DermayuMagz.com – Bekatul jagung, yang selama ini kerap dipandang sebelah mata dan identik dengan pakan ternak, kini berhasil disulap menjadi produk pangan sehat dan kekinian oleh pelaku UMKM di Solo. Astu Danardana, seorang pengusaha muda berusia 34 tahun, telah membuktikan bahwa bahan hasil sampingan penggilingan jagung ini memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan bernilai jual tinggi.
Melalui inovasi dan kerja keras, Danar berhasil menciptakan brownies krispi dari bekatul jagung. Produk ini tidak hanya sehat tetapi juga dikemas secara menarik dan modern, sehingga mampu bersaing di pasar oleh-oleh, stasiun, bandara, hingga masuk ke hotel-hotel.
Perjalanan Danar tidaklah mudah. Ia harus melalui proses riset dan pengembangan yang panjang, termasuk uji coba rasa berulang kali dan pengecekan laboratorium. Namun, usahanya membuahkan hasil manis. Kini, usahanya yang bernama Qatula mampu mencatatkan omzet puluhan juta rupiah setiap bulannya.
“Pada awal mulanya sekali, brand ini justru lahirnya di Yogyakarta, tahun 2012. Waktu itu, saya kuliah di sana juga, dan sudah melalui proses research and development (R&D) yang sangat panjang,” ujar Danar saat ditemui di Rumah BUMN Solo.
Ide awal pengolahan bekatul jagung ini berawal dari cerita sang eyang di Probolinggo, Jawa Timur. Sejak kecil, Danar mendengar bahwa bekatul jagung di kampungnya biasa digunakan sebagai campuran pengganti nasi dan jenang.
Hal ini memicu rasa ingin tahu Danar dan membuktikan bahwa bahan yang dianggap pakan ternak ini ternyata aman untuk dikonsumsi manusia. Keyakinan ini menjadi pijakan awal saat keluarga merintis merek Qatula, dengan bekatul jagung sebagai bahan utamanya.
“Nah kalau dari cerita eyang, bekatul jagung ini dulunya justru dipakai untuk campuran nasi dan jenang. Dari situ saya yakin bahan ini sebenarnya punya potensi untuk diolah lebih jauh, selain sebagai pakan ternak juga,” jelas Danar.
Qatula sempat berjalan di Yogyakarta dan diteruskan oleh keluarga di Malang dengan konsep yang berbeda. Namun, pada tahun 2022, Danar memutuskan untuk membawa kembali merek tersebut ke Solo dan merancang ulang produknya secara total.
Ia memilih fokus pada camilan kering karena dinilai lebih efisien untuk pemasaran dan pengiriman. Produk kering juga memiliki masa simpan yang lebih panjang dibandingkan produk basah.
Danar kemudian memulai kembali proses riset dari nol. Ia berupaya mencari bentuk produk yang cocok dengan karakter bekatul jagung dan sesuai dengan selera pasar masa kini.
Mengolah bekatul jagung menjadi makanan siap jual membutuhkan waktu dan proses yang tidak sebentar. Danar mengaku menghabiskan hampir satu tahun untuk riset dan pengembangan agar bahan tersebut dapat menghasilkan produk yang sehat, aman, enak, dan stabil kualitasnya.
Bekatul jagung yang digunakan harus melalui proses pengayakan dan sangrai berulang hingga teksturnya menyerupai tepung halus. Dari satu kilogram bahan mentah, hanya sekitar 30 hingga 40 persen yang dapat digunakan.
Melalui berbagai percobaan, akhirnya tercipta brownies krispi yang kini menjadi produk unggulan Qatula. Proses pembuatannya berbeda dari brownies biasa. Adonan cake yang sudah matang dipanggang kembali setelah didiamkan semalaman agar mendapatkan tekstur yang renyah.
Produk ini menargetkan konsumen yang mencari camilan sehat namun tetap lezat. Bekatul jagung kaya akan serat, sehingga baik dikonsumsi bagi penderita asam lambung.
“Jadi keunggulan produk kami ini, bahwa camilan itu sebenarnya tidak harus yang asal manis ya, tapi tetap harus sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Brownies ini memang konsepnya less gluten. Makannya di belakang kemasannya tertulis lembut di mulut dan nyaman di perut,” terang Danar.
Danar mengungkapkan bahwa modal terbesar di awal usahanya adalah untuk proses riset. Ia bahkan merogoh kocek sekitar Rp25 juta untuk percobaan bahan, resep, hingga pengujian daya tahan produk.
Tantangan terbesar yang dihadapi Danar adalah saat memperkenalkan produknya ke pasar. Banyak konsumen yang awalnya ragu ketika mendengar bahan utamanya berasal dari bekatul jagung, karena stigma negatif yang melekat sebagai pakan ternak.
Saat menawarkan produk ke toko oleh-oleh, ia harus menjelaskan berulang kali bahwa bekatul jagung telah melalui proses pengolahan yang aman dan memiliki kandungan serat tinggi.
Untuk meyakinkan calon pembeli, Danar selalu membawa sampel brownies krispi dan bahan bakunya saat melakukan penawaran. Cara ini terbukti efektif menarik perhatian dan membuat orang penasaran untuk mencicipi produknya.
