Rupiah Tembus 18.049 terhadap Dolar AS

Bisnis6 Dilihat

DermayuMagz.com – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore tercatat melemah 0,46 persen, menempatkannya di angka 18.049 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini mengalami penurunan dari penutupan sebelumnya yang berada di level 17.966 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa pelemahan rupiah ini merupakan akumulasi dari sentimen negatif baik dari sisi eksternal maupun domestik. Sentimen eksternal yang paling membebani adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ibrahim menyebutkan bahwa investor cenderung mengambil sikap hati-hati. Hal ini dipicu oleh perkembangan di Timur Tengah, di mana Washington mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam. Namun, efektivitas kesepakatan ini sangat bergantung pada penghentian permusuhan yang dilakukan oleh Hizbullah.

Situasi semakin memanas dengan adanya laporan serangan rudal yang dilancarkan oleh Iran ke Kuwait dan Bahrain. Selain itu, serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm di Iran, yang lokasinya berdekatan dengan Selat Hormuz, turut menambah kekhawatiran investor.

Di sisi lain, Israel juga dilaporkan tengah memperluas operasi militernya di wilayah Lebanon bagian selatan. Fokus serangan mereka ditujukan pada area-area yang dikuasai oleh Hizbullah.

Sementara itu, di Amerika Serikat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang saat ini dikuasai oleh Partai Republik telah menyetujui sebuah resolusi. Resolusi ini bertujuan untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam melanjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, agar resolusi ini dapat berlaku, diperlukan persetujuan dari Senat.

Lebih lanjut, agar resolusi tersebut bisa mengesampingkan potensi veto dari presiden, diperlukan dukungan mayoritas dua pertiga suara dari kedua kamar parlemen.

Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan, khususnya laporan non-farm payrolls, yang dijadwalkan akan diumumkan pada hari Jumat, menjadi perhatian utama.

Lonjakan Harga Minyak Mentah

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti adanya kekhawatiran yang semakin meningkat di pasar mengenai dampak dari lonjakan harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak ini diperkirakan akan membebani fiskal dan sektor eksternal Indonesia.

Menurut analisis Ibrahim, harga minyak yang terus merangkak naik berpotensi mendorong defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) mendekati batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, neraca perdagangan juga diperkirakan akan mengalami tekanan.

Pasar juga mencermati kemungkinan adanya peningkatan intervensi dari pemerintah di sektor komoditas. Ditambah lagi, belum adanya kepastian mengenai status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) turut menambah ketidakpastian.

Data perdagangan untuk bulan April menunjukkan bahwa surplus neraca perdagangan mulai mengalami penyusutan. Hal ini disebabkan oleh kenaikan nilai impor minyak yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan nilai ekspor.

Sementara itu, tingkat inflasi pada bulan Mei tercatat mengalami kenaikan menjadi 3,08 persen. Angka ini telah melampaui titik tengah target inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). Kenaikan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh lonjakan harga barang-barang impor.

Sentimen lain yang turut diperhatikan adalah pemeringkatan yang diberikan oleh Moody’s Ratings kepada PT Danantara Investment Management. Lembaga pemeringkat tersebut memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note yang akan diterbitkan oleh perusahaan tersebut.

Outlook Negatif Moody’s

Meskipun demikian, Moody’s menetapkan prospek (outlook) negatif terhadap peringkat yang diberikan kepada Danantara Investment Management. Penilaian negatif ini mencerminkan adanya keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, serta Pemerintah Indonesia yang merupakan pemegang saham penuh.

Terkait dengan prospek negatif tersebut, Moody’s menilai bahwa peringkat ini didasarkan pada kaitan yang erat antara Danantara Investment Management, BPI Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemilik tunggal Danantara.

Ibrahim menjelaskan bahwa dalam jangka panjang, peringkat Danantara Investment Management kemungkinan akan mengikuti pergerakan peringkat sovereign (peringkat negara) Indonesia. Jika peringkat sovereign Indonesia mengalami pelemahan, maka peringkat Danantara Investment Management pun berpotensi mengalami penurunan.

Berdasarkan analisis yang ada, Ibrahim memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya akan tetap bergerak dalam tren yang fluktuatif. Namun, ia memprediksi rupiah berpotensi ditutup melemah dengan kisaran pergerakan antara 18.050 hingga 18.120 per dolar AS.