DermayuMagz.com – Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) Natalius Pigai mengimbau kepada seluruh insan media untuk senantiasa menyajikan pemberitaan yang objektif dan tidak terpaku pada muatan negatif semata. Ia menggarisbawahi bahwa banyak studi di tingkat global menunjukkan dominasi konten negatif dalam pemberitaan media.
Pigai menyatakan bahwa hampir 80 persen dari seluruh konten yang disajikan media di seluruh dunia cenderung didominasi oleh berita-berita negatif. Hal ini disampaikan olehnya saat membuka acara Kelas Jurnalis HAM di The Green Forest Bandung pada hari Rabu, 20 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa lebih dari 50 persen pemberitaan media juga kerap kali diwarnai oleh unsur subjektivitas. Kondisi ini, menurut Pigai, tidak sepenuhnya dapat disalahkan, terutama ketika media berada di bawah kepemilikan kelompok kepentingan tertentu atau konglomerasi besar.
Meskipun demikian, Pigai menekankan betapa krusialnya peran integritas yang dimiliki oleh para pekerja media. Integritas tersebut sangat penting dalam menjaga kualitas dan kredibilitas pemberitaan yang disajikan kepada publik.
“Kami sangat membutuhkan integritas. Tanpa kehadiran media, dunia ini tidak akan memiliki warna. Tanpa media, tidak akan pernah ada sistem pengawasan dan keseimbangan yang efektif terhadap kekuasaan,” tegasnya.
Pigai memandang bahwa media memegang peranan yang sangat vital. Media bertugas sebagai pengawas jalannya pembangunan sekaligus menjadi corong penyampaian kritik yang ditujukan kepada pemerintah. Namun, kritik yang disampaikan tersebut haruslah tetap berpegang pada prinsip objektivitas dan bersifat membangun.
“Media harus mampu menyajikan kritik yang objektif. Subjektivitas memang tidak masalah, namun jangan sampai hal tersebut mendominasi konten pemberitaan dan menjadi negatif, seperti yang terungkap dalam hasil penelitian,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pigai juga menyinggung tentang sebuah teori psikologi yang menjelaskan kecenderungan manusia untuk lebih tertarik pada informasi yang bersifat negatif. Ia menyebutkan bahwa pikiran-pikiran negatif cenderung diproses oleh bagian otak yang dikenal sebagai amigdala.
“Saya berharap para jurnalis tidak hanya mengolah berita melalui satu sel kecil yang bernama amigdala saja, tetapi mampu menggunakan cara berpikir yang lebih luas dan komprehensif,” tuturnya.
Menurut pandangannya, dunia jurnalistik selama ini terlalu terpengaruh oleh adagium yang populer, yaitu bad news is good news. Adagium ini menganggap bahwa berita yang buruk memiliki potensi lebih besar untuk menarik perhatian publik.
Baca juga : Aset Bank Pembangunan Daerah Capai Rp 1.036 Triliun
“Hal ini sudah tertanam kuat di mana-mana. Anggapan bahwa berita negatif pasti akan banyak dibaca orang. Berita yang tidak baik adalah berita yang paling banyak diminati oleh khalayak,” pungkasnya.






