Lokasi Pengasingan Raja Danjong Naik Daun Berkat Film The King’s Warden

Gaya Hidup9 Views

DermayuMagz.com – Film “The King’s Warden” telah berhasil mencetak rekor sebagai film terlaris sepanjang masa di Korea Selatan, menarik perhatian jutaan penonton dalam waktu singkat berkat kisah sejarah yang diangkat.

Film yang berlatar belakang sejarah ini mengisahkan kehidupan Raja Danjong, penguasa keenam Dinasti Joseon yang memerintah dari tahun 1452 hingga 1453. Ia naik takhta pada usia yang sangat muda, 12 tahun, menggantikan ayahnya, Raja Munjong.

Namun, masa pemerintahannya berakhir tragis akibat kudeta Gyeyu yang dipimpin oleh Pangeran Agung Sunyang, yang kemudian dikenal sebagai Raja Sejo, bersama Han Myunghoe. Raja Danjong terpaksa menyerahkan takhtanya pada tahun 1453 dan turun status menjadi Pangeran Nosan.

Setelah kehilangan takhta, Raja Danjong diasingkan ke Cheongnyeongpo, sebuah wilayah terpencil di Yeongwol, Provinsi Gangwon. Lokasi pengasingan ini merupakan sebuah pulau yang dikelilingi oleh Sungai Seo dan tebing batu curam yang dikenal sebagai Puncak Yukyukbong, menjadikannya tempat yang sangat terisolasi.

Cheongnyeongpo sendiri sebenarnya telah menjadi situs wisata bersejarah, namun kepopulerannya sempat meredup dan minim pengunjung. Kehadiran film “The King’s Warden” rupanya berhasil membangkitkan kembali minat publik terhadap destinasi wisata bersejarah ini.

Banyak pengunjung yang kini datang ke Yeongwol untuk melakukan napak tilas, menelusuri jejak Raja Danjong selama masa pengasingannya. Keindahan alam pulau tersebut berpadu dengan nuansa sejarah yang kental, menawarkan pengalaman unik bagi para wisatawan.

Di pintu masuk Cheongnyeongpo, pengunjung dapat melihat patung Raja Danjong dan Ratu Jungsung yang berdiri bergandengan tangan. Patung ini melambangkan harapan akan kelanjutan cinta mereka di alam baka, mengingat Ratu Jungsung tidak ikut diasingkan bersama Raja Danjong dan tetap berada di Hanyang, pusat pemerintahan Joseon yang kini dikenal sebagai Seoul.

Di dalam pulau tersebut, terdapat hutan pinus Geumgang yang menjadi saksi bisu kehidupan Raja Danjong selama masa pengasingannya. Salah satu pohon pinus yang menarik perhatian adalah pinus gwanneum, yang dipercaya telah berusia 600 tahun. Pohon ini diyakini telah menyaksikan kepedihan dan mendengar tangisan Raja Danjong. Pohon pinus ini telah ditetapkan sebagai monumen alami nasional dengan nomor 349.

Situs ini juga masih menyimpan dua bangunan bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan Raja Danjong dan para pelayannya. Bangunan dengan atap genting merupakan kediaman Raja Danjong, sementara tak jauh dari situ terdapat rumah beratap jerami yang digunakan oleh para pelayan.

Masih di area hutan pinus, terdapat Nosandae, sebuah tempat di mana Raja Danjong seringkali merenung sambil memandang ke arah Hanyang dengan penuh kesedihan. Di dekatnya, berdiri Manghyangtap, sebuah menara batu yang sengaja dibangun oleh Raja Danjong untuk mengenang istrinya, Ratu Jungsung, yang berada di Hanyang. Meskipun sang ratu masih hidup, raja membangun menara ini sebagai ungkapan harapan dan doa agar mereka dapat bertemu kembali suatu saat nanti.

Pada suatu ketika, lokasi pengasingan Raja Danjong di Cheongnyeongpo dilanda banjir besar. Akibatnya, Raja Danjong terpaksa diungsikan ke Gwanpungheon, yang lokasinya masih berada di wilayah Yeongwol.

Pada tahun 1457, Raja Danjong mengakhiri hidupnya dengan meminum racun sebagai hukuman. Ia dimakamkan di Gunung Dongeulji. Makamnya baru ditemukan dan direstorasi pada tahun 1541, setelah namanya dibersihkan dari segala tuduhan yang berkaitan dengan kudeta tersebut.

Selanjutnya, pada tahun 1681, Raja Danjong secara anumerta diangkat kembali menjadi Pangeran Agung Nosan. Kemudian, pada tahun 1698, ia resmi diakui kembali sebagai Raja Danjong, dan makamnya dipindahkan ke Jangneung.

Baca juga di sini: Reza Kembali Jadi Sorotan Fans Descendants of the Sun Indonesia

Kisah pilu Raja Danjong ini dapat disaksikan lebih lanjut dalam film “The King’s Warden” yang masih tayang di bioskop Indonesia.