DermayuMagz.com – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Empat penyakit yang menjadi perhatian utama adalah polio, campak, difteri, dan rubela.
Seruan ini disampaikan Gubernur Khofifah sebagai respons atas meningkatnya kasus KLB PD3I di berbagai wilayah di Indonesia. Beliau menekankan pentingnya menjaga kesehatan melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta memastikan kelengkapan imunisasi, khususnya bagi anak-anak.
Gubernur Khofifah secara spesifik mengajak masyarakat untuk segera membawa anak-anak mereka ke Posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat guna melengkapi status imunisasi. Langkah ini krusial untuk mencegah penyebaran penyakit-penyakit tersebut.
Lebih lanjut, Gubernur Khofifah telah memberikan instruksi kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Tujuannya adalah untuk memperkuat koordinasi dengan seluruh dinas kesehatan di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Penguatan koordinasi ini diharapkan dapat mengoptimalkan pelaksanaan surveilans, khususnya untuk penyakit difteri dan PD3I lainnya.
Data per Maret 2023 menunjukkan adanya 51 kasus difteri yang tercatat di Jawa Timur. Kasus-kasus ini tersebar di 26 kabupaten/kota, dan sayangnya, dilaporkan ada 4 kasus kematian akibat penyakit ini. Menanggapi situasi ini, Gubernur Khofifah telah menerbitkan Surat Edaran Gubernur.
Surat Edaran tersebut bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap PD3I dan mendorong kerja sama yang lebih erat dengan dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Upaya penanggulangan difteri akan difokuskan pada penyelidikan epidemiologi, pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI), serta penyediaan logistik penting seperti vaksin difteri dan anti-difteri serum.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dr. Erwin Astha Triyono, menjelaskan bahwa difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphtheriae. Penularan penyakit ini umumnya terjadi melalui droplet atau percikan air liur saat batuk atau bersin.
Untuk mencegah penularan difteri, Dr. Erwin menekankan kembali pentingnya penerapan PHBS. Beberapa contoh PHBS yang efektif meliputi penggunaan masker di area yang berpotensi menjadi tempat penularan dan praktik mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun serta air mengalir.
Mengikuti arahan Gubernur Khofifah, Dr. Erwin mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila merasakan gejala awal penyakit difteri. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain sakit pada tenggorokan, batuk, demam, munculnya pembengkakan pada area leher, serta kesulitan bernapas yang disertai bunyi napas seperti mengorok.
Baca juga di sini: Jemaah Haji Indramayu Kloter Pertama Tiba di Asrama Haji
Dr. Erwin menambahkan bahwa kasus difteri masih terus ditemukan di Jawa Timur setiap tahunnya. Oleh karena itu, ia berharap agar masyarakat dapat secara konsisten menerapkan PHBS karena hal ini sangat vital bagi kesehatan seluruh warga.












