DermayuMagz.com – Sambadha Wahyadyatmika, sosok yang dikenal sebagai vokalis dari grup musik Coldiac, kini telah meluncurkan karya solonya yang pertama dalam format mini album atau EP berjudul “Ruang Ruang Sandar”. Rilisan ini menandai sebuah perjalanan personal sang musisi dalam menemukan sebuah tempat peristirahatan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
EP “Ruang Ruang Sandar” lahir dari sebuah fase reflektif. Sambadha memilih untuk mengambil jeda sejenak dari rutinitas, sebuah momen yang ia manfaatkan untuk merekam berbagai pengalaman hidupnya ke dalam lima lagu. Keseluruhan karya ini berfungsi sebagai pengingat diri sekaligus upaya untuk kembali terhubung dengan makna “rumah” yang ia rasakan.
Lebih lanjut, Sambadha menjelaskan bahwa karya ini awalnya ia ciptakan sebagai pengingat pribadi bahwa selalu ada tempat untuk kembali. Namun, ia juga membuka lebar kesempatan bagi para pendengarnya untuk menafsirkan isi lagu-lagu tersebut sesuai dengan pemahaman masing-masing. Bahkan, ia berharap lagu-lagunya dapat menjadi representasi dari sosok-sosok terdekat dalam kehidupan para pendengar.
“Proyek solo ini aku garap dengan pendekatan sederhana dan jujur, berangkat dari refleksi, pembelajaran, hingga imajinasi personal,” ujar Sambadha pada Jumat, 10 April 2026. Ia menekankan bahwa proses kreatifnya didasari kejujuran dan refleksi diri.
Proses produksi EP ini terbilang cukup ringkas. Pengerjaan dimulai pada tanggal 26 Desember 2025 dan berhasil diselesaikan dalam kurun waktu 22 hari, tepatnya pada 17 Januari 2026. Durasi pengerjaan yang singkat ini menunjukkan efisiensi dan fokus Sambadha dalam mewujudkan visinya.
“Visualizer setiap lagu, aku produksi secara mandiri di rumah untuk menjaga nuansa intim dan autentik,” ungkapnya. Keputusan untuk memproduksi visualizer secara mandiri di rumah menegaskan komitmennya untuk mempertahankan keintiman dan keaslian karya.
EP “Ruang Ruang Sandar” terdiri dari lima lagu yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Lagu pembuka, “Si Bungsu”, yang ternyata sempat viral, menggambarkan beban emosional yang seringkali dirasakan oleh anak bungsu dalam keluarga yang dituntut untuk selalu kuat. Lagu ini dibalut dengan perpaduan genre folk, country, serta sentuhan elektronik yang unik.
Track kedua, “Hiduplah Yang Lama”, didaulat sebagai lagu utama dalam EP ini. Lagu ini kaya akan doa dan harapan, terinspirasi dari hubungan dekat Sambadha dengan kucing peliharaannya yang telah menemaninya selama 14 tahun. Kehadiran hewan peliharaan seringkali menjadi sumber inspirasi emosional bagi banyak seniman.
Nuansa yang paling personal dan mendalam hadir dalam lagu ketiga, “Ucapan, Hiasan, Harapan”. Lagu ini didedikasikan secara khusus untuk sang istri, sebagai ungkapan terima kasih atas kelahiran buah hati mereka. Sentuhan blues yang lembut berpadu dengan permainan piano yang sederhana menciptakan atmosfer yang sangat intim dan menyentuh.
Melanjutkan narasi personal, lagu “Tumbuhlah Jadi Samudra” menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai peran Sambadha sebagai seorang ayah. Lagu ini mengekspresikan penyesalan atas waktu yang mungkin terlewatkan dan janji untuk hadir secara lebih utuh bagi sang anak. Aransemen lo-fi yang melankolis semakin memperkuat nuansa emosional dalam lagu ini.
EP ini ditutup dengan lagu berjudul “Keras Ya Dunia?”. Lagu ini mengangkat perspektif seorang anak dewasa yang tengah berhadapan dengan kerasnya realitas kehidupan. Di tengah tantangan tersebut, ia justru semakin menyadari betapa pentingnya doa dan dukungan dari orang tua dalam setiap langkah perjalanan hidupnya.
Secara keseluruhan, “Ruang Ruang Sandar” berhasil memadukan berbagai unsur musikal, mulai dari pop, folk, hingga musik kontemporer, yang diperkaya dengan sentuhan elektronik. Perpaduan ini menciptakan sebuah lanskap suara yang kaya dan dinamis.
Baca juga di sini: Terapi Musik untuk Anak Autisme dalam Buku Suga BTS
“Karya ini hadir dengan nuansa hangat dan intim, layaknya percakapan tengah malam, yang tidak sekadar ingin mengesankan pendengar, tetapi mengajak mereka untuk merasakan, merefleksikan, dan bertumbuh,” ucapnya. Sambadha berharap karyanya dapat menjadi ruang bagi pendengar untuk introspeksi dan pertumbuhan diri.






