Review Film Normal: Bob Odenkirk Hadapi Intrik Politik dan Tingkah Pejabat Kota Kecil

showbiz7 Dilihat

DermayuMagz.com – Film “Normal” menyajikan premis menarik tentang seorang sheriff yang ditugaskan di kota kecil yang tampaknya tenang. Bob Odenkirk, yang memerankan Sheriff Ulysses, menemukan dirinya terperangkap dalam intrik politik dan perilaku pejabat kota yang tak terduga.

Ulysses tiba di kota Normal untuk menggantikan Gunderston, sheriff sebelumnya yang tewas secara misterius. Kota ini hanya dihuni oleh kurang dari 2.000 jiwa, menyiratkan suasana damai dan minim masalah. Namun, Ulysses segera menyadari bahwa di balik ketenangan tersebut, terdapat hal-hal yang jauh dari kata normal.

Kejanggalan pertama muncul ketika putri Gunderston, Alex, dilarang untuk menghadiri pemakaman ayahnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan bagi Ulysses. Wali Kota Kibner mulai mencoba memengaruhi Ulysses dengan berbagai lobi yang mengarah pada kebijakan-kebijakan yang mencurigakan.

Puncak dari ketegangan awal terjadi ketika sepasang kekasih, Lori dan Keith, melakukan perampokan bank. Perampokan yang terkesan amatir ini ternyata memicu serangkaian peristiwa yang lebih besar dan kompleks, melibatkan elemen politik dan kekuasaan di kota kecil tersebut.

Slice of Life ala Warga Normal

Film ini dibuka dengan adegan yang cukup mengejutkan dan brutal, mampu membuat penonton yang mengantuk langsung terjaga. Namun, setelah adegan pembuka yang intens, “Normal” beralih ke gaya penceritaan yang lebih lambat, menyerupai slice of life.

Penonton disajikan dengan keseharian Sheriff Ulysses saat ia berinteraksi dengan warga kota. Mulai dari menikmati kopi, melakukan patroli rutin, hingga menangani kasus-kasus kecil seperti perselisihan antara penjual dan pembeli yang enggan membayar. Adegan-adegan ini mungkin terasa membosankan bagi sebagian penonton yang mengharapkan aksi konstan.

Namun, di balik ketenangan visual tersebut, terdapat pembangunan karakter dan pengenalan latar yang krusial. Sutradara Ben Wheatley tampaknya sengaja memperlambat tempo di awal untuk membangun fondasi cerita. Hal ini bertujuan agar penonton dapat mengenal para tokoh dan dinamika kota kecil tersebut sebelum gejolak sebenarnya terjadi.

Melambat Dalam 30 Menit Pertama

Memang benar, sekitar 30 menit pertama film “Normal” terasa sangat lambat. Penonton diajak untuk mengamati detail kehidupan sehari-hari para penduduk kota, lengkap dengan karakter dan profesi mereka masing-masing. Bagi sebagian penonton, ini bisa menjadi ujian kesabaran.

Ada kemungkinan penonton merasa bosan, mengantuk, atau bahkan mulai memainkan ponsel mereka. Namun, narasi yang terkesan lambat ini sebenarnya memiliki tujuan penting. Adegan-adegan slice of life tersebut bukanlah sekadar pengisi waktu, melainkan elemen penting yang akan membentuk pemahaman penonton terhadap situasi yang lebih besar.

Perubahan tempo yang drastis terjadi setelah insiden perampokan bank. Adegan ini dieksekusi dengan sangat baik, menjadi titik balik yang membuat film kembali menarik dan menegangkan. Perampokan yang awalnya terlihat amatir tersebut, ternyata menjadi pemicu dari berbagai konflik tersembunyi.

Setelah Insiden Perampokan

Setelah adegan perampokan bank yang menjadi salah satu momen paling dinanti dalam trailer, film “Normal” benar-benar menunjukkan tajinya. Ketegangan mulai meningkat dan berbagai elemen cerita mulai terhubung.

