Karena Arsenal, FIFA Ubah Aturan Piala Dunia 2026

bola6 Dilihat

Gara-Gara Arsenal, FIFA Ubah Aturan di Piala Dunia 2026

FIFA mengimplementasikan regulasi baru yang disebut ‘Anti-Arsenal’ untuk Piala Dunia 2026.

OlehHarley IkhsanDiterbitkan 02 Juni 2026, 13:00 WIBShareCopy LinkBatalkanPerbesarArsenal menerapkan taktik yang dipertanyakan dalam usaha mencetak gol, sampai FIFA merevisi aturan. (AP Photo/Richard Pelham)

Liputan6.com, Jakarta – FIFA, bersama dengan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), akan melaksanakan sejumlah perubahan aturan yang akan mulai berlaku pada Piala Dunia 2026. Salah satu regulasi baru yang paling menarik perhatian publik adalah yang dikenal dengan sebutan “aturan anti-Arsenal”.

Aturan ini bertujuan untuk mengendalikan praktik yang menghalangi pergerakan lawan dalam situasi bola mati, baik saat terjadi tendangan sudut maupun tendangan bebas. Dalam beberapa musim terakhir, strategi bola mati telah menjadi senjata yang sangat efektif, terutama di Liga Inggris.

FIFA dan IFAB berpendapat bahwa praktik saling dorong, menarik, dan menghalangi lawan dalam situasi tersebut sudah saatnya diatur dengan lebih ketat. Dengan adanya aturan baru ini, pemain akan dikenakan sanksi jika mereka sengaja menghalangi atau mengganggu lawan yang ingin mengambil tendangan bebas atau sepak pojok.

Konsep yang diterapkan dalam aturan ini diambil dari bola basket, yang melarang pemain untuk bertindak sebagai “screen” atau penghalang guna memberikan ruang bagi rekan setim. Menariknya, wasit kini memiliki kewenangan untuk memberikan hukuman bahkan sebelum bola ditendang jika pelanggaran sudah terjadi.

Peraturan ini akan mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 dan akan berlaku di semua kompetisi besar mulai awal bulan Juli. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan permainan sepak bola akan menjadi lebih fair dan menarik untuk disaksikan.

Gol Inggris ke Gawang UruguayPerbesarBen White, pemain Timnas Inggris, berhasil mencetak gol dalam pertandingan uji coba melawan Uruguay yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Wembley, London, pada dini hari WIB, Sabtu (28/03/2026). (AFP/Henry)

FIFA memberikan contoh penerapan aturan baru dengan menggunakan gol yang dicetak oleh Timnas Inggris dalam pertandingan persahabatan melawan Uruguay pada bulan Maret yang lalu. Gol tersebut dihasilkan oleh Ben White melalui skema sepak pojok.

Tamun tayangan ulang menunjukkan bahwa Adam Wharton dan Harvey Barnes menghalangi pergerakan pemain bertahan Uruguay, sehingga menciptakan ruang bagi White untuk mencetak gol. Menurut penafsiran aturan yang baru, gol tersebut kemungkinan besar tidak akan diakui.

Perubahan ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan bagi klub-klub di Liga Inggris, termasuk Arsenal yang pada musim lalu dikenal sangat efektif dalam memanfaatkan situasi bola mati. Meriam London berhasil mencetak 25 gol dari situasi bola mati di Liga Inggris, sebuah angka yang menunjukkan betapa pentingnya pendekatan fisik mereka dalam skema sepak pojok dan tendangan bebas, yang sering kali menjadi sorotan di kalangan pengamat sepak bola.

Lanjut Baca:

FIFA juga  memperkenalkan beberapa regulasi baru untuk Piala Dunia 2026, di samping aturan mengenai bola mati. Salah satu perubahan yang signifikan adalah ancaman kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut dengan tangan, lengan, atau jersey saat terlibat dalam konfrontasi di lapangan.
Aturan ini diterapkan setelah munculnya kontroversi terkait dugaan rasisme yang melibatkan Gianluca Prestianni dari Benfica dan Vinicius Junior. Meskipun Prestianni membantah semua tuduhan tersebut, regulasi ini tetap diberlakukan untuk menanggapi situasi serupa di masa mendatang.
Penting untuk dicatat bahwa tidak semua situasi akan dikenakan hukuman di bawah regulasi baru ini. Pemain tidak akan dihukum jika mereka menutupi mulut saat berbicara dalam konteks normal yang tidak berkaitan dengan perselisihan.
Hal ini menunjukkan bahwa FIFA berusaha untuk membedakan antara komunikasi biasa dan tindakan yang dianggap provokatif atau menyinggung. Dengan demikian, regulasi ini diharapkan dapat mengurangi insiden yang tidak diinginkan di lapangan sambil tetap memberikan ruang bagi interaksi antar pemain.

