DermayuMagz.com – Di era digital yang serba cepat, Generasi Z (Gen Z) tumbuh di tengah arus informasi yang tiada henti. Linimasa media sosial kerap menampilkan kehidupan orang lain yang tampak gemerlap, mulai dari liburan mewah, gawai terbaru, hingga mobil sport, seolah menjadi standar keseharian.
Tekanan sosial untuk segera meraih kesuksesan dan ketakutan akan ketinggalan (FOMO) membuat ilusi kaya instan menjadi sangat menarik bagi Gen Z. Fenomena flexing atau memamerkan kekayaan di media sosial semakin memperkuat aspirasi instan ini. Siapa yang tidak tergoda melihat teman sebaya berpose di depan mobil mewah atau mengenakan jam tangan bernilai ratusan juta?
Namun, kilauan di layar gawai seringkali menipu. Penting untuk dipertanyakan, seberapa banyak kemewahan instan tersebut merupakan hasil kerja keras yang nyata, dan seberapa banyak yang hanya sekadar ilusi atau bahkan praktik penipuan.
Pola pikir finansial Gen Z sangat dipengaruhi oleh budaya instan ini. Akibatnya, banyak anak muda terjerat dalam gaya hidup konsumtif, terlilit utang paylater, dan mengadopsi standar kesuksesan semu yang diciptakan oleh media sosial. Tanpa literasi finansial yang memadai dan kesabaran, impian instan justru berisiko berubah menjadi mimpi buruk.
Dari Flexing ke Jeruji Besi
Publik masih teringat jelas bagaimana dua influencer muda yang sempat dijuluki crazy rich, Indra Kenz dan Doni Salmanan, harus berhadapan dengan hukum. Keduanya, yang merupakan generasi milenial akhir dan kerap memamerkan kemewahan di media sosial, tiba-tiba harus mengenakan seragam tahanan.
Pada awal tahun 2022, keduanya tersandung kasus investasi bodong dan penipuan. Indra Kesuma alias Indra Kenz, yang sering memamerkan koleksi mobil sport dan jam tangan desainer di Instagram, bahkan pernah membanggakan kaos seharga ratusan juta rupiah. Namun, tak lama kemudian, ia harus menanggalkan pakaian mewahnya dan berganti dengan rompi oranye.
Doni Salmanan, yang gemar melakukan flexing hingga mengaku pernah menyumbangkan ratusan ribu dolar AS karena “iseng”, mengalami nasib serupa. Klaim kekayaan mereka yang diperoleh dari trading cepat sebagai jalan pintas ternyata hanyalah fatamorgana. Ratusan korban justru menderita kerugian miliaran rupiah akibat skema yang mereka jalankan.
Pada akhirnya, kedua figur ini dijatuhi hukuman penjara atas perbuatan mereka. Sebuah antiklimaks yang pahit, namun sarat dengan pelajaran berharga.
Baca juga di sini: Subway Surfers City: Sekuel Gim Legendaris Rilis 26 Februari
Ironisnya, meskipun kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan telah menjadi sorotan nasional, bahkan disertai permintaan maaf mereka agar kasus tersebut menjadi peringatan bagi calon investor lain, masih ada generasi muda yang nyaris mengulang cerita serupa.
Baru-baru ini, nama Timothy Ronald muncul sebagai influencer keuangan yang dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan investasi kripto. Timothy dikenal lantang berbicara tentang betapa mudahnya “kaya lewat kripto”, kerap memamerkan kekayaan dan gaya hidup glamor, bahkan sering merendahkan pandangan orang yang dianggapnya “miskin mental”.
Ribuan orang tergabung dalam komunitasnya, terbuai oleh mimpi yang sama. Sayangnya, sekitar 3.500 orang kini mengaku menjadi korban dengan total kerugian lebih dari Rp 200 miliar akibat investasi yang ia tawarkan. Laporan resmi telah diajukan ke Polda Metro Jaya, dan sang “guru kaya” Timothy kini sedang dalam penyelidikan aparat hukum.
Kasus demi kasus ini menjadi cermin yang sangat jelas di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa ilusi kaya instan dapat menjerat siapa saja, terutama Generasi Z yang berada di garis depan risiko tersebut.
