan.

Titik terang bagi Prancis datang pada menit ke-70. Setelah melalui tinjauan Video Assistant Referee (VAR), wasit menunjuk titik putih tanda penalti. Keputusan ini diambil setelah Desire Doue dilanggar oleh gelandang Paraguay, Diego Gomez, di dalam kotak terlarang. Kylian Mbappé maju sebagai eksekutor dan dengan tenang berhasil menaklukkan penjaga gawang Paraguay, membawa timnya unggul 1-0.

Gol penentu ini menjadi bukti nyata bahwa Prancis bukan hanya tim yang identik dengan permainan indah dan menyerang. Dalam pertandingan ini, mereka juga menunjukkan sisi tangguh dan kemampuan beradaptasi. Mbappé sendiri mengakui bahwa kemenangan ini memberikan pelajaran penting.

“Kami tahu jenis pertandingan seperti apa yang dihadapi. Saya pikir sangat bagus bagi kami untuk mengalami pertandingan seperti itu dan melihat bagaimana kami menghadapinya. Kami menunjukkan bukan hanya sebagai tim yang mampu bermain sepak bola menyerang,” ungkap Mbappé, sebagaimana dikutip dari situs resmi FIFA.

Ia menambahkan, “Setiap tim menggunakan kekuatan masing-masing – tidak ada cara yang benar atau salah untuk bermain. Satu-satunya cara yang benar adalah menang. Sekarang kami harus fokus pada Maroko. Kami sangat menantikan untuk menghadapi mereka karena kami tahu mereka adalah tim yang sangat bagus.”

Pernyataan Mbappé ini menegaskan bahwa Prancis telah belajar untuk tidak hanya mengandalkan keindahan permainan, tetapi juga kesiapan mental dan fisik untuk menghadapi segala bentuk perlawanan. Bek Prancis, William Saliba, juga membenarkan hal ini. Ia mengungkapkan bahwa pelatih Didier Deschamps telah memberikan peringatan dini mengenai gaya bermain kasar Paraguay melalui analisis video.

Persiapan matang dan mentalitas baja yang ditunjukkan Prancis dalam pertandingan ini menjadi bekal penting untuk menghadapi babak selanjutnya. Di babak perempat final, Prancis dijadwalkan akan berhadapan dengan Maroko, tim yang juga menunjukkan performa impresif dan belum terkalahkan hingga fase ini.

Duel melawan Paraguay ini, meskipun melelahkan dan penuh intrik, terbukti menjadi ajang pembelajaran yang tak ternilai bagi Prancis. Mereka membuktikan diri mampu keluar dari zona nyaman permainan menyerang, dan menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang komplet, siap bertempur dalam berbagai kondisi demi meraih gelar juara Piala Dunia 2026.