Show AllHarley IkhsanTim RedaksiShareCopy LinkBatalkanAjang OlahragaPresiden FIFA Gianni Infantino menyebutkan tiga negara akan menjadi tuan rumah untuk Piala Dunia 2026 mendatang.Lihat SelengkapnyaPiala Dunia 2026

  • Tim SepakbolaRaihan juara Liga Primer Inggris pada musim 2004-2005 tanpa menelan satu kekalahan pun yang dilakukan Arsenal hingga saat ini belum bisa diuLihat SelengkapnyaArsenal
  • OrganisasiFIFA merupakan badan pengendali sepak bola internasionalLihat SelengkapnyaFIFA
  • Piala Dunia
  • Pentas Bola Dunia 2026
  • Gara-Gara Arsenal, FIFA Ubah Aturan di Piala Dunia 2026

    FIFA mengimplementasikan regulasi baru yang disebut ‘Anti-Arsenal’ untuk Piala Dunia 2026.

    OlehHarley IkhsanDiterbitkan 02 Juni 2026, 13:00 WIBShareCopy LinkBatalkanPerbesarArsenal menerapkan taktik yang dipertanyakan dalam usaha mencetak gol, sampai FIFA merevisi aturan. (AP Photo/Richard Pelham)Perubahan LainPerbesarKylian Mbappe berpendapat bahwa winger Benfica, Gianluca Prestianni, seharusnya tidak lagi berkompetisi di level elite Eropa setelah adanya dugaan pelecehan rasial terhadap Vinicius.

    FIFA juga  memperkenalkan beberapa regulasi baru untuk Piala Dunia 2026, di samping aturan mengenai bola mati. Salah satu perubahan yang signifikan adalah ancaman kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut dengan tangan, lengan, atau jersey saat terlibat dalam konfrontasi di lapangan.

    Aturan ini diterapkan setelah munculnya kontroversi terkait dugaan rasisme yang melibatkan Gianluca Prestianni dari Benfica dan Vinicius Junior. Meskipun Prestianni membantah semua tuduhan tersebut, regulasi ini tetap diberlakukan untuk menanggapi situasi serupa di masa mendatang.

    Penting untuk dicatat bahwa tidak semua situasi akan dikenakan hukuman di bawah regulasi baru ini. Pemain tidak akan dihukum jika mereka menutupi mulut saat berbicara dalam konteks normal yang tidak berkaitan dengan perselisihan.

    Hal ini menunjukkan bahwa FIFA berusaha untuk membedakan antara komunikasi biasa dan tindakan yang dianggap provokatif atau menyinggung. Dengan demikian, regulasi ini diharapkan dapat mengurangi insiden yang tidak diinginkan di lapangan sambil tetap memberikan ruang bagi interaksi antar pemain.

    Sikap Tegas FIFAPerbesarGambar wasit dan penggantian pemain. (Foto oleh Homer Lopez di Unsplash)

    FIFA kini semakin memperketat sanksi bagi para pemain yang melakukan protes berlebihan terhadap wasit. Pemain yang keluar dari lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan wasit akan langsung mendapatkan kartu merah. Aturan baru ini diambil setelah insiden yang terjadi pada final Piala Afrika 2025, ketika seorang pemain dari Senegal melakukan tindakan serupa. Selain itu, jika sebuah tim memilih untuk meninggalkan lapangan, tim tersebut akan dinyatakan kalah dalam pertandingan.

    Perubahan lain yang diterapkan bertujuan untuk mengurangi pemborosan waktu selama pertandingan. Pemain yang ditarik keluar kini hanya diberikan waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan. Jika waktu yang ditentukan terlewat, pemain pengganti baru akan diizinkan masuk pada penghentian permainan berikutnya setelah satu menit pertandingan berlangsung. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan menjaga kelancaran jalannya pertandingan.

    Antisipasi Taktik Buang-Buang WaktuPerbesarKiper Italia #25 Manchester City, Gianluigi Donnarumma, meninju bola saat pertandingan Premier League melawan Brentford di Stadion Komunitas Gtech, London, pada tanggal 5.

    Dalam konteks tendangan gawang dan lemparan ke dalam, pemain hanya memiliki waktu lima detik untuk mengembalikan bola ke dalam permainan. Wasit akan memberikan hitungan visual untuk mengingatkan pemain mengenai batas waktu tersebut.

    Apabila waktu yang ditentukan terlewati, tim lawan akan mendapatkan keuntungan berupa tendangan sudut atau lemparan ke dalam, tergantung pada situasi yang ada. Aturan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran permainan dan memastikan tidak ada waktu yang terbuang.

