Toleransi Salat Id di Lapangan Gereja Depok Saat Idul Adha

News3 Dilihat

DermayuMagz.com – Lapangan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) di Depok, Jawa Barat, menjadi saksi bisu keharmonisan dan toleransi beragama yang kental di Kota Depok.

Pada momen Idul Adha tahun 2026, lapangan yang berlokasi di dekat Gereja Bethel Indonesia ini kembali dimanfaatkan oleh umat muslim untuk menunaikan salat Id.

Sejak pagi buta, Rabu (27/5/2026), suasana di sekitar lapangan YLCC sudah ramai. Ribuan warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, berbondong-bondong datang membawa perlengkapan ibadah.

Mereka antusias mempersiapkan diri untuk mengikuti salat Idul Adha di lokasi yang telah menjadi tradisi ini.

Diki Wahyu, salah satu panitia penyelenggara, terlihat sibuk mengatur jemaah agar berbaris rapi. Ia menjelaskan bahwa kegiatan salat Idul Adha di lapangan YLCC telah berlangsung sejak tahun 1996.

Penyelenggaraan acara ini merupakan inisiatif dari Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara atau Sako SPN.

Baca juga : AC Milan Bidik Mantan Bos Liverpool dan Arsitek Transfer Al-Ahli

“Pelaksanaan salat Idul Adha sudah dilakukan selama 30 tahun,” ujar Diki pada hari Rabu (27/5/2026).

Diperkirakan sekitar 3.000 jemaah hadir dan mengikuti seluruh rangkaian salat Idul Adha dengan khidmat. Suasana khusyuk semakin terasa saat ceramah agama disampaikan kepada para jemaah.

Keberhasilan penyelenggaraan ibadah di lokasi yang berada di tengah komunitas non-muslim ini menunjukkan tingginya tingkat toleransi di Depok.

Bahkan, pihak Gereja Bethel Indonesia turut memberikan dukungan dengan menyediakan lahan parkir bagi para jemaah. Hal ini menjadi bukti nyata adanya kerja sama dan komunikasi yang baik antar elemen masyarakat.

Pelaksanaan salat Idul Adha di lapangan YLCC bukan sekadar acara ibadah, melainkan simbol persaudaraan dan toleransi antarumat beragama.

Diki menambahkan, toleransi di wilayah Pancoran Mas sudah terjalin erat sejak lama. Ia mencontohkan, bahkan pada masa kerusuhan antarumat beragama di tahun 1999, Kota Depok tetap dalam kondisi kondusif.

“Ingat tahun 1999, saat Ambon terjadi kerusuhan antara muslim dan non Muslim, di sini tidak ada dan kita tetap salah. Bahkan warga non muslim di sini ikut membantu berjaga saat kami sedang salat Ied,” kenang Diki.

Seorang warga bernama Lutfi mengaku sudah dua tahun berturut-turut mengikuti salat Id di lapangan YLCC. Ia merasakan pengalaman yang berbeda dan lebih bermakna.

“Lihat saja, kami dapat melaksanakan salat Ied meskipun di sekitar kami merupakan kawasan non muslim,” ungkap Lutfi.

Bagi Lutfi, kawasan YLCC menjadi contoh nyata bagaimana peradaban dapat mengajarkan nilai toleransi antaragama. Pemberian ruang bagi umat muslim untuk beribadah menunjukkan sikap saling menghargai.

“Bahkan sampai gerejanya pun ikut membantu menyediakan lokasi parkir, ini seakan mereka membuka pintu dan tersenyum kepada kita untuk saling menghargai dan menghormati,” jelas Lutfi.

Ia berharap, kerukunan dan toleransi yang telah terbangun di Kota Depok dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

“Semoga ini menjadi barometer bagaimana kita saling merangkul dan menghargai, inilah toleransi sesungguhnya,” tutup Lutfi penuh harap.