Semakin Banyak Pengguna Mobil Bensin Beralih ke Kendaraan Listrik

Otomotif5 Dilihat

DermayuMagz.com – Tren peralihan dari mobil konvensional bermesin pembakaran internal (ICE) ke kendaraan listrik (EV) semakin menguat di Amerika Serikat. Data terbaru dari Edmunds menunjukkan peningkatan signifikan pada konsumen yang menukar mobil bensin mereka untuk beralih ke EV baru, bahkan setelah insentif pajak federal tidak lagi berlaku.

Pada Januari 2026, tercatat sekitar 67,1 persen pembeli mobil listrik baru melakukan tukar tambah kendaraan bensin. Angka ini mengalami lonjakan menjadi 72,1 persen pada April 2026. Fenomena ini tidak hanya menarik bagi pengguna baru EV, namun juga menunjukkan pergeseran di kalangan pemilik EV yang sudah ada.

Konsumen yang sebelumnya telah memiliki EV, kini juga semakin banyak yang mengganti mobil listrik lama mereka dengan model EV yang lebih baru. Pada Januari 2026, persentase pemilik EV yang melakukan tukar tambah dengan EV lain adalah 26,2 persen, dan angka ini melonjak menjadi 35,4 persen pada April 2026.

Meskipun demikian, beberapa analis berpendapat bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan bahwa tren ini merupakan perubahan permanen dalam preferensi konsumen otomotif.

Salah satu faktor yang diyakini turut mendorong peningkatan minat terhadap EV adalah kenaikan harga bahan bakar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Peristiwa geopolitik seperti serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, diduga kuat memicu kenaikan harga minyak dan bahan bakar.

Ivan Drury, Senior Director of Insights di Edmunds, menekankan bahwa diperlukan waktu lebih lama untuk mengamati apakah tren ini benar-benar berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa setidaknya dibutuhkan waktu tiga bulan lagi, dengan asumsi harga bahan bakar tetap tinggi, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.

Drury menambahkan, tingginya angka tukar tambah mobil listrik (EV trade-in) akan menjadi indikator penting. Hal ini akan menunjukkan apakah konsumen benar-benar merasa terbebani oleh biaya pengisian bahan bakar fosil sehingga akhirnya mempertimbangkan secara serius untuk beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi.

Di sisi lain, tren kenaikan harga kendaraan secara umum memang terus terjadi, baik untuk mobil baru maupun mobil bekas. Namun, data dari Cox Automotive menunjukkan bahwa EV justru mencatatkan kenaikan nilai jual kembali yang lebih tinggi dibandingkan mobil berbahan bakar bensin (ICE).

Indeks Manheim Used Vehicle Value melaporkan bahwa harga mobil bekas listrik saat ini tercatat sekitar 4 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menunjukkan ketahanan nilai jual kembali EV di pasar mobil bekas.

Lebih lanjut, harga mobil listrik bekas yang berusia tiga tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 11 persen sejak awal tahun. Selama enam pekan berturut-turut, performa harga kendaraan listrik bekas ini mampu mengungguli kendaraan non-listrik.

Jeremy Robb, Chief Economist di Cox Automotive, menjelaskan fenomena ini lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa harga kendaraan listrik meningkat lebih cepat dan cenderung bertahan di level yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan non-listrik.

Robb menggarisbawahi bahwa mobil listrik berusia tiga tahun telah menunjukkan performa harga yang lebih baik daripada kendaraan non-listrik selama enam minggu berturut-turut. Kenaikan sebesar 11 persen sejak awal tahun ini merupakan indikator kuat. Ia menambahkan, semakin lama harga bahan bakar bertahan tinggi, semakin besar pula peluang konsumen untuk beralih ke kendaraan yang lebih efisien dalam penggunaan energi.

Sementara itu, segmen SUV dan crossover bermesin bensin justru mencatatkan kenaikan harga paling rendah, hanya sekitar 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini kontras dengan mobil kompak yang dikenal lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar, yang mencatat kenaikan nilai sebesar 7,6 persen.

Data ini mengindikasikan adanya pergeseran prioritas konsumen. Mereka mulai mempertimbangkan efisiensi operasional sebagai faktor utama dalam memilih kendaraan. Meskipun demikian, para analis masih menunggu konfirmasi lebih lanjut apakah tren ini akan menjadi perubahan jangka panjang dalam pasar otomotif, atau sekadar respons sementara terhadap tingginya harga bahan bakar fosil saat ini.

Pergeseran ini menandakan bahwa kesadaran akan efisiensi energi dan dampak lingkungan semakin memengaruhi keputusan pembelian konsumen, membuka jalan bagi dominasi kendaraan listrik di masa depan.