    Selain itu, FIFA juga menghapus celah yang sebelumnya sering dimanfaatkan oleh tim untuk mendapatkan instruksi tambahan dari pelatih. Kini, tim tidak lagi diperbolehkan untuk melakukan timeout atau berkumpul dengan staf pelatih saat penjaga gawang sedang mendapatkan perawatan cedera di lapangan.

    Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya FIFA mempercepat jalannya pertandingan dan mengurangi jeda yang tidak berkaitan langsung dengan permainan.

     

    Sumber: Aning Jati (Bola.com)

    Show AllHarley IkhsanTim RedaksiShareCopy LinkBatalkanAjang OlahragaPresiden FIFA Gianni Infantino menyebutkan tiga negara akan menjadi tuan rumah untuk Piala Dunia 2026 mendatang.Lihat SelengkapnyaPiala Dunia 2026

  • Tim SepakbolaRaihan juara Liga Primer Inggris pada musim 2004-2005 tanpa menelan satu kekalahan pun yang dilakukan Arsenal hingga saat ini belum bisa diuLihat SelengkapnyaArsenal
  • OrganisasiFIFA merupakan badan pengendali sepak bola internasionalLihat SelengkapnyaFIFA
  • Piala Dunia
  • Pentas Bola Dunia 2026
  • Gara-Gara Arsenal, FIFA Ubah Aturan di Piala Dunia 2026

    FIFA mengimplementasikan regulasi baru yang disebut ‘Anti-Arsenal’ untuk Piala Dunia 2026.

    OlehHarley IkhsanDiterbitkan 02 Juni 2026, 13:00 WIBShareCopy LinkBatalkanPerbesarArsenal menerapkan taktik yang dipertanyakan dalam usaha mencetak gol, sampai FIFA merevisi aturan. (AP Photo/Richard Pelham)

    Liputan6.com, Jakarta – FIFA, bersama dengan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), akan melaksanakan sejumlah perubahan aturan yang akan mulai berlaku pada Piala Dunia 2026. Salah satu regulasi baru yang paling menarik perhatian publik adalah yang dikenal dengan sebutan “aturan anti-Arsenal”.

    Aturan ini bertujuan untuk mengendalikan praktik yang menghalangi pergerakan lawan dalam situasi bola mati, baik saat terjadi tendangan sudut maupun tendangan bebas. Dalam beberapa musim terakhir, strategi bola mati telah menjadi senjata yang sangat efektif, terutama di Liga Inggris.

    FIFA dan IFAB berpendapat bahwa praktik saling dorong, menarik, dan menghalangi lawan dalam situasi tersebut sudah saatnya diatur dengan lebih ketat. Dengan adanya aturan baru ini, pemain akan dikenakan sanksi jika mereka sengaja menghalangi atau mengganggu lawan yang ingin mengambil tendangan bebas atau sepak pojok.

    Konsep yang diterapkan dalam aturan ini diambil dari bola basket, yang melarang pemain untuk bertindak sebagai “screen” atau penghalang guna memberikan ruang bagi rekan setim. Menariknya, wasit kini memiliki kewenangan untuk memberikan hukuman bahkan sebelum bola ditendang jika pelanggaran sudah terjadi.

    Peraturan ini akan mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026 dan akan berlaku di semua kompetisi besar mulai awal bulan Juli. Dengan adanya perubahan ini, diharapkan permainan sepak bola akan menjadi lebih fair dan menarik untuk disaksikan.

    Gol Inggris ke Gawang UruguayPerbesarBen White, pemain Timnas Inggris, berhasil mencetak gol dalam pertandingan uji coba melawan Uruguay yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Wembley, London, pada dini hari WIB, Sabtu (28/03/2026). (AFP/Henry)

    FIFA memberikan contoh penerapan aturan baru dengan menggunakan gol yang dicetak oleh Timnas Inggris dalam pertandingan persahabatan melawan Uruguay pada bulan Maret yang lalu. Gol tersebut dihasilkan oleh Ben White melalui skema sepak pojok.

    Tamun tayangan ulang menunjukkan bahwa Adam Wharton dan Harvey Barnes menghalangi pergerakan pemain bertahan Uruguay, sehingga menciptakan ruang bagi White untuk mencetak gol. Menurut penafsiran aturan yang baru, gol tersebut kemungkinan besar tidak akan diakui.

    Perubahan ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan bagi klub-klub di Liga Inggris, termasuk Arsenal yang pada musim lalu dikenal sangat efektif dalam memanfaatkan situasi bola mati. Meriam London berhasil mencetak 25 gol dari situasi bola mati di Liga Inggris, sebuah angka yang menunjukkan betapa pentingnya pendekatan fisik mereka dalam skema sepak pojok dan tendangan bebas, yang sering kali menjadi sorotan di kalangan pengamat sepak bola.