“Kalau saya cuma cerita, orang belum tentu percaya. Makanya saya selalu bawa sampel dan bahan mentahnya sekalian, ini lo jenengan coba dulu, aman, kan? Enak, kan? nah dari sana baru mulai disukai produk brownies ini,” ujarnya.
Saat ini, Qatula menawarkan beberapa varian produk krispi, seperti brownies, cookies original, cookies keju, dan cookies low sugar. Selain itu, ada juga produk kue kering seperti putri salju, kue almon, kastengel, dan cokelat kacang.
“Nah, nanti ini yang paling baru dan akan dilaunching setelah legalitasnya keluar itu ada cake,” kata Danar.
Perjalanan usaha Qatula semakin terbantu setelah Danar bergabung sebagai peserta BRIncubator 2025 melalui Rumah BUMN Solo. Program ini memberikan banyak pendampingan dalam pengembangan usaha.
Melalui BRIncubator, Qatula mendapatkan bantuan dalam pengurusan legalitas usaha, Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendampingan branding produk. Ia juga belajar memaksimalkan media sosial dan strategi penjualan.
Bagi Danar, program tersebut menjadi wadah berharga untuk bertukar pengalaman dengan mentor yang merupakan pelaku usaha berpengalaman. Dari sana, ia memperoleh banyak masukan yang relevan dengan kondisi bisnisnya.
“Rumah BUMN Solo ini kalau menurut saya, jadi semacam tempat curhat sih. Jadi, saya bisa menceritakan kesulitan-kesulitan selama menjalankan usaha, lalu melalui mentor di program BRIncubator itu ada solusinya,” ungkap Danar.
Selain itu, Danar juga mengakui peran program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Pegadaian yang membantu perkembangan usahanya. Dengan pinjaman sebesar Rp10 juta, Danar berhasil menyempurnakan dapur produksinya menjadi lebih modern.
“Alasan pakai KUR Pegadaian ini karena cukup pas untuk usaha saya ini sekarang. Saya coba skema Rp10 juta dan ini saya pakai untuk membeli perlengkapan di dapur. Nah nantinya, ada tambahan lemari baru, meja saji yang baru,” katanya.
Proses pengajuan KUR Pegadaian dianggap mudah karena hanya memerlukan izin usaha. Angsuran yang ringan juga menjadi alasan utama Danar memilih fasilitas ini.
“Secara angsuran juga cukup murah, dari pinjaman saya di angka Rp10 juta, Pegadaian itu hanya ngambil admin sekitar Rp500 ribuan, untuk tiga tahunan. Itu kan, murah ya untuk ukuran kredit dengan dia tiap bulannya tidak ada tambahan apa-apa,” terangnya.
Saat ini, produk Qatula telah tersedia di sedikitnya 15 toko mitra di Solo dan Yogyakarta. Brownies krispi bekatul jagung juga dapat ditemukan di Stasiun Solo Balapan, Bandara Adi Soemarmo, hingga Rest Area Tol Salatiga.
Salah satu hotel di Solo bahkan menjalin kerjasama dengan Qatula untuk menyediakan camilan dengan kemasan khusus. Produk dibuat oleh Qatula, namun dikemas ulang sesuai identitas hotel tersebut. Rata-rata penjualan produk Qatula kini mencapai 100 hingga 300 kemasan per bulan.
Pada periode ramai seperti Lebaran dan libur sekolah, angka tersebut bisa meningkat hingga 500 kemasan. Dari usaha ini, Danar mampu mencatat omzet sekitar Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan. Jika seluruh varian produk terjual optimal, omzetnya bisa menembus Rp40 juta hingga Rp50 juta.
Bagi Danar, bekatul jagung yang dulunya dipandang sebelah mata telah membuktikan potensinya. Bahan sederhana ini ternyata memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika diolah dengan ide yang tepat dan inovatif.
Perjuangan Qatula ini menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan sebuah UMKM memerlukan pengorbanan besar. Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, menyatakan bahwa pemilik UMKM harus memiliki mental pejuang dalam memperkenalkan produk mereka.
Condro Rini mengakui tidak mudah memasarkan produk makanan dari bekatul jagung, mengingat bahan utamanya lebih dikenal sebagai pakan unggas. Namun, ia melihat potensi besar pada produk Qatula.
“Kami memilih Qatula menjadi salah satu peserta BRIncubator karena melihat potensi produknya. Cake dan cookies hasil olahan dari bekatul jagung menjadi salah satu kuliner cemilan unik. Bekatul jagung yang biasanya hanya dikenal sebagai pakan ternak, kini naik kelas setelah diubah menjadi camilan sehat. Apalagi, seratnya tinggi, kaya akan vitamin dan anti oksidan,” kata Condro.
Ia menambahkan bahwa tidak mustahil bagi UMKM lain untuk meraih kesuksesan serupa. Kuncinya terletak pada keberanian, keyakinan, dan kerja keras.
Baca juga : Mensesneg Jelaskan Kehadiran Prabowo di Rapat Paripurna DPR
“Keunikan, serta story telling Qatula inilah yang menarik dan menjadikannya sebagai salah satu UMKM unggulan kami,” tutup Condro Rini.