Di sinilah kepiawaian sutradara Ben Wheatley dan penulis naskah Derek Kolstad mulai terlihat. Berbagai karakter yang mungkin sempat diabaikan di awal cerita kini mulai memainkan peran penting. Film ini bertransformasi menjadi sebuah drama aksi komedi gelap yang memikat.

Babak kedua dan ketiga film ini menyajikan adegan baku tembak yang luar biasa, salah satu yang paling berkesan dalam beberapa tahun terakhir. Aksi yang intens dipadukan dengan humor yang cerdas, menciptakan pengalaman menonton yang menghibur sekaligus menegangkan. Penonton akan diajak mengikuti langkah Ulysses saat ia berusaha memahami dan menavigasi situasi yang semakin kompleks.

Makin Senyap Kota Normal, Maka…

“Normal” secara efektif menggambarkan bagaimana sebuah kota yang tampak tenang bisa menyembunyikan berbagai masalah yang kompleks. Peribahasa “air tenang menghanyutkan” sangat relevan di sini, di mana kedamaian yang terlihat di permukaan justru menutupi gejolak yang lebih dalam.

Baca juga : Liverpool Tegaskan Keputusan Soal Masa Depan Alisson Becker

Semakin sunyi dan tenang sebuah kota seperti Normal, semakin besar pula kemungkinan adanya hal-hal abnormal yang tersembunyi. Film ini mengajarkan bahwa penampilan luar seringkali menipu, dan kedamaian yang terlihat bisa jadi hanya kedok.

Dalam menghadapi situasi yang membingungkan ini, Bob Odenkirk sebagai Sheriff Ulysses memberikan penampilan yang patut diacungi jempol. Kemampuannya dalam memerankan karakter yang tenang namun penuh perhitungan sangat memukau.

Beban Batin Yang Dalam

Kehadiran Ulysses di kota Normal tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga membawa beban batinnya sendiri. Gerak-geriknya seringkali mencerminkan masa lalu yang mungkin tidak selalu mulus. Namun, melalui penampilan yang cekatan dan sorot matanya yang tajam, Odenkirk berhasil meyakinkan penonton bahwa karakternya masih mampu menghadapi tantangan.

Chemistry yang terjalin antara Bob Odenkirk dengan para pemeran pendukung lainnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Hubungannya dengan Jess McLeod, yang memerankan Alex, serta Lena Headey sebagai Moira, seorang bartender di klub malam, mampu menyentuh hati penonton. Alex menjadi kunci untuk membuka berbagai rahasia kota Normal, sementara Moira memberikan perspektif yang berbeda tentang karakter Ulysses.

Konflik Politik, Ekonomi, Hingga Sosial

“Normal” berhasil memvisualisasikan berbagai konflik yang terjadi dalam skala mikro: politik, ekonomi, sosial, dan perebutan kepentingan di antara berbagai lapisan masyarakat. Film ini tidak berfokus pada isu-isu global yang besar, melainkan pada perjalanan seorang individu ke lingkungan baru dan bagaimana ia beradaptasi.

Film ini menggambarkan sebuah kisah personal tentang transformasi dan pendewasaan karakter. Meskipun berlatar di kota kecil, makna yang disampaikan terasa sangat dalam dan relevan.

Ben Wheatley, yang sebelumnya dikenal lewat film aksi seperti “Meg 2: The Trench”, menunjukkan kemampuannya dalam mengarahkan “Normal” menjadi sebuah drama aksi komedi gelap. Film ini berhasil menyajikan hiburan yang memuaskan sekaligus memberikan sedikit kelegaan bagi penonton.

Pemain: Bob Odenkirk, Henry Winkler, Jess McLeod, Lena Headey, Reena Jolly, Ryan Allen, Billy MacLellan

Produser: Marc Provissiero, Bob Odenkirk, Derek Kolstad

Sutradara: Ben Wheatley

Penulis: Derek Kolstad

Produksi: OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc, Magnolia Pictures

Durasi: 91 menit