    Perubahan LainPerbesarKylian Mbappe berpendapat bahwa winger Benfica, Gianluca Prestianni, seharusnya tidak lagi berkompetisi di level elite Eropa setelah adanya dugaan pelecehan rasial terhadap Vinicius.

    FIFA juga  memperkenalkan beberapa regulasi baru untuk Piala Dunia 2026, di samping aturan mengenai bola mati. Salah satu perubahan yang signifikan adalah ancaman kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut dengan tangan, lengan, atau jersey saat terlibat dalam konfrontasi di lapangan.

    Aturan ini diterapkan setelah munculnya kontroversi terkait dugaan rasisme yang melibatkan Gianluca Prestianni dari Benfica dan Vinicius Junior. Meskipun Prestianni membantah semua tuduhan tersebut, regulasi ini tetap diberlakukan untuk menanggapi situasi serupa di masa mendatang.

    Penting untuk dicatat bahwa tidak semua situasi akan dikenakan hukuman di bawah regulasi baru ini. Pemain tidak akan dihukum jika mereka menutupi mulut saat berbicara dalam konteks normal yang tidak berkaitan dengan perselisihan.

    Hal ini menunjukkan bahwa FIFA berusaha untuk membedakan antara komunikasi biasa dan tindakan yang dianggap provokatif atau menyinggung. Dengan demikian, regulasi ini diharapkan dapat mengurangi insiden yang tidak diinginkan di lapangan sambil tetap memberikan ruang bagi interaksi antar pemain.

    Sikap Tegas FIFAPerbesarGambar wasit dan penggantian pemain. (Foto oleh Homer Lopez di Unsplash)

    FIFA kini semakin memperketat sanksi bagi para pemain yang melakukan protes berlebihan terhadap wasit. Pemain yang keluar dari lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan wasit akan langsung mendapatkan kartu merah. Aturan baru ini diambil setelah insiden yang terjadi pada final Piala Afrika 2025, ketika seorang pemain dari Senegal melakukan tindakan serupa. Selain itu, jika sebuah tim memilih untuk meninggalkan lapangan, tim tersebut akan dinyatakan kalah dalam pertandingan.

    Perubahan lain yang diterapkan bertujuan untuk mengurangi pemborosan waktu selama pertandingan. Pemain yang ditarik keluar kini hanya diberikan waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan. Jika waktu yang ditentukan terlewat, pemain pengganti baru akan diizinkan masuk pada penghentian permainan berikutnya setelah satu menit pertandingan berlangsung. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan menjaga kelancaran jalannya pertandingan.

    Antisipasi Taktik Buang-Buang WaktuPerbesarKiper Italia #25 Manchester City, Gianluigi Donnarumma, meninju bola saat pertandingan Premier League melawan Brentford di Stadion Komunitas Gtech, London, pada tanggal 5.

    Dalam konteks tendangan gawang dan lemparan ke dalam, pemain hanya memiliki waktu lima detik untuk mengembalikan bola ke dalam permainan. Wasit akan memberikan hitungan visual untuk mengingatkan pemain mengenai batas waktu tersebut.

    Apabila waktu yang ditentukan terlewati, tim lawan akan mendapatkan keuntungan berupa tendangan sudut atau lemparan ke dalam, tergantung pada situasi yang ada. Aturan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran permainan dan memastikan tidak ada waktu yang terbuang.

    Selain itu, FIFA juga menghapus celah yang sebelumnya sering dimanfaatkan oleh tim untuk mendapatkan instruksi tambahan dari pelatih. Kini, tim tidak lagi diperbolehkan untuk melakukan timeout atau berkumpul dengan staf pelatih saat penjaga gawang sedang mendapatkan perawatan cedera di lapangan.

    Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya FIFA mempercepat jalannya pertandingan dan mengurangi jeda yang tidak berkaitan langsung dengan permainan.

     

    Baca juga : Rumah Produktif: Integrasi Kebun Sayur dan Ternak di Lahan Terbatas

    Sumber: Aning Jati (Bola.com)

    Show AllHarley IkhsanTim RedaksiShareCopy LinkBatalkanAjang OlahragaPresiden FIFA Gianni Infantino menyebutkan tiga negara akan menjadi tuan rumah untuk Piala Dunia 2026 mendatang.Lihat SelengkapnyaPiala Dunia 2026

  • Tim SepakbolaRaihan juara Liga Primer Inggris pada musim 2004-2005 tanpa menelan satu kekalahan pun yang dilakukan Arsenal hingga saat ini belum bisa diuLihat SelengkapnyaArsenal
  • OrganisasiFIFA merupakan badan pengendali sepak bola internasionalLihat SelengkapnyaFIFA
  • Piala Dunia
  • Pentas Bola Dunia 2026