Setoran Rp 1,6 Triliun PT Timah untuk Negara

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – PT Timah (Persero) Tbk mencatat peningkatan signifikan dalam kontribusinya kepada negara sepanjang tahun 2025. Perusahaan anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID ini berhasil menyetorkan dana sebesar Rp 1,624 triliun, yang terdiri dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Jumlah ini melonjak tajam hingga 106,9 persen jika dibandingkan dengan realisasi pada tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 855,044 miliar.

Corporate Secretary PT Timah, Ruddy Nursalam, menyatakan bahwa kontribusi melalui pajak dan PNBP ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab. Hal ini dilakukan agar manfaatnya dapat dirasakan kembali oleh masyarakat dan negara.

Kontribusi yang disetorkan mencakup berbagai komponen penting. Di antaranya adalah pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), royalti, bea keluar, serta iuran produksi yang wajib dibayarkan oleh perusahaan sebagai pemegang izin usaha pertambangan.

Peningkatan kontribusi kepada negara ini juga sejalan dengan kinerja keuangan perusahaan yang membaik sepanjang tahun 2025. PT Timah tercatat berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun pada tahun tersebut.

Ruddy menambahkan bahwa kenaikan kontribusi ini menjadi bukti nyata komitmen PT Timah dalam mendukung penerimaan negara. Selain itu, hal ini juga memperkuat peran perusahaan sebagai salah satu entitas strategis nasional di sektor pertambangan timah.

Laba Bersih PT Timah Melampaui Target

Baca juga : 7 Langkah Budidaya Ayam Petelur dengan Modal Terbatas, dari Awal Hingga Hasil Memuaskan

PT Timah Tbk (TINS) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun 2025. Laba bersih yang berhasil dibukukan perusahaan melampaui target yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025.

Perseroan berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun. Angka ini setara dengan 119% dari target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pencapaian gemilang ini didukung oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tren kenaikan harga timah di pasar global yang terus menunjukkan tren positif. Selain itu, strategi perusahaan dalam memperkuat tata kelola pertambangan juga berkontribusi besar.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menjelaskan bahwa perusahaan terus berfokus pada penguatan operasional dan peningkatan efisiensi di berbagai lini.

“Pada tahun 2025 Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,” ujar Restu Widiyantoro, seperti dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (23/4/2026).

Secara global, harga timah memang menunjukkan performa yang impresif. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) tercatat mencapai USD 34.119,96 per ton. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 13% jika dibandingkan dengan harga pada tahun sebelumnya.

Dari sisi kinerja pendapatan, PT Timah membukukan pendapatan sebesar Rp 11,55 triliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 6,41% dibandingkan dengan pendapatan pada tahun 2024 yang sebesar Rp 10,86 triliun. Perusahaan juga mencatat laba usaha sebesar Rp 1,91 triliun dan EBITDA sebesar Rp 2,76 triliun.

Tantangan Produksi dan Ekspansi Pasar

Meskipun kinerja keuangannya solid, PT Timah tidak luput dari tantangan di sisi produksi. Produksi bijih timah tercatat sebesar 18.635 ton Sn, yang mengalami penurunan sebesar 4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Penurunan volume produksi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah maraknya aktivitas penambangan ilegal yang merusak ekosistem pertambangan. Selain itu, penolakan dari masyarakat di sejumlah wilayah yang memiliki potensi tambang baru juga menjadi kendala.

Produksi logam timah juga mengalami penurunan, yakni sebesar 6% menjadi 17.815 metrik ton. Sejalan dengan hal tersebut, volume penjualan timah juga tercatat menurun sebesar 5%, mencapai 16.634 metrik ton.

Namun demikian, di tengah penurunan volume penjualan, harga jual rata-rata logam timah justru menunjukkan peningkatan yang signifikan. Harga jual rata-rata tercatat naik sebesar 13% menjadi USD 35.240 per metrik ton.

Dari sisi pasar, ekspor masih menjadi tulang punggung penjualan PT Timah, dengan kontribusi mencapai 95%. Sementara itu, pasar domestik hanya menyumbang sebesar 5%. Enam negara utama tujuan ekspor perusahaan meliputi Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Italia, dan China.

Untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah dinamika industri global yang penuh tantangan, PT Timah terus berupaya melakukan efisiensi biaya operasional dan pengelolaan utang secara cermat.