Ubah Pola Pikir: Proses, Kerja Keras, dan Kejujuran
Kisah-kisah di atas bukanlah untuk menghakimi, melainkan untuk menjadi refleksi bersama. Mengapa Generasi Z begitu mudah tergiur dengan jalan pintas menuju kekayaan?
Selain pengaruh media sosial, ada faktor kegelisahan akan masa depan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Kegundahan ini dapat dipahami. Biaya hidup terus meningkat, peluang kerja tidak selalu sebanding dengan jumlah lulusan, sementara di media sosial, orang lain tampak sudah meraih kesuksesan lebih dulu. Rasa panik dan FOMO pun mudah muncul.
Empati terhadap tekanan yang dihadapi anak muda harus selalu ada. Namun, justru karena empati itulah, pesan bijaksana perlu disampaikan: tidak ada kekayaan yang benar-benar instan.
Bahkan para pelaku industri finansial pun mengingatkan bahwa “pola pikir ingin cepat kaya” adalah masalah serius yang harus diubah. Gabriel Rey, seorang pionir bisnis kripto di Indonesia, menegaskan bahwa kemewahan yang sering terlihat di media sosial acap disalahartikan sebagai hasil instan investasi, padahal di baliknya ada proses panjang bertahun-tahun.
“Saya sudah 12 tahun di pasar. Tidak ada cerita beli Bitcoin hari ini, bulan depan langsung beli mobil sport. Itu pola pikir yang salah,” ujarnya menekankan.
Pesan serupa datang dari berbagai pihak: untuk menjadi kaya, proses dan tahapan tidak bisa dihindari. Jalan pintas yang menghalalkan segala cara justru berujung pada penyesalan.
Inilah saatnya generasi muda mengubah paradigma. Kaya instan bukanlah tujuan, dan flexing bukanlah ukuran kesuksesan sejati. Daripada terjebak dalam skema cepat kaya yang palsu, lebih baik fokus membangun fondasi finansial yang kokoh dengan cara-cara yang jujur dan berintegritas.
Mulailah dari hal sederhana: tingkatkan literasi keuangan, kenali risiko sebelum berinvestasi, dan tanamkan prinsip bahwa hasil besar datang dari usaha yang tekun. Jika melihat peluang di media sosial, manfaatkan secara positif. Bukan untuk pamer, melainkan untuk belajar, membangun jaringan, atau merintis usaha kecil yang jujur.
Generasi Z dikenal adaptif dan kreatif. Potensi ini akan jauh lebih bernilai jika dibarengi dengan kesabaran dan etika. Kisah Indra Kenz, Doni Salmanan, hingga Timothy Ronald adalah lampu kuning yang mengingatkan kita bahwa gemerlap kekayaan mendadak seringkali berakhir dengan tragis.
Tidak ada kekayaan instan yang abadi. Yang ada adalah kerja keras yang konsisten, proses jatuh bangun yang membentuk karakter, dan rezeki yang dipupuk perlahan dengan niat baik.
Sebagai generasi penerus, Gen Z diharapkan mengambil hikmah dari kasus-kasus tersebut tanpa merasa disudutkan. Justru ini saatnya bangkit dengan pola pikir baru: kesuksesan finansial boleh diraih di usia muda, tetapi caranya harus melalui jalan yang benar, bukan jalan pintas.
Bangunlah masa depan dengan fondasi kejujuran dan ketekunan. Ketika godaan “cepat kaya” datang, ingatlah bahwa pencapaian yang bermakna jarang terjadi dalam semalam. Uang bisa datang dan pergi, tetapi nilai diri dan integritas akan terus melekat sepanjang hayat.
Gen Z bukanlah “Generasi Instan”, melainkan generasi cerdas yang mampu memilah mana kilau semu dan mana emas asli. Dengan kembali ke jalur proses dan kerja keras, generasi ini justru berpeluang menciptakan kesuksesan yang bermartabat dan berkelanjutan. Sebuah kesuksesan yang bisa dibanggakan tanpa perlu flexing, karena nyata diraih dengan keringat dan kejujuran. (*)






