Anak Usaha Bulog Pastikan Penyerapan Tebu Petani

Bisnis7 Dilihat

DermayuMagz.com – PT Gendhis Multi Manis (GMM), sebuah anak perusahaan Perum Bulog, telah memberikan jaminan bahwa seluruh hasil panen tebu lokal dari petani akan terserap. Penyerapan ini akan dilakukan baik di wilayah Kabupaten Blora maupun di luar daerah tersebut.

Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, menyatakan bahwa pihaknya telah membentuk tim khusus. Tim ini bertugas untuk menyerap aspirasi para petani tebu sekaligus merancang skema agar hasil panen mereka dapat terserap seluruhnya.

“Kami sudah membentuk tim untuk membantu proses penyerapan dan pengalihan tebu petani ke pabrik gula lainnya. Saat ini juga sedang dilakukan pendataan wilayah-wilayah yang dapat membantu penyerapan tebu petani,” ujar Emilia, seperti dikutip dari keterangan resmi, Senin (1/6/2026).

Penegasan ini disampaikan sebagai respons atas aksi protes yang dilakukan oleh para petani tebu. Sebelumnya, para petani menggelar aksi di depan pabrik gula GMM dengan membuang tebu hasil panen mereka karena tidak terserap oleh pabrik.

Baca juga : Sedan Terbakar di Jatibarang: Warga & Damkar Padamkan Api Cepat

Sri Emilia menjelaskan bahwa pabrik GMM belum dapat beroperasi karena adanya kendala teknis pada mesin. Sebagai BUMN, setiap langkah dan kebijakan yang diambil oleh GMM harus melalui proses evaluasi dan tata kelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Berbagai langkah penanganan dan koordinasi saat ini masih terus berproses bersama pihak-pihak terkait,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyuarakan keprihatinannya terkait membanjirnya gula rafinasi impor ke pasar. Kondisi ini dikhawatirkan akan menekan harga jual gula konsumsi lokal dan membuat petani tidak dapat menjual hasil panen mereka.

Amran menjelaskan bahwa gula rafinasi yang seharusnya hanya diolah oleh industri, justru banyak yang bocor dan membanjiri pasar. Hal ini dilaporkan oleh petani dari berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah dan Kalimantan Timur.

“Yang terjadi di lapangan, Ibu, kita buka saja, rafinasi banjir, alau bocor, sedikit-sedikit, ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung telepon karena ada laporan dari petani di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulsel. Itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar,” kata Amran saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR pada Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan bahwa gula rafinasi impor memiliki kemiripan warna dengan gula kristal putih lokal, sehingga menyulitkan konsumen untuk membedakan keduanya. Selain itu, harga molase juga mengalami penurunan drastis hingga Rp1.000 per liter pada Maret 2026, padahal sebelumnya mencapai Rp1.900 per liter.

“Ini persoalan besar. Jadi yang memukul petani kita, kita sendiri, molasenya tidak laku. Jadi harga turun terus, dulu Rp 1.900 (per liter). Jadi aneh, kita satu sisi impor, tetapi produksi kita tidak laku,” keluhnya.

Berdasarkan proyeksi pada tahun 2025, luas panen tebu eksisting diperkirakan mencapai 563.357 hektare. Dengan produktivitas Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 4,74 ton per hektare atau setara 69,35 ton tebu per hektare, produksi GKP diproyeksikan mencapai 2,67 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan gula nasional tercatat sebesar 6,7 juta ton. Kebutuhan ini terbagi menjadi 2,8 juta ton untuk gula konsumsi dan 3,9 juta ton untuk gula industri. Terdapat kesenjangan sebesar 4,03 juta ton yang perlu segera diatasi.